HomeData PolitikGelas Kopi Pak Joko

Gelas Kopi Pak Joko

Kecil Besar

Banyak yang cuma lulus SMA, tapi saat ini penghasilannya bisa di atas 10 juta rupiah per bulan, berbekal keahlian di dunia kecantikan misalnya. Sementara gaji kebanyakan sarjana fresh graduate saat ini paling tinggi 4 hingga 5 jutaan per bulan.


pinterpolitik.com

Gelas kaca itu hampir kosong. Kopi yang disediakan istrinya sudah hampir habis ia minum. Detak jam dinding tua terdengar sayup. Pukul 15.45 dan langit masih terlihat mendung. Saat ini cuaca tidak bisa diprediksi, begitu kata pembaca-pembaca berita di TV.

“Pak, aku berangkat dulu, ya,” suara istrinya mengagetkan Joko yang sedang melamun.

Ia menoleh. Ah, ini pengaruh kafein atau istriku memang terlihat lebih cantik hari ini, katanya dalam hati. Joko hanya tersenyum memandang Siti, istrinya.

“Hati-hati ya bu, jangan lupa jas hujannya dibawa,” jawab Joko singkat.

Setelah mencium tangan suaminya, Siti lalu mengambil kunci motor dan berangkat. Joko masih tertegun memandang istrinya yang berlalu di kejauhan. Masih lekat rasa nikmat kopi bikinan istrinya di bibirnya. Ia memandang foto ketiga anaknya di dinding. Mereka sudah besar-besar semuanya. Joko masih ingat betapa sulit ia dan istrinya berusaha untuk membesarkan dan membiayai ketiga anaknya.

Joko Ahmad Mulyo – demikian lengkapnya – adalah seorang supir pribadi. Sepuluh tahun lalu, ia dan istrinya datang ke ibukota demi mimpi hidup yang lebih baik. Majikannya saat ini adalah seorang pengusaha properti. Sore hari seperti sekarang, majikannya tidak begitu sibuk. Oleh karena itu, Joko masih sempat pulang sebentar ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah majikannya, sembari menikmati kopi sore dan bertemu istrinya sebelum sang istri berangkat kerja.

Istri Joko awalnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat yang sama dengan tempat Joko bekerja. Namun, 3 tahun yang lalu, secara kebetulan, Siti bertemu Tukinem, teman sepermainannya waktu kecil dulu di kampung. Tukinem adalah mantan TKI yang pernah bekerja di Singapura. Tukinem bercerita kalau dirinya saat ini sudah beralih profesi: dari pembantu rumah tangga menjadi seorang perawat. Majikannya seorang yang sudah lanjut usia dan tidak bisa berjalan lagi. Tukinem pun bercerita bahwa setelah bekerja tiga tahun di Singapura, ia memutuskan untuk mengambil kursus merawat lansia selama 6 bulan. Setelah itu, ia mendapat pekerjaan mengurusi lansia. Joko masih ingat bagaimana berbinar-binarnya mata istrinya saat itu, menceritakan apa yang ia dapatkan dari Tukinem.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

“Itu loh pak, Tukinem itu sekarang penghasilannya 8 juta per bulan loh pak. Apa aku wes ngambil kursus wae 6 bulan pak? Habis itu daftar jadi perawat lansia?”

Joko masih ingat waktu itu ia sempat bimbang dan ragu untuk memakai uang tabungannya untuk biaya kursus istrinya. Tetapi, setelah diyakinkan oleh istrinya bahwa masa depan mereka akan lebih baik kalau ia mengambil kesempatan itu, Joko pun setuju.

Akhirnya, keyakinan Joko itu terbayar lunas. Saat ini istrinya telah menjadi perawat lansia. Penghasilan istrinya bahkan bisa mencapai dua kali lipat dari apa yang didapat oleh Joko, bahkan mungkin dua kali lipat daripada gaji para sarjana.

Joko hanya bisa tersenyum melihat foto anak pertamanya yang akhirnya bisa kuliah juga. Kalau tidak ada halangan, setahun lagi anaknya akan diwisuda. Sebuah kebanggan terbersit di dalam hati Joko.

Kadang-kadang, Joko juga mengingat-ngingat apa yang dialami sitrinya tersebut dan membandingkannya dengan masa depan anaknya. Iya ya, sekarang sarjana aja pendapatannya lebih besar istriku kok, padahal dia cuma lulus SMA.

Joko jadi teringat iklan-iklan yang dia lihat di TV tentang SMK lah, pendidikan kejuruan lah, kursus-kursus keterampilan lah, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir, pendidikan-pendidikan tersebut menghasilkan orang-orang yang punya skill dan siap bekerja. Justru mereka-mereka itu lebih mudah diserap di dunia kerja. Sementara ia juga pernah baca di koran bahwa saat ini banyak sarjana yang malah jadi pengangguran di negara ini.

Anak majikannya yang kuliah jauh-jauh di luar negeri juga ujung-ujungnya mewarisi usaha bapaknya. Bagaimana dengan jutaan sarjana lain yang kuliah bertahun-tahun tapi kemudian menganggur? Apa yang salah dan membuat jadi sarjana itu kelihatannya kurang menjanjikan masa depannya ya. Banyak yang cuma lulus SMA, tapi saat ini penghasilannya bisa di atas 10 juta rupiah per bulan, berbekal keahlian di dunia kecantikan misalnya. Sementara gaji kebanyakan sarjana fresh graduate saat ini paling 4 hingga 5 jutaan per bulan.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Joko ingat suatu ketika ia mengantar istri majikannya ke sebuah salon di daerah Kebayoran Baru dan ia terkejut bahwa penghasilan orang yang menghias kuku atau apalah sebutanya itu bisa mencapai 8 juta rupiah per bulan. Padahal katanya dia cuma lulusan SMA. Kuliahnya ngaret, jadinya gak tuntas-tuntas. Ah ya, nail artist. Itu tulisan yang dia lihat di meja resepsionis. Nama nail artist itu Kana. Saking banyak yang mengantri, istri majikan Joko harus booking dua minggu sebelumnya. Wow, itu seperti booking artis.

Ada lagi yang ahli sulam alis. Itu katanya pendapatannya bisa sampai 20 juta rupiah per bulan. Wow, sedikit lagi bisa ngalahin gaji manajer-manajer perusahaan. Padahal mereka-mereka itu modalnya cuma keahlian yang diperoleh dari kursus 6 bulanan saja. Sementara orang menghabiskan berpuluh-puluh juta selama kuliah bertahun-tahun untuk dapat gelar sarjana, tapi ujung-ujungnya penghasilannya lebih kecil dari yang bahkan tidak lulus SMA. Apa yang salah sebenarnya?

Joko jadi makin bingung. Semoga anakku nggak jadi gitu nantinya. Joko tetap percaya, apa pun itu, pendidikan sarjana tetap bermanfaat untuk ke depannya. Mungkin saat ini karena trend kecantikan jadinya kerjaan kayak gitu pada laku.

Joko bersyukur ia dan istrinya bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia sangat bersyukur istrinya mau ikut bekerja keras demi anak-anak mereka, walaupun akhirnya ia jadi jarang bertemu istrinya. Yah, setidaknya sore-sore masih bisa menikmati segelas kopi buatan istrinya sebelum ia berangkat kerja.

Untuk sesaat Joko tertegun. Ia memandang gelas kopi istrinya itu. Sambil tersenyum, Joko menyeruput tegukan terakhir kopi itu. Ah, surga.

Belum selesai kopi itu masuk ke tenggorokannya, handphone-nya berbunyi. Joko buru-buru mengangkatnya.

“Hallo, Joko, kamu di mana? Jam 4 tolong antar saya, ada meeting dengan klien”, terdengar suara majikannya dari seberang.

“Siap pak, akan saya siapakan mobil bapak”, jawab Joko singkat.

Ah, harus berakhir juga acara kopi sore ini. Ia pun bergegas menuju rumah majikannya, meninggalkan gelas kopi itu: gelas yang punya banyak cerita. (S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.