HomeNalar PolitikCuit AA Gym, Upaya Eksis?

Cuit AA Gym, Upaya Eksis?

Kecil Besar

AA Gym, ulama kondang negeri menghebohkan dunia maya karena mengecam video kampanye Ahok. Menurutnya, video yang dibagikan oleh Ahok tersebut mengandung fitnah keji dan kotor.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]C[/dropcap]uitan sang ulama, bertahan dalam deretan trending topic Twitter pada Senin (10/04) malam hingga selasa pagi. Hal tersebut membuat tagar #KampanyeAhokJahat ikut populer. Video yang dimaksud oleh AA Gym dalam cuitan yang ‘dikicaukan kembali’ atau retweet ribuan kali tersebut adalah video kampanye Pilkada Jakarta dari pasangan Ahok-Djarot.

Dalam satu adegannya, terdapat kelompok pemuda berpeci dan bersorban, membawa spanduk bertuliskan “Ganyang Cina”. Simbol peci dan sorban yang lekat dengan Muslim tersebut sontak saja membuat AA Gym ‘gemas’, tak sedikit pula yang setuju dengannya.

Berikut adalah video kampanye #beragamituBasukiDajrot yang jadi sorotan AA Gym.

Lebih jauh lagi, video tersebut sudah dilaporkan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ke Bareskrim (Badan Reserse Kriminal) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) dengan alasan menyalahi aturan kampanye.

“Yang dipersoalkan adalah potongan gambar berdurasi lima detik yang menggambarkan beberapa orang berpeci hitam dan putih sedang berdemo, dengan latar belakang spanduk putih bertuliskan ‘ganyang Cina’” jelas anggota ACTA, Novel Bamukmin. Ia melanjutkan bahwa ide keberagaman itu bagus, tapi menurutnya bisa tanpa gambar tersebut.

Pelaporan ini menambah daftar kasus Ahok tersandung kasus pelecehan agama sesudah peristiwa QS. Al Maidah 51, yang hingga detik ini masih terus berjalan.

AA Gym, Sempat Hilang dan Kembali

AA Gym atau yang memiliki nama lengkap Abdullah Gymnastiar, merupakan pendakwah, pengusaha sekaligus pemilik pondok pesantren Da’arut Tauhid. Lahir di Bandung, 29 Januari 55 tahun yang lalu. Berbeda dengan kebanyakan ulama yang menempuh jalur pendidikan keagamaan sejak dini sebagai pendakwah, AA Gym ternyata lebih lama menempuh sekolah konvensional yakni di ITB jurusan Teknik Elektro, lalu di Universitas Jendral Ahmad Yani (Unjani). Setelah lulus, barulah ia menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Mangonjaya yang terletak di Tasikmalaya.

Sebelum memulai karir di televisi, ia terlebih dulu mendirikan usaha Pondok Pesantren dan penerbitan buku. Namanya mulai akrab di telinga masyarakat, di saat ia membahas keutamaan keluarga, dan ulama lain membahas keutamaan berpuasa dan shalat. Dengan demikian, ia lekat dan didaulat oleh penggemar dan masyarakat sebagai Ustadz  Keluarga Bahagia.

Perlahan namun pasti, pamornya redup seiring keputusannya berpoligami dengan Alfarini Elridani pada tahun 2006. AA Gym sudah memiliki istri bernama Hajjah Ninih Muthmainah yang dinikahi sejak tahun 1988 dan memberinya tujuh orang anak.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Keputusan berpoligaminya seakan menjadi sebuah kontroversi tersendiri bagi dirinya. Selain nama yang meredup, bisnisnya yang berkembang pesat dalam dua tahun tersebut, lesu seketika. Masyarakat juga tidak antusias lagi mendatangi pengajiannya, hingga jamaahnya terus menyurut hingga 70 persen. Tentu saja penampilan di televisi juga tidak lagi sesering dahulu.

Poligami yang dilakukannya, selain mampu membuat bisnisnya redup juga mendorong banyak aksi massa turun jalan mengecam poligami. AA Gym mengaku dalam sebuah wawancara dalam Kick Andy tahun 2007 bahwa ada beberapa pihak mengiriminya pesan singkat dan surat menyatakan kekecewaannya berpoligami.

Kini, setelah beberapa tahun tak terlihat di berbagai media massa, AA Gym ‘kembali’ ke masyrakat. Lewat media sosial Twitter, ia aktif memberikan respon terkait politik, mempromosikan acara keagmaan yang dipimpinnya, hingga memberi kultum singkat. Lewat Twitter pula ia menyapa masyarakat yang dulu meninggalkannya atau mereka yang benar-benar baru mengenalnya.

Sang Ulama dalam Pusaran Pilkada Jakarta

Dalam pusaran Pilkada Jakarta, AA Gym memang menunjukan beberapa sikap bertolak pada Ahok. Hal tersebut seringkali diutarakannya pada cuitan-cuita Twitter.  Selain kritiknya terhadap video kampanye #beragamituBasukiDjarot, bulan Februari lalu, dalam akun Twitternya ia mengunggah foto banjir dengan kapsi, “Innalillahi, Jakarta banjir lagi, semoga nanti Ada pemimpin Jakarta yang rendah hati, tak ujub takabur merasa sudah banyak berbuat”

Cuitan ini membuatnya menjadi bulan-bulanan netizen karena foto yang disertakannya adalah foto tahun 2015, bukan yang terjadi saat itu. Tidak hanya itu, cuitan terdahulunya pada 10 Februari, mengunggah foto Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono bergandengan tangan dalam sebuah acara keagaaman yang dipimpinnya.

Ia mengajak sesama muslim berdoa untuk NKRI yang dicintai. Ia memang tidak pernah mengeluarkan pernyataan mendukung kubu Anies ataupun Agus, yang saat itu masih ikut berlaga dalam Pilkada Jakarta, namun jelas bahwa ia menghendaki pemimpin muslim yang akan menjadi orang nomor satu Jakarta.

Hal tersebut terbukti dari hadirnya AA Gym dalam aksi damai 212 di Monas pada bulan Desember 2016 lalu. Tidak cukup sendiri saja, ia juga mendatangkan 10.000 santrinya dari Daarut Tauhid, Bandung.

AA Gym memberi ceramah dalam aksi tersebut yang berisi agar dapat memperbaiki diri dari kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, “Kita sibuk membahas kata-kata tak baik, tapi kalau kita tidak bicara baik itu percuma.”

Cuit AA Gym, Upaya Eksis?
AA Gym dalam aksi damai Bela Islam 411 (foto: Liputan6)

Keterlibatannya dalam pusaran politik, tidak hanya ditunjukan dalam cuitan dan aksi damai saja, di Bandung ia turut menghadiri Apel Besar Nusantara Bersatu pada November 2016. Acara yang digagas oleh Panglma TNI Gatot Nurmantyo ini, memang mengundang tokoh agama dan masyarakat, serta budayawan. Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat kepada NKRI, begitu ungkap Nurmantyo. Dalam acara ini, AA Gym tak tanggung-tanggung datang menunggangi kudanya.

Baca juga :  Anies dan Koleksi Pion Riyadh
AA Gym dalam Apel Besar Nusantara (foto: Detik)

Bermain-main dengan SARA

Video yang dipermasalahan AA Gym dan pendukungnya, menurut Eva Sundari, salah satu tim sukses Ahok-Djarot, nyatanya malah menggambarkan realitas-realitas yang divisualkan. “Ahok dan para pendukungnya adalah korban politisasi SARA.”

Lebih lanjut lagi, Eva berbicara, “intimidasi dan kekerasan itu realitas. Situasi lapangan selama Pilkada merupakan pengalaman pahit bagi kita, bagaimana Jakarta terobek isu SARA.” Contoh yang sering ditemui oleh tim pemenangan Ahok adalah kasus penistaan agama yang menimpanya dan spanduk ‘Ganyang Cina’ yang ditemukan dalam sebuah unjuk rasa.

Tb. Aceh Hasan Syadzily, sekretaris Tim Pemenangan Ahok-Djarot menyebut spanduk tulisan ‘Ganyang Cina’ memang pernah muncul dalam sebuah demonstrasi di Indonesia. “Lho, itu kan sebetulnya waktu beberapa kesempatan yang lalu, ada pihak-pihak yang mencoba untuk terus mengkampanyekan terhadap anti keberagaman, itu ada kok spanduk aslinya itu ada,” ujarnya pada Senin (10/04).

Bukan Fitnah, Namun Tak Etis

Jika kembali pada sikap protes AA Gym, tentu saja hal tersebut wajar diutarakan. Penampakan kelompok berpeci dan bersorban dalam video kampanye Ahok tidaklah etis. Dalam peraturan KPU Tahun 2015 pasal 19 yang membahas Materi Kampanye, poin keempat menyebutkan bahwa materi kampanye harus bijak dan beradab, yakni tidak menyerang pribadi, kelompok, golongan, atau pasangan calon lain.

Dibandingkan dengan sebutan fitnah keji dan kotor, video kampanye Ahok lebih bernilai tidak etis karena menampilkan kelompok berpeci dan bersorban yang simbolnya lekat dengan Muslim. Penggambaran tersebut seakan menyerang kelompok muslim tertentu. Di sisi lain, peristiwa kelompok berpeci dan bersorban membawa spanduk bertuliskan ‘Ganyang Cina’ benar terjadi pada saat aksi dama Bela Islam 411 pada (4/11/2016) lalu.

Lalu, apa keuntungan AA Gym ikut berkelindan dalam kontestasi politik DKI Jakarta? Ia adalah warga Bandung, yang secara langsung tidak akan merasakan pengaruh pemerintahan baik Ahok atau Anies, yang terpilih sebagai gubernur Jakarta nanti. Namun, tentu saja, dirinya berhak secara penuh mengikuti dan ikut mengkhawatirkan perkembangan Pilkada DKI Jakarta.

Melihat berbagai elemen kelompok Islam saat ini mulai mulai memasuki jalur politik formal maupun non-formal, tentu respon AA Gym terhadap Pilkada DKI Jakarta yang kerap diutarakannya melalui media sosial memiliki kepentingan dan agenda tersendiri. Dengan kata lain, bisa saja kepentingan oligarki ekonomi politik menjadi sumbu AA Gym, ikut larut dalam riuh rendah Pilkada DKI Jakarta. Inilah cara terdekatnya dirinya untuk tetap menjangkau masyarakat setelah menghilang karena keputusannya berpoligami. (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....