HomeNalar PolitikAristoteles Membedah Penyerangan Ulama

Aristoteles Membedah Penyerangan Ulama

Kecil Besar

Aksi-aksi penyerangan ulama dan pemuka agama beberapa waktu terakhir memang menimbulkan tanda tanya. Apakah benar-benar dilakukan orang yang mengalami gangguan mental? Ataukah ini bagian lain dari kejahatan terstruktur yang umum terjadi di Indonesia?


PinterPolitik.com

“Man is by nature a political animal.”

– Aristoteles (384-322 SM) –

[dropcap]T[/dropcap]ercatat antara akhir Desember 2017 hingga Februari 2018 ada kurang lebih 6 kasus penyerangan yang terjadi pada pemuka agama. Dari kasus-kasus tersebut, 4 peristiwa menimpa ulama atau Kiai, satu kasus menimpa seorang Biksu, dan satu kasus terakhir menimpa seorang Pastor yang sedang memimpin ibadat.

Terlepas dari fakta aksi kriminal yang melekat pada kejadian-kejadian tersebut, banyak pihak yang masih menebak-nebak arah di balik kejadian-kejadian tersebut, terutama terkait pola kejadian yang hampir-hampir mirip. Aksi-aksi tersebut meningkatkan perbincangan tentang intoleransi dan menimbulkan perdebatan terkait isu SARA yang kembali menyeruak di tahun politik.

Kecuali pada kasus Biksu dan Pastor, kejadian lain yang rata-rata menimpa pemuka agama Islam selalu berakhir dengan satu kesimpulan dari pihak kepolisian: dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa.

Pihak kepolisian menyebutkan bahwa pelaku kasus penyerangan yang terjadi di Cirebon, Bandung, Lamongan, hingga beberapa penangkapan terhadap orang mencurigakan di Tuban dan Banten hampir semuanya dinyatakan mengalami gangguan jiwa. Kebetulan saja?

Faktanya, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Majalah Tempo, tampak ada sedikit kejanggalan dalam kasus-kasus tersebut. Misalnya, terkait pada kasus penangkapan pria mencurigakan bernama Wahyudin Firmansyah yang disebut berniat menyerang ulama di Pandeglangan, Banten. Saat diamankan oleh para santri, pria itu mengaku dibayar 5 juta rupiah untuk membunuh satu kiai.

Tempo juga menyebut bahwa berdasarkan keterangan santri-santri yang menangkapnya, yang bersangkutan tidak tampak seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Baunya tidak menyengat, kaos dalamnya bersih, dan giginya juga putih bersih.

Para santri tersebut menyebut pria itu 90 persen orang normal dan 10 persen pura-pura gila. Tempo juga melakukan penelusuran di panti sosial tempat Firmansyah tercatat sebagai penghuninya dan mendapati bahwa penghuni panti tersebut tidak tampak seperti orang gila.

Aristoteles Membedah Penyerangan Ulama

Akibatnya, analisis yang berkembang memang menyebut ada muatan-muatan politis tertentu yang berkembang di belakangnya, terutama untuk menjelaskan fenomena yang cukup aneh: orang gila menyerang ulama di beberapa tempat. Jika menggunakan asumsi kesehatan jiwa, sulit untuk memastikan bahwa kasus-kasus tersebut berdiri sendiri.

Dengan demikian, perlu pisau analisis untuk membedah fenomena ini, dan dalam konsep kausalitas, pemikiran filsuf Aristoteles merupakan salah satu yang paling tepat digunakan. Bagaimana hasilnya?

Aristoteles, Membedah Kebenaran

Fenomena penyerangan ulama dan pemuka agama yang disebut-sebut dilakukan oleh orang gila memang cukup aneh. Apakah tidak ada unsur kesengajaan ketika di lebih dari 3 tempat ada kejadian penyerangan yang dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa kepada target yang berstatus serupa?

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Jika ingin menggunakan pemikiran Aristoteles untuk membedah kasus ini, maka tentu saja dasar pemikirannya harus dipahami secara mendalam. Kausalitas Aristoteles merupakan salah satu gagasan besar sepanjang sejarah umat manusia, termasuk mempunyai pengaruh dalam filsafat agama.

Dalam bukunya Physics dan Metaphysics Aristoteles menyebut ada 4 penyebab yang bisa dipakai sebagai acuan untuk menjelaskan segala sesuatu. Keempat penyebab itu adalah kausa material (bahan dasar sesuatu), kausa formal (gambaran forma atau bentuk sesuatu yang menjadikannya sebagai ‘benda itu’), kausa efisien (apa atau siapa yang menyebabkan itu terjadi) dan kausa final (yang merangkum semuanya dan menjelaskan mengapa kausa formal dan kausa efisien terjadi).

Secara sederhana, jika kita ingin menganalisis sebuah kursi misalnya, maka kausa materialnya adalah kayu, kausa formalnya adalah “bentuk rupa kursi”, kausa efisiennya adalah tukang kayu, dan kausa finalnya adalah kursi dibuat untuk dipakai sebagai tempat duduk.

Pemikiran Aristoteles ini memiliki dimensi yang sangat luas, bahkan dipakai pula dalam filsafat beberapa agama, sekalipun beberapa tokoh setelahnya – misalnya Galileo Galilei – sering mengkritik pemikiran-pemikirannya. Dengan memahami 4 kausalitas tersebut, kita dapat menemukan pertalian antara satu hal dengan hal lain.

Lalu, bagaimana dalam kasus penyerangan terhadap pemuka agama?

Aristoteles Membedah Penyerangan Ulama

Dengan menggunakan kausalitas Aristotels, penyebab penyerangan ini bisa dijabarkan satu per satu.

Kausa material  penyerangan ulama dan pemuka agama adalah orang tertentu – yang disebut “gila” – baik yang terpapar pemikiran tertentu, atau yang memang mengalami gangguan kejiwaan. Namun, tidak menutup kemungkinan ada pula orang yang menerima bayaran tertentu untuk melakukan hal tersebut.

Sementara kausa formalnya adalah penyerangan ulama dan pemuka agama berbentuk kekerasan fisik terhadap pemuka agama. Hal ini membedakannya dengan serangan-serangan teror lain katakanlah yang menggunakan bahan peledak atau senjata yang sejenisnya.

Adapun kausa efisien kasus penyerangan ini adalah keberadaan pihak-pihak di belakang aksi-aksi tersebut. Apalagi, kejadian-kejadian ini kelihatan terpola dan serupa. Tentu pertanyaannya adalah siapa di balik kejadian-kejadian itu?

Begitu banyak teori yang muncul setelah kasus-kasus ini terjadi. Semuanya mencoba menerka-nerka pertalian di antara kejadian-kejadian tersebut, mulai dari kepentingan politis yang bisa diraih dari peristiwa itu, teror yang melibatkan institusi negara, hingga apakah akan ada dampak terhadap legitimasi pemerintah atau kelompok tertentu.

Yang terakhir, kausa final penyerangan terhadap pemuka agama ini punya signifikansi terhadap tahun politik, di mana isu agama menjadi sangat sensitif dan punya dimensi memenangkan kelompok tertentu.

Artinya sangat jelas bahwa maksud dari kejadian-kejadian tersebut adalah untuk memanaskan isu identitas di tahun politik ini. Selain itu, boleh jadi kasus penyerangan ini bermaksud untuk menyerang pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan dianggap gagal memelihara keberagaman dan toleransi.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Aristoteles Membedah Penyerangan Ulama

Dari banyak pemikiran kausalitas yang diungkapkan oleh para ahli filsafat dan pemikir, kausa Aristoteles memiliki kesebangunan pemikiran yang berbeda, terutama pada poin kausa final. Pada bagian ini, pisau bedahnya mencakup hingga ke tujuan kejadian.

Dengan menggunakan pisau bedah kausalitas Aristoteles bisa dipastikan bahwa dalam setiap kausa memiliki faktor di belakangnya. Misalnya, dalam kausa formal, pertanyaan yang muncul bisa jadi adalah mengapa yang dilakukan adalah serangan fisik, bukan menggunakan bom atau senjata lainnya?

Dimensi Politik

Lalu, apa signifikansinya menganalisis masalah ini dari cara berpikir Aristoteles?

Nyatanya, dengan menggunakan pisau analisis Aristoteles, penyerangan terhadap pemuka agama bisa dilihat secara lebih komprehensif. Kausalitas Aristoteles membantu terbangunnya analisis yang bisa menjelaskan gambaran kejadian dalam scope yang lebih besar. Dimensi politik dan kepentingan sangat mungkin terlihat dengan membandingkan variabel-variabel dalam penyerangan ini.

Inti pemikiran Aristoteles adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki tujuannya masing-masing. Ia menyebutnya dengan sebutan goal-directed. Jika demikian, tidak ada kejadian atau peristiwa yang berdiri sendiri – walaupun untuk kejadian-kejadian yang tidak bisa dijelaskan secara rasional, pelarian yang sering dipakai adalah “rencana Tuhan”. Hal ini jugalah yang membuat pemikiran Aristoteles dekat dengan ajaran-ajaran beberapa agama.

Dari konteks tersebut, jelas bahwa kasus penyerangan terhadap pemuka agama dan ulama juga punya tujuan tertentu. Jelas bahwa salah satu maksud dalam aksi ini adalah untuk menekankan persoalan identitas itu.

Lalu, jika melihat keterangan pihak kepolisian yang menyebut kasus-kasus ini dilakukan oleh orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, apakah ada tendensi tertentu untuk meredam gejolak dan kemarahan yang mungkin timbul dengan menyebutnya sebagai “aksi orang gila”?

Selain itu, perlu diingat juga bahwa saat ini pembahasan RUU Anti-Terorisme juga tengah mengalami tarik ulur di DPR, termasuk terkait pelibatan militer dalam penanganan tindak pidana terorisme. Apakah ada ujung yang mengarah ke sana, misalnya demi menciptakan suasana yang terlihat lebih “genting” demi memuluskan RUU tersebut?

Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, ada kompleksitas isu di balik kasus-kasus penyerangan ini.

Kausalitas Aristoteles akan membantu menelusuri persoalan ini dan melihat variabel-variabel yang saling berhubungan satu sama lain, termasuk tujuan dari kejadiannya. Jika politik adalah muaranya, maka pada akhirnya benarlah kata-kata Aristoteles di awal tulisan ini, bahwa manusia secara alami adalah makhluk politik. (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.