HomeNalar PolitikMahfud MD Cawapres Ideal

Mahfud MD Cawapres Ideal

Kecil Besar

Baik kubu Jokowi maupun Prabowo mengaku sama-sama memasukkan nama Mahfud MD dalam radar cawapresnya.


PinterPolitik.com

“Orang yang bijaksana adalah mereka yang tidak berduka cita akan hal-hal yang ia tidak miliki dan merasa bahagia dengan apa yang telah ia miliki.” ~ Democritus

[dropcap]K[/dropcap]etika banyak politikus berlomba-lomba mempromosikan diri agar dapat menjadi calon wakil presiden (cawapres), baik bagi Jokowi maupun Prabowo, Prof. Dr. Mahfud MD., SH malah menyatakan dirinya tak ingin ikut dalam perlombaan tersebut.  Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang aktif ngetweet ini memilih mengalir saja seperti air.

Padahal, namanya masuk dalam daftar cawapres yang diperhitungkan oleh kedua kubu yang berseberangan itu. Sebagai seorang negarawan yang cukup lama malang melintang baik di pemerintahan, legislatif, maupun yudikatif, Mahfud memang memiliki kualitas yang mampu memenuhi semua kriteria seorang cawapres.

Permasalahannya, tak mudah bagi Jokowi – bahkan juga Prabowo, untuk langsung meminang mantan Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di era Gus Dur ini. Ada banyak pertimbangan yang harus dilewati, salah satunya persetujuan para partai koalisi pengusung keduanya. Akankah mereka legowo memberikan kursi cawapres kepada sosok yang kini lebih memilih non partisan tersebut?

Apalagi, nyaris semua partai politik besar berharap agar kursi kosong tersebut bisa jatuh ke ketua umum, atau minimal ke kader mereka. Contoh saja PKB, sebagai partai NU terbesar, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang begitu berharap dipilih Jokowi sebagai cawapres, tentu tak akan rela peluangnya begitu saja hilang oleh kadernya sendiri.

Di sisi lain, Prabowo dalam hal ini Gerindra, seakan juga terikat kuat dengan keinginan mitra koalisinya, PKS. Partai Islam ini tentu sangat ingin mendapatkan kursi cawapres, bila memang tidak mungkin mengajukan calon presiden (capres). Sejauh ini, baru Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saja yang memberikan lampu hijau pada Mahfud MD untuk mendampingi Jokowi.

Kalau memang tidak mungkin terpilih, lalu mengapa namanya bisa masuk dalam daftar dua kubu tersebut? Dan pertimbangan apa yang memungkinkan bagi kedua kubu, untuk dapat menjadikan Mahfud MD sebagai cawapres mereka?

Sosok Negarawan Agamis

Manusia bisa mempercayai yang tidak mungkin, tetapi tidak pernah bisa mempercayai yang mustahil. ~ Oscar Wilde

Di usianya yang akan menginjak 61 tahun, pada 13 Mei mendatang, pria yang terlahir dengan nama Muhammad Mahfud ini, memang cukup matang pengalaman untuk menjadi seorang wapres. Bila dilihat dari perjalanan karirnya, pria yang menambahkan nama bapaknya – Mahmodin – dengan inisial MD di belakang namanya itu, bisa dibilang tak diragukan lagi.

Selain berbekal gelar sarjana dan doktoral dalam bidang hukum tata negara, Mahfud juga memiliki gelar master untuk bidang studi politik. Sebab baginya, hukum dan politik adalah bidang yang kerap bersinggungan. Ketertarikan dengan politik sendiri, sebenarnya sudah terlihat dari bagaimana ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan, baik di Senat, Badan Perwakilan Mahasiswa, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Namun penerima gelar Guru Besar termuda (di usia 41 tahun) ini, mengaku tak menyangka kalau karirnya sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta akan mengantarnya menjadi menteri di era Presiden ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Padahal kedekatannya dengan Bapak Tionghoa Indonesia ini sendiri, hanya karena sering mengundangnya berbicara di unversitas tersebut.

Sebagai putra kelahiran Sampang, Madura, Mahfud tumbuh besar di lingkungan dan keluarga beraliran Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat kuat. Tak heran kalau keluaran pesantren ini mudah dekat dengan cucu pendiri NU tersebut. Namun kepandaiannya lah yang sebenarnya membuat Gus Dur terpincut,  sehingga menempatkannya sebagai Menteri Pertahanan (tahun 2000) dan Menteri Kehakiman dan HAM (tahun 2000-2001).

Bahkan setelah dilengserkan dari kursi kepresidenan pun, Gus Dur tetap memaksa Mahfud untuk terus mendampinginya sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2002-2005, di partai besutannya tersebut. Jabatannya di partai NU terbesar ini pula yang membawanya ke kursi legislatif, baik di Komisi III maupun Komisi I, dari 2004 hingga 2008.

Meski begitu, Mahfud mengaku lebih menikmati perannya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (periode 2008-2013), dibandingkan saat duduk sebagai menteri maupun anggota DPR. Ia merasa, jabatannya di MK memberikan keleluasaan dalam mengejawantahkan pemikiran dan pengetahuan, tanpa harus terkekang dengan berbagai kepentingan politik maupun partai politik.

Kini setelah sudah tidak lagi berkecimpung di lingkungan legislatif maupun yudikatif, Mahfud yang kembali menjadi dosen, masih memiliki jabatan yang berkaitan dengan kerja eksekutif. Juni 2017 lalu, Presiden Jokowi memilihnya menjadi anggota dewan pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP).

Mahfud juga menjadi sosok yang paling sering dimintai pendapat oleh Jokowi, terutama untuk isu-isu yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang. Salah satunya, terkait bagaimana seharusnya Jokowi bersikap atas disahkannya UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) lalu. Kepercayaan Jokowi pada Mahfud ini pula yang membuat Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) yakin, Mahfud mampu melengkapi Jokowi.

Terbaik Bagi Semua?

“Kepandaian tanpa ambisi, ibarat burung tanpa sayap.” ~ Salvador Dali

Sebagai negarawan yang memiliki track record mumpuni dan bersih, potensi Mahfud memang telah dilirik sejak lama. Bahkan pada Pilpres 2014 lalu, ketika dirinya tak lagi memimpin MK, PKB telah berani menetapkan Mahfud sebagai capres yang akan diusung. Namun sayang, ketika PDI Perjuangan memutuskan mengusung Jokowi sebagai presiden, PKB seakan langsung berpaling begitu saja dari dirinya.

Begitu juga ketika menentukan cawapres bagi Jokowi, seolah PKB tidak berusaha memperjuangkan dirinya dan malah setuju dengan keputusan PDI Perjuangan yang memasangkan Gubernur DKI Jakarta tersebut dengan Jusuf Kalla (JK). Banyak pihak melihat, sikap PKB ini membuat Mahfud sakit hati dan memilih menyeberang dengan bersedia menjadi ketua tim sukses (timses) Prabowo dan Hatta Rajasa.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Namun entah mengapa, ketika kubu Prabowo tak menerima hasil penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyatakan kemenangan Jokowi-JK, suami Zaizatoen Nirhajati ini memilih mundur dari jabatannya sebagai ketua timses. Selain mengaku telah gagal melakukan tugas, Mahfud juga tidak setuju dengan manuver Prabowo-Hatta yang menentang putusan KPU.

Walau hubungan Mahfud dengan Prabowo tetap baik, namun ‘luka lama’ kubu Gerindra atas putusan Mahfud yang lalu, sepertinya masih membekas. Jadi, walau Gerindra sempat mempertimbangkan dirinya sebagai kandidat cawapres, namun kecil kemungkinan koalisi oposisi akan benar-benar mengusung Prabowo-Mahfud.

Terlebih, belakangan Mahfud kelihatan lebih banyak mendukung Pemerintah. Misalnya saja, saat polemik pidato Prabowo yang menyatakan Indonesia bubar di 2030, secara akademis Mahfud menyalahkan Prabowo yang menetapkan tahun bubar tanpa ada fakta dan data yang mendukung pernyataannya tersebut.

Tak heran bila banyak pihak melihat kalau duet Jokowi – Mahfud jauh lebih memungkinkan. Hanya saja, tentu Jokowi tak bisa memutuskan sendiri. Selain memiliki banyak partai koalisi, keputusan cawapres Jokowi pun tak lepas dari campur tangan Megawati Soekarnoputri, sebagai ketua umum partai utama pengusung mantan Walikota Solo tersebut.

Ada dugaan, Partai Banteng itu tengah mempertimbangkan untuk memasangkan Jokowi dengan tokoh yang tidak memiliki ambisi atau tidak bisa bertarung lagi adi Pilpres 2024 kelak. Mengapa? Karena walau memiliki banyak kader, namun hingga kini Megawati masih kesulitan mencari “putra mahkota” dari partainya sendiri.

Partai merah ini sepertinya berharap, di 2024 nanti, mereka mampu mengusung “anak sendiri” dalam memperebutkan kursi RI-1. Tentu ambisi ini sulit dicapai bila Jokowi berpasangan dengan tokoh muda potensial saat ini, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Cak Imin, dan Gatot Nurmantyo yang bisa jadi semakin melejit kelak.

Coba saja tilik nama-nama cawapres yang sempat dilontarkan PDI Perjuangan, dari Budi Gunawan hingga JK, kalau dicermati, keduanya mungkin sulit untuk maju lagi di 2024. Oleh karena itu, pencetusan nama Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi, bisa jadi akan merupakan pilihan terbaik bagi semua.

Selain memiliki keilmuan tinggi, Mahfud yang usianya juga sudah cukup senior ini, diyakini mampu menarik dukungan umat Islam yang dibutuhkan Jokowi. Walau beraliran NU, namun ia juga dapat diterima oleh warga Muhammadiyah. Dengan kecerdasan tingginya, Mahfud tentu mampu membantu Jokowi di sektor ekonomi. Sekarang pertanyaannya, bersediakah para partai koalisi pendukung Jokowi untuk menerima opsi ini? (R24)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...