HomeCelotehMengapa Pak Anies Makin Keras?

Mengapa Pak Anies Makin Keras?

Kecil Besar

“Sekarang tutup kantornya dan nanti langsung akan diproses, dan katakan pada semua (karyawan) pulang! Taati aturan”. – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta


PinterPolitik.com

Jadi pemimpin di masa-masa sulit seperti sekarang ini emang gampang-gampang susah. Bukannya gimana-gimana, pandemi Covid-19 memang berdampak pada hampir semua sektor kehidupan.

Apalagi saat ini angka pasien Covid-19 sedang tinggi-tingginya di Indonesia. Kebayang nggak tuh pusingnya presiden, gubernur, bupati, dan jajaran pemerintah lainnya.

Hal inilah yang sepertinya terlihat dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Beberapa minggu terakhir ini akhirnya tampak juga sisi lain Pak Anies. Biasanya kan Pak Anies identik dengan citra politik yang lembut dan pendekatan kebijakan persuasif. Kini doi memperlihatkan sisi kerasnya.

Baca Juga: Jokowi dan Siasat Ideologis Biden di Asia

Yang terbaru tentu saja adalah aksi marah-marahnya ketika mendapati beberapa perusahaan yang tetap mengambil kebijakan Work From Office alias WFO saat telah ada kebijakan PPKM Darurat yang mewajibkan karyawan di sektor non-esensial untuk Work From Home alias WFH.

Nggak heran amarah doi langsung memuncak. Ibaratnya bos-bos yang marah pada bawahan, begitulah yang terjadi. Wih, ngeri juga kalau Pak Anies marah-marah. Kirain cuma Pak Ahok doang yang identik dengan marah-marah. Hehehe.

Tapi, pendekatan dengan sikap keras yang demikian agaknya memang harus diambil. Lha iya, biar masyarakat tertib ya mau nggak mau harus gitu. Ibaratnya pemerintah kudu bisa juga jadi preman.

Ngomongin soal preman, ternyata Pemprov DKI Jakarta juga menjalankan peran itu secara tidak langsung. Dalam konteks positif loh ya ini.

Biasanya kan preman identik sama aksi palak-memalak. Nah, beberapa hari lalu ada pengakuan menarik dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria yang menyebut Pemprov DKI Jakarta berkirim surat ke sejumlah kantor duta besar di Jakarta guna menggalang donasi bantuan penanganan Covid-19.

Baca juga :  Anies dan Koleksi Pion Riyadh

Pengakuan ini merespons sebuah salinan surat berkop Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang beredar. Surat itu berbahasa Inggris dan ditujukan untuk kantor duta besar di Jakarta berisi permintaan donasi bantuan Covid-19.

Wagub bilang bahwa surat itu sebetulnya bukan hanya ditujukan untuk kantor dubes, melainkan semua perkantoran swasta di Jakarta. Ini agar penanganan pandemi bisa dilakukan bersama. Permintaan donasi ini disebut terkait upaya mengisi perabotan di Rusun Nagrak Cilincing, Jakarta Utara yang diketahui baru dibuka sebagai tempat isolasi terpusat pasien Covid-19.

Hmm, berasa kan ala-ala premannya di mana? Iyes, minta donasi alias memalak. Hehehe. Tapi, ini emang harus dilakukan sih. Soalnya, udah pasti pemerintah saat ini mengalami keterbatasan anggaran, sehingga harus mencari sumbangan.

Apalagi, kondisi saat ini udah berasa kayak di zaman perang. Wong negara seperti Amerika Serikat saja, ketika akan Perang Dunia II, pemerintahnya “malakkin” dan menarik sumbangan dari masyarakat bahkan dari sekitar 90 persen masyarakat AS. Selain pajak, juga berupa sumbangan langsung lewat pesan-pesan patriotik.

Hmm, semoga deh pandemi kali ini bisa cepat selesai. Biar semuanya bisa kembali seperti semula. Amin. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

► Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

Keluarga Fahri ‘Terlatih’?

“Dengan modal keberanian dan teror saja, tak banyak yang bisa dicapai dalam kehidupan modern begini.” ~ Pramoedya Ananta Toer PinterPolitik.com Sempat disebut sebagai politikus independen, Wakil...

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.