HomePolitik & FigureMAHASISWA TUNTUT NAWACITA JOKOWI

MAHASISWA TUNTUT NAWACITA JOKOWI

Kecil Besar

Selain tuntutan tentang Nawacita, mahasiswa juga menuntut pemerintah untuk mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016, tentang Tarif dan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).


pinterpolitik.com

JAKARTA – Mahasiswa menggelar demonstrasi pada 12 Januari 2017 di 19 titik di seluruh Indonesia. Salah satu tuntutan mahasiswa dalam aksi tersebut adalah terkait program Nawacita Jokowi.

Nawacita adalah 9 garis pemerintahan yang menjadi program Presiden Jokowi. Mahasiswa menilai masalah radikalisme dan intoleransi menjadi persoalan yang sedang terjadi. Padahal dalam Nawacita, ada poin yang berbicara tentang kebhinekaan dan penghormatan terhadap semua individu masyarakat termasuk yang kecil dan menengah.

Selain tuntutan tentang Nawacita, mahasiswa juga menuntut pemerintah untuk mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016, tentang Tarif dan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Pasalnya menurut mereka, PP tersebut lah yang menyebabkan biaya pembuatan STNK dan BPKB naik.

Mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Tuntutan lainnya adalah agar pemerintah menasionalisasi aset negara untuk meningkatkan pendapatan nasional. Terakhir mereka mendesak pemerintah untuk membatalkan pencabutan subsidi tarif dasar listrik 900 VA dan melakukan pendataan ulang terhadap pelanggan agar tepat sasaran.

Mahasiswa menilai semua kebijakan tersebut memberatkan rakyat banyak. Mahasiswa juga menilai kenaikan harga-harga tersebut tidak sejalan dengan program Nawacita Jokowi karena memberatkan ekonomi masyarakat kecil.

Ihsan Munawar, salah satu koordinator Aksi Bela Rakyat atau Aksi 121 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), mengancam Presiden Joko Widodo (Jokowi) bila tidak menemui pihaknya di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

“Maka lihat saja di aksi selanjutnya, akan lebih ganas dan dahsyat dari pada hari ini,” kata Ihsan kepada wartawan di kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis
Ihsan mengaku, sebelumnya sudah mengirim surat ke pihak Istana melalui Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, untuk menyampaikan keberatan atas kebijakan-kebijakan yang diambil Presiden Jokowi yang tidak prorakyat.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

“Kami sudah menyampaikan surat melalui Pratikno dan juga hari ini, apabila iktikad baik kami tidak digubris dengan baik, maka seharusnya mereka sadar, karena hari ini kami turun di seluruh Indonesia untuk menyampaikan aspirasi rakyat,” jelasnya.

Nasib Nawacita

Banyak pihak menilai program-program Nawacita Presiden Jokowi tidak sepenuhnya berjalan. Meningkatnya aksi kekerasan dan radikalisme beberapa waktu belakangan juga menegaskan kembali hal itu.

Adapun sembilan program Nawacita itu, antara lain, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara; membangun tata kelola pemerintah yang bersih, efektif dan demokratis; membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah; menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum; meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; mewujudkan kemandirian ekonomi; dan melakukan revolusi karakter bangsa.

Di tengah kondisi perekonomian yang mulai tidak stabil, pemerintahan Jokowi dinilai kesulitan untuk mengembangkan Nawacita. Persoalan lain adalah munculnya indikasi pihak-pihak yang ingin merongrong kebhinekaan, sementara pemerintahan Jokowi terlihat kurang tegas menghadapi pihak-pihak tersebut. Oleh karena itu, boleh jadi Nawacita tidak akan pernah terwujud sepenuhnya.
Pemerintahan Presiden Jokowi harus lebih tegas untuk mengedepankan program-program Nawacita. Jika presiden tegas, maka masyarakat akan merasa ada kepastian dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas dan kegiatan ekonomi.

Menarik untuk menanti kelanjutan tanggapan Jokowi terhadap aksi mahasiswa ini. (Okezone/S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.