HomeNalar PolitikAnies, Capres Underdog

Anies, Capres Underdog

Kecil Besar

Pasca kejadian pada final Piala Presiden 2018, simpati politik terhadap Anies Baswedan menguat. Bahkan, hal tersebut membuka peluangnya menjadi calon presiden (capres) dan berpotensi menjadi “kuda hitam” di Pilpres 2019. Mungkinkah?


PinterPolitik.com

“I always want to think of myself as an underdog.”

– Donald Trump –

[dropcap]K[/dropcap]ejadian penghadangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada saat final Piala Presiden 2018 beberapa waktu lalu memang masih menjadi pergunjingan. Namun, hal yang paling menarik dari kejadian itu adalah efek politis yang ditimbulkannya.

Selain karena momentum pertandingan yang disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), kejadian tersebut memanaskan kembali tensi politik antara kubu pemerintah dan oposisi. Kubu terakhir adalah yang mengantarkan Anies menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta.

Nyatanya, peristiwa itu membuat nama Anies naik ke permukaan, bahkan dianggap sebagai momentum politik cucu AR Baswedan itu untuk naik ke panggung politik yang lebih tinggi: Pilpres 2019.

Kejadian yang terekam kamera tersebut memang membuat simpati politik terhadap Anies berdatangan dari masyarakat. Apalagi, banyak yang membandingkan perbedaan perlakuan yang diterima Anies dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada gelaran Piala Presiden sebelumnya.

Jika demikian, seberapa besar peluang Anies jika maju menjadi calon presiden? Di tengah “kebosanan politik” masyarakat yang masih dihadapkan pada dua sosok utama: Jokowi dan Prabowo Subianto, yang nyatanya bagi sebagian kelompok masyarakat masih jauh dari ekspektasi pemimpin yang ideal, mampukah Anies menjadi calon pemimpin alternatif?

Mungkinkah Anies Jadi Capres?

Sebelum kejadian di final Piala Presiden ini, beberapa bulan terakhir nama Anies Baswedan dan partnernya Sandiaga Uno memang menjadi penghias utama pemberitaan di berbagai media. Banyak kebijakan dan gimik politik keduanya di ibukota yang mengundang perdebatan dan pergunjingan di sana sini, mulai dari realisasi janji kampanye, penataan Tanah Abang, hingga upaya penanganan banjir di ibukota.

Namun, berbagai persoalan dan kontroversi tersebut nyatanya berdampak positif bagi popularitas keduanya – terutama bagi Anies Rasyid Baswedan. Nama Anies menjadi terkerek di panggung politik nasional. Mungkinkah hal itulah yang telah ia perjuangkan sejak hari pertama menjabat sebagai Gubernur Jakarta melalui kata-kata “pribumi” yang keluar dari mulutnya saat serah terima jabatan? Hanya Anies yang tahu.

Anies, Capres Underdog

Yang jelas aksi-aksi tersebut memang berhasil mengangkat pamor Anies. Survei Indo Barometer pada akhir Januari 2018 lalu menyebut Anies sebagai salah satu kandidat yang berpotensi menjadi “kuda hitam” pada Pilpres 2019.

Dalam survei tersebut, jika menggunakan skema 3 calon presiden, posisi Anies ada di atas kandidat-kandidat lain selain Jokowi dan Prabowo, walaupun dengan persentasi yang hanya 2,4 persen. Elektabilitas Anies ada di atas calon kuat lain macam Jenderal Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Survei tersebut juga menyebutkan bahwa dalam hal kompetensi mengatasi berbagai persoalan kenegaraan, Anies secara mayoritas ada di posisi 3 besar bersama Jokowi dan Prabowo. Bahkan untuk solusi perumahan terjangkau, Anies dinilai jauh lebih baik dibandingkan Prabowo dan hanya kalah dari Jokowi.

Artinya, bisa disimpulkan bahwa sebagai calon presiden atau calon wakil presiden, Anies tidak bisa dianggap remeh, apalagi jika dibandingkan dengan calon lain seperti Gatot Nurmantyo dan Agus Hatimurti Yudhoyono (AHY). Dalam segala kompetensi yang dimilikinya, Anies sedikit lebih unggul dibanding kandidat lain dan berpotensi menjadi calon yang kuat untuk berhadapan dengan Jokowi jika Prabowo tidak maju lagi pada Pilpres 2019 nanti.

Modal politik Anies adalah kemampuan komunikasi yang dimilikinya di mana untuk kriteria tersebut ia hanya ada di bawah Jokowi, Prabowo dan Jusuf Kalla. Selain itu, dibandingkan dengan Gatot dan AHY, Anies punya modal jabatan publik yang saat ini sedang ia emban, sehingga memungkinkannya untuk selalu disorot pemberitaan.

Dengan demikian, untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas pribadinya, Anies punya alat politik yang jauh lebih banyak – hal yang mungkin juga menjadi alasan mengapa Jokowi yang saat itu menjadi Gubernur Jakarta bisa mengalahkan Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Insiden Piala Presiden saja sudah begitu luar biasa membuat nama Anies melambung dan mendatangkan simpati politik masyarakat.

Peluang Anies menjadi calon RI 1 akan semakin besar jika Prabowo Subianto tidak mencalonkan diri lagi pada perhelatan di tahun 2019 nanti. Apalagi jika Prabowo berdiri di belakang Anies dan memberikan dukungan politik padanya. Belakangan, Prabowo memang disebut terlihat “tidak begitu berniat” untuk kembali terjun ke panggung politik di tahun depan.

Ketua Umum Partai Gerindra itu tentu akan menghitung ulang peluang politiknya apabila kembali maju melawan Jokowi, terutama dari sisi politik dan finansial. Artinya, peruntungan Anies juga akan sangat bergantung pada Prabowo Subianto.

Walaupun dengan tingkat keterpilihan yang masih sangat rendah, katakanlah, jika dibandingkan dengan Jokowi, Anies boleh jadi akan menjadi kontestan “kuda hitam” atau underdog pada Pilpres 2019 nanti. Bahkan, jika mampu meraih suara publik, Anies tentu saja akan mencatat sejarah atas namanya sendiri.

Dalam politik elektoral, fenomena ini seringkali dikenal dengan istilah underdog effect. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Herbert A. Simon dalam tulisan yang berjudul “Bandwagon and Underdog Effects and the Possibility of Election Predictions” yang diterbitkan dalam jurnal Public Opinion Quarterly pada tahun 1954.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Underdog effect dijelaskan sebagai efek yang terjadi dalam pemilu ketika ada kandidat atau partai yang terlihat akan mendapatkan dukungan mayoritas, namun karena dianggap pasti menang, pemilih justru menjatuhkan pilihannya pada calon yang dianggap lebih lemah dan diprediksi kalah – pihak yang disebut sebagai underdog dalam kontestasi politik tersebut.

Kondisi politik saat ini memang menempatkan Jokowi sebagai calon yang tidak tersaingi, baik dari sisi popularitas maupun elektabilitas. Jika Prabowo ingin agar Gerindra menjadi partai berkuasa, tidak ada salahnya strategi politik ini dicoba.

Underdog effect terjadi pada Pilkada Jakarta 2017 lalu, di mana Ahok yang dianggap sebagai calon terkuat, nyatanya bisa dikalahkan oleh Anies yang nota bene bahkan di awal-awal kemunculannya secara popularitas dan elektabilitas, justru berada di posisi yang paling rendah.

Dengan memanfaatkan momentum dukungan yang serupa dengan Pilkada Jakarta 2017 lalu, underdog effect adalah perjudian yang bisa diambil oleh oposisi dengan menggunakan Anies untuk mengalahkan Jokowi. Tapi, apakah mungkin?

Prabowo, Faktor Kunci?

Tidak salah jika menyebut Prabowo akan menjadi faktor kunci peluang Anies untuk menjadi RI 1. Secara kapasitas politik, Anies memang sangat terbuka untuk menjadi calon wakil presiden. Namun, ia akan sangat mungkin menjadi contender atau penantang serius mantan bosnya, Jokowi, jika Prabowo tidak mencalonkan diri lagi dan memberikan dukungan politiknya untuk Gubernur Jakarta itu.

Anies, Capres Underdog
Memberikan kesempatan pada Anies Baswedan untuk maju sebagai calon presiden akan menjadi pertaruhan politik Prabowo Subianto yang boleh jadi akan menguntungkan dirinya dan Gerindra. (Foto: Tribunnews)

Faktanya, terlepas dari segala kapasitas politik yang dimilikinya, Prabowo masih dianggap sebagai tokoh lama dengan segala rekam jejak masa lalunya yang kurang baik – walaupun label tersebut juga masih mengundang perdebatan. Mempercayakan kesempatan untuk maju pada Pilpres 2019 pada Anies menjadi perjudian yang mungkin justru akan berbalik menguntungkan Prabowo dan Gerindra.

Apalagi, probabilitas kekalahan jauh lebih besar terjadi jika Prabowo mencalonkan dirinya sendiri, ketimbang memilih orang lain. Ukuran standar kapasitas politik Prabowo hanya akan mentok pada apa yang ia capai di Pilpres 2014 lalu.

Sementara sosok baru seperti Anies masih punya peluang yang sangat besar, tergantung seberapa kuat brand politik mantan rektor Universitas Paramadina itu dibangun. Apalagi, rekam jejak Anies jauh lebih baik dibandingkan Prabowo.

Anies tinggal membuktikan kapasitas kepemimpinannya di Jakarta dalam beberapa waktu ke depan. Peluang pencalonan dirinya juga akan dinilai dari seberapa mampu ia menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di ibukota, seperti kemacetan, banjir dan lain sebagainya.

Persoalannya tinggal apakah Prabowo mau mendukung Anies? Yang jelas, seperti kata Donald Trump di awal tulisan ini, menjadi underdog seringkali akan menjadi jalan untuk memenangkan kontes politik. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.