HomeNalar PolitikAhok – Anies Saling Jiplak Program?

Ahok – Anies Saling Jiplak Program?

Kecil Besar

Saling sindir program, saling membantah, senegatif apa pun selama terkait dengan program, sah-sah saja. Demokrasi dianggap matang ketika dipenuhi kampanye negatif tidak terkait sentimen SARA, tetapi program.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]A[/dropcap]jang Pilkada DKI 2017 putaran kedua kali ini diramaikan oleh aksi saling jiplak program antara pasangan Ahok dan Djarot dengan Anies – Sandi, keduanya pun sama – sama saling melemparkan sindiran. Ahok mengatakan bahwa semua program – program yang ia bawa selama kampanye merupakan program yang sudah ia kerjakan selama menjadi kepala daerah DKI Jakarta. Sementara Anies merasa bahwa ada beberapa programnya yang dicontek oleh Ahok dan dibuat seakan – akan itu programnya.

“Memang kalau ide bagus itu sering ditiru yah. Jadi warga Jakarta, inilah contoh bahwa anda nanti akan nyaksikan ide – ide baru, ide – ide original yang bermanfaat buat warga Jakarta,” ujar Anies.

Anies tidak mempermasalahkan jika ide dan gagasannya tersebut ditiru. Bahkan hal tersebut menjadi pesan kepada warga Jakarta bahwa Anies – Sandi mampu melahirkan terobosan untuk warga Jakarta.

Mengetahui dirinya “diserang”, Ahok pun membalas tudingan Anies. Menurut Ahok, semua program segar yang dipaparkannya kepada publik memang selalu dituding Anies adalah sebuah tiruan. “Mana ada sih program asli Ahok – Djarot. Semua kan program orang kata (milik) pasangan nomor tiga,” ucapnya sembari terkekeh di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Ahok pun heran, menurutnya Anies dan Sandiaga Uno gemar mengklaim bahwa program miliknya merupakan jiplakan dari pasangan nomor urut tiga itu. Oleh karena itu, dia hanya menyerahkan kepada warga Jakarta menilai apakah programnya merupakan plagiat dari pasangan lain atau tidak.

Keduanya seakan tidak mau mengalah dan saling merasa dirinyalah yang memiliki program tersebut, siapakah sebenarnya yang menjiplak?

Program Rebutan Ahok – Anies

Salah satu syarat agar dilirik oleh masyarakat dalam Pilkada haruslah memberikan program – program kerja yang  menarik agar masyarakat tidak seperti membeli kucing dalam karung dalam menentukan pemimpin baru mereka.

Kisruhnya aksi saling klaim program antara Ahok dan Anies ini seakan memberikan tontonan baru lagi kepada masyarakat. Apa saja program yang sedang diperebutkan oleh kedua belah kubu? Inilah beberapa contohnya,

Tunjangan Untuk Lansia

Ahok – Anies Saling Jiplak Program

Dalam mengurusi para lansia di Jakarta, Ahok – Djarot berencana meluncurkan program untuk membantu para lansia yang diberi nama Kartu Jakarta Lansia (KJL) sebelum masa jabatannya berakhir. KJL akan diluncurkan tahun ini oleh Ahok-Djarot setelah masa cuti kampanyenya selesai.

Baca juga :  Politik Lucky Number Prabowo

Kartu yang nantinya dibuatkan khusus untuk para lansia yang hidup serba kekurangan atau pun lansia yang tidak lagi diurusi sanak keluarga. Anggaran yang akan digunakan untuk KJL adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan DKI 2017. Bantuan untuk lansia dari keluarga tidak mampu atau yang hidup sendiri adalah Rp 600 ribu setiap bulan.

Program kartu ini pun dipermasalahkan oleh Anies, ia mengklaim bahwa program KJL ini sudah masuk ke dalam 23 rencana kerjanya dan Sandiaga apabila terpilih sebagai Gubernur dan Wagub DKI. Janji yang diberikan oleh pasangan yang diusung oleh dua parpol itu adalah memberikan tunjangan sebesar Rp 300 ribu per bulan bagi warga lansia.

OK OCE dan Jakarta Creative Hub

Jika sebelumnya Sandiaga Uno sejak kampanye selalu mengkampanyekan program untuk menyelesaikan permasalahan kewirausahaan para warga Jakarta yang bernama “OK OCE”. Dalam rencananya, Sandi akan menciptakan lapangan pekerjaan di bidang jasa, perdagangan, serta sektor yang berkaitan dengan barang konsumsi.

Namun sebelumnya, Sandi akan mendidik terlebih dahulu warga Jakarta agar bisa memastikan bahwa mereka siap masuk ke dalam job market yang tadi sudah disebutkan.

Sementara itu dilain sisi, Ahok telah mendirikan dan meresmikan pusat industri kreatif bernama Jakarta Creative Hub (JCH). Konsep antara JCH dan Ok – Oce dinilai kurang lebih sama, yakni pengembangan industri kreatif anak muda. Dituding menjiplak, Ahok pun membantah jika program JCH meyontek program andalan cawagub Sandiaga Uno itu.

Ahok tidak menampik bahwa OK OCE lebih dikenal dikalangan masyarakat dari pada JCH, namun dalam idenya, JHC adalah OK OCE sesungguhnya. Ahok mengaku ide tersebut datang dari keluhan para pengusaha muda yang mendapat kantor di Jakarta. Oleh karena itu, Dinas UMKM DKI bersama CSR dari PT Singa Propertindo membangun kantor murah atau kantor pemasaran yang bersubsidi bagi anak muda yang bergerak di industri kreatif seperti desain grafis, membatik, kafe dan film.

Perumahan Rakyat Murah

Anies – Sandi sempat memaparkan program DP hunian tempat tinggal nol rupiah sebagai salah satu program kerja mereka. Jika mengacu pada keterangan di kanal resmi Anies – Sandi, dalam artikel di kanal tersebut dikatakan bahwa program rumah DP nol rupiah adalah kredit murah berbasis tabungan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Namun program DP nol rupiah ini bukan berarti sama sekali tidak ada DP untuk pembelian hunian tempat tinggal di Jakarta. Tapi ada mekanisme pengganti syarat DP yang dianggap memberatkan, yaitu dengan konsistensi perilaku menabung selama beberapa bulan.

Baca juga :  Indonesia: "Lone Wolf" Penyelamat Iklim?

Menanggapi program Anies yang dituding membohongi masyarakat dengan embel – embel DP nol rupiah, Ahok menganggap Anies kembali lagi mencuri idenya. Ide rumah murah tersebut sudah dilaksanakan Ahok dengan membuat rusun, bahkan Ahok pun membuat 4 skema tentang hunian tersebut sebagai berikut,

KJP dan KJP+

Kartu Jakarta Pintar, menjadi salah satu program andalan kedua calon mengenai pentingnya pendidikan. Walaupun namanya hampir sama, namun ada sedikit perbedaan antara keduanya. Jika KJP milik Ahok hanya diberikan kepada anak – anak yang masih sekolah namun tidak mampu membayar iuran dan membeli perlengkapan sekolah, berbeda dengan KJP+ yang menurut Anies akan diberikan kepada semua anak-anak di Jakarta baik yang masih sekolah maupun yang putus sekolah.

Jika dilihat dari program-program yang dilemparkan oleh kedua cagub kepada masyarakat, program manakah yang kira-kira paling realistis?

Menurut pengamat tata kota, Yayat Supriatna, program dua calon gubernur DKI Jakarta soal tata kota adalah yang paling realistis. Yayat menambahkan dua kandidat itu menguasai lapangan dan realistis. Namun, menurutnya ibu kota dinilai tak perlu rencana baru saat ini, yang perlu dilakukan di Jakarta adalah memperbaiki persoalan Jakarta secara realistis.

Elektabilitas Terbaru Ahok – Anies di Mata Masyarakat

Aksi saling jiplak menjiplak program menjadi salah satu suguhan drama yang disajikan pada Pilgub DKI kali ini. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, perdebatan soal jiplak menjiplak program dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan suatu hal yang sehat di dunia politik.

“Menurut saya itu sehat, ini sudah masuk substansi tiru meniru program,” kata Yunarto

Menurutnya dalam sebuah demokrasi, melanjutkan atau meniru program yang dianggap baik untuk masyarakat bukanlah sesuatu yang salah. Karena yang dilihat adalah efektifitas program dan target sasaran.

“Saling sindir program, saling membantah, senegatif apa pun selama terkait dengan program, sah-sah saja. Demokrasi dianggap matang ketika dipenuhi kampanye negatif tidak terkait sentimen SARA, tetapi program,” tambahnya.

Bagaimana elektibilitas terbaru kedua calon dimata masyarakat?

Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survey terbaru terkait dengan elektabilitas Ahok – Djarot dan Anies – Sandi di Pilgub DKI 2017. Hasilnya, tingkat kepuasan warga terhadap Ahok tinggi, namun elektabilitas Anies unggul. (A15)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Bukti Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”

PinterPolitik.com mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 Tahun, mari kita usung kerja bersama untuk memajukan bangsa ini  

Sejarah Mega Korupsi BLBI

KPK kembali membuka kasus BLBI yang merugikan negara sebanyak 640 Triliun Rupiah setelah lama tidak terdengar kabarnya. Lalu, bagaimana sebetulnya awal mula kasus BLBI...

Mempertanyakan Komnas HAM?

Komnas HAM akan berusia 24 tahun pada bulan Juli 2017. Namun, kinerja lembaga ini masih sangat jauh dari harapan. Bahkan desakan untuk membubarkan lembaga...