HomeNalar PolitikPandji, Sabda Kebangkitan Ahok

Pandji, Sabda Kebangkitan Ahok

Kecil Besar

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masih punya taring sekalipun sedang dipenjara. Ini yang sepertinya membuat Pandji Pragiwaksono mengunggah video terbarunya di Youtube.


PinterPolitik.com

Tak ada angin dan hujan, komedian sekaligus juru bicara kampanye Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) pada Pilkada DKI Jakarta 2017 Pandji Pragiwaksono mengunggah video dengan judul yang singkat dan sangat ngena: “Kenapa Ahok Kalah?”

Judul ini begitu memancing orang untuk menonton, baik pendukung Ahok atau pembenci Ahok. Judul yang juga menggelitik banyak pihak, karena isu ini diangkat lagi cukup lama setelah Pilkada DKI selesai dan bagi sebagian orang mungkin agak “basi”.

Dalam videonya tersebut, Pandji mencoba menjelaskan alasan-alasan mengapa Ahok bisa kalah dalam Pilkada lalu, sekalipun memiliki approval rating yang tinggi selama dirinya menjabat gubernur, yakni mencapai 70 persen. Video tersebut fokus pada kekurangan Ahok saja, bukan membahas kelebihan Anies sebagai lawan Ahok.

Ada beberapa poin argumen Pandji yang patut disoroti, antara lain rasionalitasnya soal politik agama serta kekurangan-kekurangan obyektif Ahok sebagai seorang politisi. Di samping kontroversi argumennya, disinyalir ada pula motif politik di balik pembuatan video tersebut.

Apa saja?

Benarkah Islam Menjatuhkan Ahok?

“Karena agama. Ini adalah salah satu jawaban atau mungkin satu-satunya jawaban ketika pertanyaan ini (kenapa Ahok kalah) dilontarkan. “

-Pandji Pragiwaksono-

Sudah menjadi pengetahuan umum, mungkin, bahwa Ahok kalah dalam Pilkada lalu karena alasan agama. Ahok adalah non-Muslim sementara Anies adalah seorang Muslim dengan citra yang begitu baik. Alasan agama ini, menurut asumsi para pengamat, bisa jadi satu-satunya alasan anomali politik kekalahan Ahok di tengah tingginya approval rating pemerintahannya.

Tapi, sepertinya citra itu juga berdampak minus untuk Anies. Anies masih sering dicap pemenang karena alasan agama semata. Masih banyak suara-suara pendukung Ahok yang mencoba melawan pemerintahan Anies.

Dan argumen utama Pandji soal agama, tentu saja, mencoba mematahkan anggapan kepada Anies tersebut sekaligus menghantam sekali lagi para pendukung Ahok.

Yang menarik, Pandji mencoba menjelaskan politik Islam dalam gelaran Pilkada DKI 2017 dengan sebuah pidato Soekarno tertanggal 1 Juni 1945. Pandji mengatakan bahwa dalam pidato tersebut ada maksud Soekarno memperbolehkan masyarakat untuk memilih berdasarkan agama, yang berarti umat Islam boleh memilih pemuka Islam untuk menjadi pemimpin politik.

Pandji mungkin merujuk pada buku Konstelasi Politik Indonesia: Pancasila dalam Analisis Fenomenologi Hermeneutik karya Dr. Mhd Alkis. Dalam buku tersebut, analisis tekstual mengenai sikap politik Islam Soekarno melalui pidatonya mungkin memang bermakna bahwa Soekarno berusaha merangkul Islam. Suatu sikap yang ditunjukkan Soekarno agar pemuka-pemuka Islam dapat menerima Pancasila tanpa menyebut Syariat Islam sama sekali di dalamnya.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Namun, sepertinya interpretasi tekstual itu akan melenceng jauh bila ditarik secara kontekstual. Dalam buku itu juga, dijelaskan bagaimana Islam justru menjadi pemberontak kekuasaan Soekarno, antara lain melalui kelompok NII, DI/TII, sampai PRRI/Permesta yang diboncengi oleh Masyumi. Berkat pengalaman itu—yang terjadi pasca 1945—Soekarno sangat mungkin semakin menjauh dari kalangan Muslim, termasuk dalam hubungan legislatif dan didorongnya hukum-hukum Islam.

Oleh karena itu, kurang tepat dalam menganalisis konteks di tahun 1945 dan mengaitkannya dengan konteks Pilkada 2017. Apakah Soekarno menginginkan umat Islam tutup mata terhadap calon pemimpin non-Muslim? Tidak, Soekarno hanya ingin meyakinkan bahwa Islam akan memiliki porsinya secara natural, bahkan tanpa hukum Syariah yang dijadikan konstitusi jika kaum muslim terlibat aktif dalam politik. Dengan demikian, tanpa hukum Syariah pun hukum Islam tetap dapat ditegakkan.

Juga yang sangat menarik, Pandji mengakui bahwa perilaku memilih pemimpin karena “Islam” sama buruknya dengan perilaku memilih pemimpin karena “Pancasila”.

Kemudian, supaya tak hanya berfokus kepada agama, Pandji pun berusaha menjelaskan alasan-alasan lain mengapa Ahok kalah, misalnya karena Ahok bukan politisi handal dan pendukung Ahok sangat emosional.

Benar memang. Sekalipun pernah menjabat sebagai Bupati Bangka Belitung, anggota DPR, gonta ganti partai sampai duduk di kursi gubernur, Ahok bukanlah politisi sehandal Anies. Ahok tidak populer karena suka menerabas birokrasi dan tidak punya hubungan baik dengan DPRD. Pun benar kalau pendukung Ahok terlihat emosional, karena loyalitas mereka kepada Ahok ditabrakkan dengan emosi lawan Ahok untuk menjatuhkan Ahok dengan politik agama.

Dengan narasi-narasi “netral” seperti itu, Pandji sukses membuang sejauh-jauhnya persepsi bahwa Anies-Sandi menang hanya karena alasan agama. Pada titik ini, Pandji menabrakkan dirinya dengan pendapat beberapa pengamat politik, misalnya Profesor Sumanto Al Qurtuby dari King Fahd University Arab Saudi yang justru menyebut agama sebagai faktor penentu utama di Pilkada Jakarta.

Lebih jauh, pinterpolitik.com pun pernah membuat ulasan terkait tumbangnya Ahok pada Pilkada tersebut yang disebut berkaitan dengan kepentingan-kepentingan politik-ekonomi di antara partai-partai pengusungnya. Artinya persoalan kekalahan Ahok jauh lebih komplek daripada apa yang diberitakan di permukaan.

Menuju Bangkitnya Ahok

Di era kemajuan teknologi informasi, video Pandji tentu punya kekuatan politik sendiri. Video ini akan tetap dinikmati oleh banyak pihak, karena Pandji adalah seorang public figure yang pada titik tertentu bisa menjadi opinion leader atau pemimpin opini.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Dalam teori opinion leadership atau kepemimpinan opini menurut David Riesman dalam The Lonely Crowd, pemimpin opini adalah orang yang influensial dalam memengaruhi opini publik akan suatu urusan.

Berangkat dari studi soal bisnis dan pemasaran, opinion leader pun beranjak ke dunia politik. Jonru Ginting dan Denny Siregar adalah beberapa contohnya. Mereka adalah sosok yang berpengaruh di media sosial dan penting untuk menggiring suara para pengguna media sosial.

Jika demikian, dalam kasus ini, siapa yang menyerang dan diserang? Berturut-turut, Anies dan Ahok, tentu saja. Membenarkan kemeangan Anies dan memaklumi kekalahan Ahok.

Lalu, apa maksud praktis dari menyerang Ahok? Apakah ada motif politik di baliknya?

Ahok punya peluang untuk bangkit kembali di tahun politik

Sangat mungkin memang, karena Ahok saat ini masih menjadi aktor politik yang punya popularitas tinggi sekalipun sedang mendekam di tahanan. Beberapa selentingan menyebutkan, Ahok akan keluar dari tahanan dan menjadi “kuda hitam” dalam kontestasi di tahun politik.

Beberapa kabar terakhir mengatakan, bahwa Ahok akan mendapatkan pengurangan masa tahanan dari dua tahun menjadi satu tahun saja. Pada Natal 2017 lalu, beredar isu bahwa Ahok akan mendapatkan remisi karena berkelakuan baik.

Tak hanya itu saja, Ahok pun dikabarkan sudah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) vonisnya atas kasus penistaan agama, agar dia bisa mendapatkan keringanan hukuman dan segera dibebaskan dalam waktu dekat. Adapun sidang PK Ahok ini sudah dijadwalkan berlangsung pada 26 Februari mendatang.

Bila upaya-upaya “meloloskan” Ahok ini benar, mungkin pula ada tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di belakangnya. Jokowi mungkin dapat menyelamatkan Ahok—dengan proses pengadilan tentu saja—karena Jokowi punya kepentingan atas Ahok yang merupakan salah satu pendukung setianya.

Ini juga sejalan dengan selentingan lain, bahwa Ahok diingikan oleh Jokowi untuk mengisi kursi Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Pasalnya, beberapa langkah Mendagri Tjahjo Kumolo dinilai menyimpang dari kepentingan Jokowi, misalnya pada kasus Plt. Gubernur dari Polri beberapa waktu lalu. Tjahjo pun mungkin tidak dapat dikendalikan oleh Jokowi karena adanya pengaruh PDIP di belakangnya.

Jika demikian, apakah Jokowi memang berniat mengamankan provinsi-provinsi melalui kursi Mendagri di tahun politik 2018 dan 2019, yakni dengan menempatkan Ahok di kursi tersebut? Tidak ada yang tahu.

Lalu, mungkinkah kebangkitan Ahok inilah yang ingin diantisipasi oleh kubu Gerindra, dengan menggunakan Pandji sebagai opinion leader? Berikan pendapatmu. (R17)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Mengejar Industri 4.0

Revolusi industri keempat sudah ada di depan mata. Seberapa siapkah Indonesia? PinterPolitik.com “Perubahan terjadi dengan sangat mendasar dalam sejarah manusia. Tidak pernah ada masa penuh dengan...

Jokowi dan Nestapa Orangutan

Praktik semena-mena kepada orangutan mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), praktik-praktik itu terus...

Indonesia, Jembatan Dua Korea

Korea Utara dikabarkan telah berkomitmen melakukan denuklirisasi untuk meredam ketegangan di Semenanjung Korea. Melihat sejarah kedekatan, apakah ada peran Indonesia? PinterPolitik.com Konflik di Semenanjung Korea antara...