HomeBelajar PolitikKekerasan Hantui Dunia Pendidikan

Kekerasan Hantui Dunia Pendidikan

Kecil Besar

PinterPolitik.com

Diklat, pada umumnya dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian serta etika kepada anggota baru. Namun kali ini, lagi-lagi Diklat disalahgunakan, disalahfungsikan, hingga akhirnya jatuh korban.

Peristiwa tersebut terjadi dalam kegiatan Tingkat Dasar Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Islam Indonesia (Diksar Mapala UII) yang seharusnya berakhir dengan kebersamaan, persaudaraan dan keharuan lantaran berhasil melewati kegiatan alam yang berat.

Ada tiga mahasiswa yang meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan Diksar Mapala UII di Gunung Lawu, Lereng Selatan, Tawangmangu, pada 13-20 Januari 2017 silam. Salah satunya Ilham Nurfadmi Listia Adi (20), mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang meninggal dunia mengaku sempat dipukuli saat mengikuti kegiatan Great Camping Pendidikan Dasar Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam tersebut.

Ilham sempat menceritakan hal itu kepada pamannya, Bambang Supringgo (50), setelah korban pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Lalu, korban menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 00.00 WIB.

Terus ditelusuri, ternyata beberapa fakta-fakta mengejutkan muncul dari informasi beberapa reporter yang didapatkan melalui berbagai sumber dan media. Selain tiga orang dinyatakan tewas, Diksar Mapala Unisi The Great Camping yang menjalani rawat inap menjadi 10 orang.

Bukannya dilatih mental, peningkatan rasa percaya diri atau nilai-nilai kepemimpinan hingga bagaimana mencintai alam lewat pelestarian dan perlindungan tapi berdasarkan fakta yang ada justru penyiksaan. Kegiatan itu digelar Mapala Unisi UII Yogyakarta di Hutan Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.


Dr. Harsoyo Rektor UII.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Harsoyo selaku Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) mundur dari kursi jabatannya. Dirinya menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak atas tewasnya tiga mahasiswa dari UII yang menjadi tanggung jawabnya.

Harsoyo mengundurkan diri di hadapan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek) RI Muhammad Nasir dalam rapat tertutup dengan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah V Yogyakarta.

“Sebagai pimpinan dan tanggung jawab moral, saya mengundurkan diri. Kesalahan mutlak pada pimpinan. Saya memohon maaf sebesar-besarnya karena telah mencoreng nama baik pendidikan Indonesia,” ujar Harsoyo.

 


Apa saja fakta-fakta mengerikan yang membuat kasus ini menjadi banyak menjadi banyak sorotan?

1. Jempol kaki Ilham hampir copot dan BAB Darah.

Datang dalam keadaan sadar, Ilham Nurfadmi Listia Adi diketahui sempat terjatuh dan tidak sadarkan diri saat berada di kos. Dari situ kemudian Tim medis Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta melakukan cek hingga ditemukan luka di tangan, kaki, dan jempol kaki kanan hampir copot.

Bahkan saat dalam penanganan intensif, Ilham mengalami buang air besar darah sekitar pukul 15.00 WIB. Kondisinya terus menurun hingga harus mendapat transfusi darah. Ilham dirawat di ICU, dan akhirnya meninggal.

Informasi yang dihimpun dari sejumlah saksi terdekat dengan almarhum, Ilham sempat berada di indekos selama dua hari sebelum dibawa ke Rumah Sakit Bethesda.

2. Kesaksian korban bernama Syaits Asyam sebelum meninggal

Sri Handayani ibu dari Syaits Asyam yang juga merupakan korban, harus mengalami peristiwa yang memilukan, mendapati kondisi anaknya yang mengenaskan sebelum akhirnya embuskan nafas terakhir.

“Hari Sabtu, saya mendapat kabar kalau Asyam masuk Rumah Sakit Bethesda itu jam 10.30 WIB. Saya langsung ke rumah sakit dan tiba sekitar pukul 11.30 WIB,” ujar Sri saat ditemui di rumahnya di Jetis RT 13/RW 13, Caturharjo, Sleman.

Sesampainya di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Sri langsung menuju ke ruangan tempat putranya dirawat. Dia pun kaget dengan kondisi putranya yang sulit bernafas serta kedua lengan dan punggungnya mengalami luka.

“Saya shock, kaget, melihat kondisi Asyam. Bernafas saja susah. Lalu saya dipertemukan dengan dokter dan menceritakan kondisi Asyam,” ucapnya.

Dokter lantas menyarankan agar Sri mengajak putranya berbicara semampunya menceritakan apa yang dialami. Dokter juga meminta agar apa yang disampaikan oleh Asyam dicatat. Ia mengaku dipukuli menggunakan rotan di bagian punggung, diinjak kakinya dan disuruh mengangkut beban air. Kesaksian ini ditulis oleh ibunya menggunakan kertas memo.

“Dokternya bilang, ibu mumpung anaknya masih bisa ngomong semampunya dia tolong ditanya. Ambil kertas dan pena,” kata Sri.

Saat itulah, Asyam menceritakan kejadian penyiksaan tersebut. Asyam juga mengeluhkan sakit pada bagian leher karena membawa air terlalu banyak.

3. Korban 10 peserta rawat inap

Hasil pemeriksaan menyebutkan, mayoritas peserta mengalami luka lecet di seluruh badan. Direktur Utama RS JIH, dr Mulyo Hartana SpPD membenarkan RS telah merawat 10 peserta The Great.

Namun RS JIH hanya menerima 32 peserta untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium yakni darah lengkap, urin, radiologi USG, CT-Scan dan rontgen thorax.

“Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi organ dalam pasien dalam keadaan sehat dan tidak ada masalah,” ujar dr Mulyo.

Beberapa di antaranya telah terinfeksi, nafsu makan turun, diare, infeksi saluran nafas, lemas, dan pandangan kabur.

“10 orang memerlukan perawatan untuk observasi lebih lanjut yakni rawat inap, sedang sisanya boleh pulang dengan diminta kontrol secara periodik.

4. Tidak logis, panitia justru ‘dendam’ karena anggota ingin mengundurkan diri?

Ilham Nur Fadmy Listia Adi, Syaits Asyam dan Muhammad Fadli yang merupakan tiga korban meninggal dunia ternyata berniat mengundurkan diri dari acara Diksar tiga hari sebelum acara selesai. Namun keinginan ini justru menjadi awal masalah.

Mengapa? Karena senior pembina di Mapala justru ditengarai mengambil tindakan aneh dan tidak logis, para panitia justru menaruh dendam terhadap mereka yang ingin mengundurkan padahal fisik ketiga korban sudah tidak kuat. Alhasil mereka tetap melanjutkan Diksar hingga hari terakhir.

Sungguh janggal rasanya indvidu yang seharusnya bertanggung jawab dan memperhatikan dari mulai perlengkapan hingga kondisi para anggota justru bertingkah dan menaruh dendam.

Setelah itu panitia melakukan kesengajaan menaruh dua mahasiswa Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Syaits Asyam di satu kelompok yang diasuh oleh senior bernama Yudi. Sementara satu mahasiswa tewas lainnya, yaitu Muhammad Fadli berbeda kelompok. (kmps/A11)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

UMKM Motor Ekonomi Dunia

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia...

Jembatan Udara Untuk Papua

PinterPolitik.com JAKARTA - Pemerintah akan memanfaatkan program jembatan udara untuk menjalankan rencana semen satu harga yang dikehendaki Presiden Joko Widodo. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan...

Hukum Rimba Tahanan Wanita

Kesan seram dan menakutkan selalu identik dengan rumah tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Selain berlakunya hukum rimba dengan sesama narapidana, kenyamanannya pun bisa didapat...