HomeNalar PolitikPartai Buruh Butuh Trilogi Kekuatan

Partai Buruh Butuh Trilogi Kekuatan

Kecil Besar

Narasi kebangkitan Partai Buruh di Pemilu 2024 tengah menjadi pembahasan hangat. Namun, jika melihat sejarah, Partai Buruh tidak pernah menancapkan kesuksesan di gelanggang politik Indonesia. Mengapa ini terjadi? Apa resep yang dibutuhkan Partai Buruh agar dapat menjadi pemenang?


PinterPolitik.com

โ€œKontrol atas pengetahuan merupakan puncak perjuangan seluruh dunia di masa depan demi kekuasaan pada setiap institusi manusia.โ€ โ€“ Alvin Toffler, buku Powershift

Sejak dulu, buruh selalu menjadi elemen penting pergerakan sosial. Ini misalnya banyak dicatat dari Revolusi Prancis yang melahirkan semboyan liberte, egalite, fraternite. Kebebasan, kesetaraan, persaudaraan. 

Sampai saat ini, kekuatan buruh selalu menjadi perbincangan politik, khususnya menjelang kontestasi elektoral, tidak terkecuali di Indonesia. Bukan tanpa alasan kuat, per Februari 2021, angkatan kerja di Indonesia mencapai 139,81 juta jiwa. 78,14 juta bekerja di sektor informal, dan 61,67 juta sisanya di sektor formal. 

S. Al Ayubi dalam tulisannya Di Balik Deklarasi Partai Buruh, menyebut besarnya jumlah angkatan kerja di Indonesia berbanding lurus dengan banyaknya jumlah organisasi buruh. Setidaknya terdapat 7.000 serikat buruh dengan hampir 3 juta anggota serikat. 

Dengan jumlah massa sebesar itu, sulit membayangkan jika partai politik dan politisi tidak mendekati buruh di setiap pemilu. Sadar posisinya begitu seksi, tahun ini deklarasi Partai Buruh kembali dihelat  dalam Kongres Partai Buruh pada 4-5 Oktober 2021 di Jakarta. 

Presiden Terpilih Partai Buruh, Said Iqbal menyebut Partai Buruh sudah memiliki kepengurusan dan anggota dari tingkat nasional hingga kecamatan, yang mana ini merupakan syarat utama berdirinya partai politik. 

Lantas, dengan massa sebesar itu, apakah Partai Buruh akan memainkan peran di Pemilu 2024?

Mampu Bersatu?

Terkait peluang Partai Buruh, ada komentar penting dari Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi. Menurutnya, Partai Buruh dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang telah jenuh dengan partai politik yang sudah ada. 

S. Al Ayubi juga menilai, di tengah kekecewaan publik yang begitu mendalam terhadap sepak terjang partai politik, Partai Buruh dapat memainkan peran untuk memberi harapan baru atas perpolitikan yang tidak lagi dikuasai oleh para elite.

Namun, ada catatan penting dari Haidar Alwi. Kendati memiliki peluang dan potensi yang besar, Partai Buruh selalu gagal menjadi pemenang karena suara mereka tidak bersatu, dan terpecah-pecah akibat konflik internal dalam tubuh gerakan buruh itu sendiri. 

Senada dengan Haidar, Jeffrey A. Winters dalam tulisannya yang berjudul The Political Economy of Labor in Indonesia juga menyebut gerakan buruh kerap mengalami kekalahan sejak era Hindia Belanda karena selalu mengalami perpecahan. Pada era pemerintahan Soeharto, misalnya, hadirnya Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dinilai memecah gerakan buruh karena dianggap memiliki afiliasi yang dekat dengan pemerintah.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Teri L. Caraway dan Michele Ford dalam buku Labor and Politics in Indonesia menambahkan, alasan di balik tidak bersatunya gerakan buruh karena kelompok-kelompok buruh cenderung membentuk kesepakatan-kesepakatan dengan pejabat-pejabat eksekutif yang terpilih. 

Caraway dan Ford juga menyebutkan beberapa faktor yang membuat gerakan dan politik buruh lemah di Indonesia. Di antaranya adalah minimnya partai politik yang secara kuat pro terhadap gerakan buruh, minimnya kemauan kelompok-kelompok buruh untuk berkoordinasi, dan banyak kelompok buruh yang enggan memobilisasi anggota-anggota untuk kepentingan elektoral.

Terkait kesulitan gerakan buruh untuk bersatu, ada penjelasan penting dari Francis Fukuyama dalam bukunya Memperkuat Negara: Tata Pemerintahan dan Tata Dunia Abad 21. Menurutnya, alasan di balik perpecahan organisasi adalah karena rentannya anggota organisasi mengalami ambiguitas tujuan.

Mengutip teori Herbert Simon tentang satisficing, Fukuyama menyebut tujuan organisasi sebenarnya tidak pernah hadir secara jelas, namun muncul sebagai hasil dari berbagai interaksi para pelaku organisasi. Meskipun terdapat tujuan tertulis, misalnya untuk menciptakan keadilan sosial, terdapat perbedaan persepsi antar anggota organisasi tentang bagaimana tujuan tersebut dapat dicapai.

Menurut Fukuyama, ini terjadi karena individu-individu dalam organisasi memiliki rasionalitas yang terbatas dan berbeda. Ini tidak dalam pengertian individu tersebut โ€œbodohโ€, melainkan karena individu memiliki penafsiran yang berbeda atas suatu peristiwa.

Contohnya bisa dilihat dari perpecahan gerakan Feminisme di Amerika Serikat (AS). Kendati memiliki tujuan yang sama, yakni ingin mewujudkan kesetaraan gender, gerakan-gerakan yang ada justru terpecah karena memiliki penafsiran yang berbeda tentang bagaimana tujuan tersebut dapat dicapai. Feminis Liberal, misalnya, menilai kesetaraan gender akan didapat melalui kesetaraan hak politik. Namun, Feminis Marxis justru lebih menitikberatkan pada kesetaraan hak ekonomi.

Bertolak dari penjelasan Fukuyama, jika ingin berbuat banyak, Partai Buruh memiliki tugas berat untuk menyamakan rasionalitas setiap anggotanya. Ini jelas PR yang begitu berat.

Namun, jika sedikit berspekulasi, katakanlah Partai Buruh dapat menyatukan suara ribuan serikat buruh, apakah itu dapat menjadi jaminan kemenangan? 

Trilogi Kekuatan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat menggunakan buku Alvin Toffler yang berjudul Powershift. Menurut Toffler, kekuatan/kekuasaan (power) termanifestasi ke dalam tiga bentuk, yakni mindmoney, dan muscleMind adalah pikiran, gagasan, atau kecerdasan. Money adalah kekuatan logistik, serta segala bentuk hal yang dapat dibeli dan diproduksi menggunakan kapital. Sementara muscle atau otot adalah massa. Muscle juga dapat ditafsirkan sebagai kekerasan.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Ketiga bentuk kekuatan tersebut saling berkelindan dan dapat kita gambarkan dalam diagram berikut:

Namun yang menarik, menurut Toffler terjadi pergeseran karena setiap bentuk kekuatan memiliki kualitas yang berbeda. Ini membuat ketiganya tidak berdiri secara sejajar seperti diagram di atas, melainkan berbentuk piramida sebagai berikut:

Menurut Toffler, massa adalah bentuk kekuatan dengan kualitas paling bawah karena massa dapat bergerak apabila memiliki dukungan logistik. Bagi mereka yang pernah turun menjadi demonstran sekiranya memahami bahwa mutlak bagi gerakan massa memiliki sokongan logistik di baliknya.

Nah, yang berdiri di balik pemberi logistik tersebut adalah aktor intelektual, yakni mereka yang menggerakkan dan mendesain aksi massa. Ini membuat Toffler menempatkan mind sebagai kualitas kekuatan yang tertinggi. 

S.A. Hamed Hosseini dalam tulisannya Activist Knowledge juga menjelaskan, activist knowledge (pengetahuan aktivis) merupakan dimensi penting dalam memahami, mengonseptualisasikan, menjelaskan, dan menganalisis pengalaman praktik-praktik sosial.

Dalam hal ini, sebuah gerakan perlu memiliki proses transformasi kesadaran sosial dan pengetahuan akan gerakan itu sendiri. Gerakan hak sipil di AS pada tahun 1960-an, misalnya, banyak didorong oleh peran dan gagasan dari tokoh intelektual seperti Martin Luther King, Jr.

Bukan tidak mungkin, proses pembentukan knowledge yang sentral seperti ini belum dapat terbentuk dalam politik buruh Indonesia. Bisa jadi, tidak bersatunya gerakan buruh di Indonesia disebabkan oleh minimnya activist knowledge yang dimiliki. 

Di titik ini, mungkin dapat dikatakan, sejauh ini kekuatan utama Partai Buruh adalah muscle atau massa. Mengacu pada Toffler, untuk menjadi penguasa, Partai Buruh mutlak memiliki dukungan finansial yang besar (money) dan memiliki aktor intelektual (mind) yang hebat di belakang layar. 

Konteks ini dapat dilihat dari kesuksesan Partai Buruh di Australia yang memiliki banyak sosok intelektual di belakangnya. Bayangkan saja, dari 30 Perdana Menteri (PM) di Australia, 15 diantaranya berasal dari Partai Buruh. 

Sebagai penutup, ada dua catatan yang harus diperhatikan Partai Buruh jika ingin bersuara di Pemilu 2024. Pertama, mereka harus mampu menyatukan suara terlebih dahulu. Jangan sampai gerakan buruh karam sebelum sempat berlabuh. 

Kedua, jika sudah mampu menyatukan suara, Partai Buruh butuh melengkapi trilogi kekuatan dengan dukungan finansial yang besar dan aktor intelektual yang hebat.

Kita lihat saja apakah Partai Buruh mampu mewujudkan dua catatan tersebut atau tidak. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

โ–บ Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...