HomeNalar PolitikCrazy Rich Indonesia Dukung Jokowi?

Crazy Rich Indonesia Dukung Jokowi?

Kecil Besar

Para pengusaha dan konglomerat Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan bantuan ekonomi secara cepat kepada masyarakat yang membutuhkan di tengah pandemi Covid-19. Lantas, sejauh mana peran dan kontribusi para crazy rich Indonesia tersebut kala dimaknai sebagai upaya membantu pemerintah saat ini?


PinterPolitik.com

Publik tentu sulit untuk memaafkan kelakuan seorang youtuber di Bandung bernama Ferdian Paleka yang menjadikan ajang saling membantu kala pandemi Covid-19 sebagai sebuah lelucon. Terlebih, ketika subjek konten prank yang tersebut ialah para transpuan.

Dinamika isu ini terus bergulir dan menarik berbagai respon lanjutan, bahkan hingga ke mancanegara. Media asal Inggris, Mirror, bahkan dua hari lalu menyoroti perilaku tidak terpuji Ferdian terhadap para transpuan dan menggunakan morfem “bencong” di dalamnya.

Tentu ekspos internasional tersebut bukanlah hal yang biasa saja. Perilaku kebablasan ingin eksis tersebut justru dinilai membuat citra gerakan bantuan sosial di Indonesia tercoreng dan bahkan membuat ruang penafsiran dan tendensi minor yang baru.

Hal yang melegakan dan sangat konstruktif untungnya diperagakan oleh berbagai kalangan di tanah air setelahnya. Alih-alih larut mengutuk perbuatan tercela Ferdian Paleka, beberapa pengusaha kaya atau bisa disebut sebagai crazy rich Indonesia meresponnya dengan pemberian bantuan dengan bumbu sensasi menarik tersendiri.

Publik agaknya masih ternganga dengan aksi sebar “bantuan mewah” kepada kaum marjinal dengan menuggangi Porsche Boxter 981 ala Tom Liwafa, pengusaha muda asal Surabaya.

Sementara di Yogyakarta, ada srikandi pengusaha asal Yogyakarta bernama Yuni Astuti yang membagikan sejumlah uang dan bingkisan kepada masyarakat membutuhkan di sepanjang jalan protokol kota dari celah sunroof Hummer H3 miliknya.

Ketika mengkonfirmasi kepada khalayak, tujuan keduanya senada yakni untuk memperbaiki citra pemberian bantuan yang sempat dinilai minor akibat oknum yang menjadikan aksi mulia itu sebagai prank di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, kegiatan sosial mereka ini sebenarnya telah biasa dilakukan sebelumnya dan akan terus mereka intensifkan saat pandemi Covid-19 ini.

Lalu dari level yang sedikit berbeda, para crazy rich legendaris atau konglomerat Indonesia pun tak ketinggalan memberikan kontribusi. Gerakan Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) di DKI Jakarta mendapat antusias besar dari para konglomerat untuk ambil bagian.

Diketahui para crazy rich ini memberikan sumbangsih materi nyata ke berbagai pesantren, panti asuhan yatim piatu, serta kalangan marjinal lain yang luput dari bantuan pemerintah. Terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri, peran mereka dinilai menghadirkan simpul senyum tersendiri bagi mereka yang tengah kesulitan akibat dampak pandemi Covid-19.

Berangkat dari rangkaian dinamika sosial tersebut, apakah kontribusi para crazy rich dan konglomerat Indonesia saat ini cukup signifikan dalam membantu peran pemerintah yang dinilai semakin kewalahan dalam memberikan bantuan sosial kepada masyarakat?

Peran Laten Konglomerat

Dalam menganalisa sejauh mana peran para crazy rich dan konglomerat Indonesia kala dimaknai sebagai upaya membantu pemerintah saat pandemi Covid-19 ini, pendekatan terbaik yang dapat digunakan ialah terkait aspek sosiologi politik.

David Marshall Smith dalam bukunya yang berjudul “Moral Geographies: Ethics in a World of Difference” mengemukakan konsep ethical cartography yang merupakan pemetaan lanskap berbagai domain moral terhadap konteks berbagai dinamika sosial politik yang ada, di mana kunci diferensialnya ialah “caring about” dan “caring for”.

Berdasarkan konsep Smith tersebut, kontribusi para crazy rich dan konglomerat Indonesia selama pandemi Covid-19 ini dapat dipetakan dari sisi substansi serta implikasi derma yang mereka telah dan akan lakukan.

Sejauh ini, sumbangsih para crazy rich dan konglomerat Indonesia, dengan sumber daya atau resource yang dimilikinya, dapat diterjemahkan sebagai sebuah jawaban signifikan atas problematika dan dinamika sosial politik negeri saat ini.

Jawaban tersebut ialah implementasi sinergi dan uluran tangan kalangan pebisnis untuk saling membantu secara nyata hingga ke “akar rumput”. Lalu, kunci diferensial mengenai caring about dan caring for para crazy rich dan konglomerat tersebut paling tidak dapat terlihat pada tiga hal.

Pertama, kontribusi mereka sejauh ini cukup menambal cela di jaring pengaman sosial pemerintah yang dinilai kurang memadai. Kedua, bantuan sosial para crazy rich dan konglomerat dinilai menutupi adanya diskriminasi dan distorsi bantuan di masyarakat. Ketiga, terdapat pesan moral kuat, baik yang tersirat dan tersurat, atas kontribusi para pengusaha tersebut.

Postulat di atas agaknya memang tepat. Ketika melihat lebih dalam, saat situasi sulit masyarakat semakin genting, hanya bantuan dan kontribusi para crazy rich dan konglomerat dengan resource yang dimilikinya lah yang memiliki daya redam, presisi, dan efektivitas terbaik kala pemerintah mulai tak sanggup atau salah langkah.

Oleh karena itu, pada perspektif berbeda, peran strategis tanpa pamrih para crazy rich dan konglomerat ini dinilai sangat signifikan bagi stabilitas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta kohesivitas masyarakat Indonesia saat ini. Lalu, akankah peran berkesinambungan crazy rich dan konglomerat, secara lebih jauh, dapat “menyelamatkan” pemerintahan Presiden Jokowi dari ambang keterpurukan?

Focal Point Saat Krisis

Jerome Himmelstein dalam bukunya yang berjudul “Looking Good and Doing Good: Corporate Philanthropy and Corporate Power” mengatakan bahwa secara agregat, charity atau bantuan sosial yang dilakukan konglomerat dapat menjembatani hubungan konstruktif antara masyarakat, dunia bisnis, pemerintah, serta lembaga-lembaga sosial lainnya.

Pada konteks serupa yang berdasarkan argumen Himmelstein tersebut, para crazy rich dan konglomerat Indonesia telah secara simultan berperan aktif dalam menyebar beragam bantuan kepada masyarakat terdampak selama pandemi Covid-19.

Bentuk bantuan para crazy rich dan konglomerat Indonesia, dengan kemampuan finansial mumpuninya, pada pandemi Covid-19 ini pun dinilai turut meletakkan kerangka tindakan cepat atau quick action response penanggulangan public health crisis beserta dampak turunannya.

Hal ini dapat terlihat dari beberapa konglomerat yang bersinergi dengan pemerintah dalam menyediakan fasilitas medis tambahan bagi pasien Covid-19. Salah satu diantaranya ialah kala Trans Corp, Salim Group, dan Astra, berkontribusi dan bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk membuka 16 layanan ruang ICU baru untuk menampung pasien Covid-19 di RS Unair Surabaya.

Itu belum termasuk aksi pemilik Mayapada Group, Dato Sri Tahir yang menggelontorkan total Rp 52 miliar yang disebar ke berbagai lembaga keagamaan, lembaga sosial, hingga menyediakan alat sanitasi bagi masyarakat dalam mencegah Covid-19.

Selain itu, sumbangsih para crazy rich dan konglomerat ini juga dinilai masih terus berlanjut ketika tahap pemulihan atau recovery dan rekonstruksi sosial ekonomi masyarakat Indonesia di berbagai daerah mulai dilakukan.

Peran konglomerat dalam menjembatani hubungan konstruktif antara masyarakat, dunia bisnis, pemerintah, serta lembaga-lembaga sosial lainnya saat terjadi krisis akibat pandemi Covid-19 ini juga nyatanya terjadi di berbagai belahan dunia lainnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Forbes, 77 miliarder telah menyumbang berbagai bentuk donasi untuk penanganan Covid-19 hingga akhir April lalu. CEO Twitter Jack Dorsey misalnya, menjadi donatur dengan nominal tertinggi sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp 14,9 triliun), atau seperempat dari jumlah kekayaannya.

Secara rinci, Dorsey membuat daftar kemana dana darinya bermuara dan kebanyakan untuk meng-cover kalangan masyarakat dan berbagai lembaga sosial yang sejauh ini tidak tersentuh kebijakan bantuan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Hal yang dilakukan Dorsey dan konglomerat AS lainnya dinilai cukup signifikan dalam menciptakan social safety net atau jaring pengaman sosial serta membantu pemerintah AS sendiri.

Kembali pada konteks dalam negeri, Indonesia nyatanya memang dinobatkan sebagai negara kelima, dengan modal sosial atau social capital, terbaik di dunia berdasarkan survei The Legatum Prosperity Index tahun 2019. Berdasarkan survei tersebut, dikatakan bahwa Indonesia konsisten menampilkan modal sosial dan kualitas ekonomi madani terbaik berupa tingginya budaya donasi dan kesukarelaan, meskipun living condition atau kondisi kehidupan masih terbilang rendah.

Berdasarkan temuan tersebut serta peran konkret para crazy rich dan konglomerat dalam menebar bantuan sosial kepada masyarakat saat pandemi Covid-19 yang dilihat dari sisi sosiologi politik di atas, dapat ditarik konklusi bahwa hartawan-hartawan tersebut memiliki peran vital ketika terjadi turbulensi sosial politik, baik dalam konteks utama maupun sekunder.

Hal tersebut di sisi lain juga dinilai bermuara pada kesimpulan bahwa para crazy rich dan konglomerat, baik secara langsung maupun tidak langsung, turut membantu dan mendukung pemerintahan Presiden Jokowi dalam mengarungi bermacam kesulitan bangsa akibat pandemi Covid-19.

Dengan reputasi sebagai salah satu negara dengan modal sosial terbaik di dunia, nyatanya peran para crazy rich dan konglomerat dengan sumber daya yang dimilikinya memang sangat signifikan, baik dalam konteks pemberian bantuan secara konkret maupun sebagai inspirasi bagi gestur solidaritas dan persatuan bangsa. Demikianlah bentuk dari salah satu kekuatan sosial yang dimiliki negeri ini. (J61)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?