HomeNalar PolitikDuo DM, Kartu AS Jabar

Duo DM, Kartu AS Jabar

Kecil Besar

Saat lembaga survei belum mengeluarkan hasil ‘ramalannya’, seorang ahli aurametafisis dan konsultan spiritual malah sudah mantap berkata kalau Duo DM akan berjaya di Pilkada Jabar nanti.


PinterPolitik.com 

[dropcap]J[/dropcap]eng Frolin begitulah ia dipanggil. Praktisi aurametafisis dan konsultan spiritual ini, sudah mantap menyatakan kalau kursi Jawa Barat (Jabar) satu akan diduduki oleh Duo DM, yaitu Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar (Demiz). Ramalannya ini, bagi para pendukung mungkin akan menciptakan senyum kepuasan, tapi bagi pihak lawan bisa saja responnya akan meremehkan.

Tapi tunggu dulu, ‘penglihatan’ Jeng Frolin ini mungkin berbau mistis tanpa analisis kritis. Namun dalam kacamata politik yang disertai dengan analisa serta hitungan rasional yang tajam, hasil yang sama bukan mustahil dapat terjadi. Kekuatan dua partai besar di belakang mereka, merupakan salah satu kunci yang akan mendukung penuh kemenangan Duo DM ini.

Bila dilihat dari perolehan kursi yang diraih Golkar dan Demokrat di DPRD Jabar, jumlahnya termasuk yang cukup tinggi, walau tidak sekuat PDI Perjuangan. Di Jabar, Golkar memiliki 17 kursi dan Demokrat menyumbang 12 kursi, sehingga secara keseluruhan Duo DM menguasai 29 kursi di Jabar.

Namun mengandalkan jumlah kursi saja tentu tidak cukup, lalu apalagi  kekuatan yang dimiliki keduanya? Sebenarnya senjata apa lagi yang mereka miliki agar dapat menjadi orang paling berkuasa di Jabar, mengalahkan para pesaing mereka yang juga tidak bisa dibilang enteng?

Bersatunya Kekuatan Biru dan Kuning

Sebelum Duo DM resmi diangkat sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, Partai Golkar masih gamang dan terbelah memberikan dukungannya. Di bagian pusat, Golkar disinyalir lebih memberikan suaranya kepada Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil. Sementara di daerah, suara dukungan kepada Dedi Mulyadi ramai bergulir.

Seriring berjalannya waktu dan gonjang-ganjing di tubuh Golkar berlalu, atau tepatnya setelah Setya Novanto terjaring KPK atas kasus korupsi E-KTP, perlahan suara Golkar kembali kepada Dedi Mulyadi. Airlangga Hartarto mendeklarasikan dirinya sebagai calon gubernur dari Golkar bersama dengan Dedy Mizwar dari Demokrat.

Duo DM saat ini masih aktif menjabat sebagai pemimpin daerah. Dedi Mulyadi masih aktif sebagai Bupati Purwakarta, sementara Deddy Mizwar merupakan petahana, karena masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jabar. Berdasarkan posisinya tersebut, tentu Demiz sudah memiliki ‘peneropongan’ serta kuasa terhadap berbagai proyek dan kebijakan yang sedang atau akan berlangsung. Ini merupakan modal besar mereka di Pilkada nanti.

Sebagai pertahana, Demiz akan mampu merangkul para pengusaha yang sedang mengembangkan proyek di Jabar. Bagaimana tidak, menurut Ferry Salanto, pengamat properti dari Colliers International Research, Jabar saat ini tengah ‘dikepung’ oleh beberapa proyek infrastruktur.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Selain mega proyek Meikarta di Cikarang, Jabar juga tengah melakukan pembangunan jalan tol layang Jakarta – Cikampek, kereta Cepat Jakarta – Bandung, pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka, Pelabuhan Patimban di Subang, hingga pembangunan Light Rail Transmit (LRT) di daerah Bekasi dan sekitarnya.

Dari ungkapan Ferry tersebut, secara tersirat, terdapat ‘kunci’ untuk memenangkan hati Jabar, yakni dengan memberi sinyal positif dan lampu hijau kepada pihak pengembang dan pengusaha untuk terus melanjutkan proyeknya.

Dengan demikian, sosok gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat nantinya tak hanya harus apik secara kompetensi dan keunggulan program yang ditawarkan, tetapi juga pandai dalam hal negosisasi bisnis. Nah, Duo DM kemungkinan besar mampu melakoninya.

Walau banyak pihak pernah menyebut kalau Dedi Mulyadi tak memiliki kedekatan apapun dengan para pengusaha, namun Golkar dikenal sebagai partainya para pengusaha. Akan aneh, bila tidak ingin dikatakan naif, kalau menyebut Dedi Mulyadi tak memiliki koneksi dekat dengan para pengusaha.

Lihat saja bagaimana kedekatan antara Dedi Mulyadi dengan Airlangga Hartarto, serta peranannya dalam memuluskan Menteri Perindustrian tersebut hingga naik menjadi ketua umum. Sebagaimana halnya Aburizal Bakrie, Airlangga juga merupakan politisi dan pengusaha handal.

Kedekatan Dedi Mulyadi dengan Airlangga, tentu membuka jalan baginya untuk bersentuhan dengan pengusaha lain. Secara langsung juga akan membuat dirinya membuka pintu lebar-lebar pada para pengembang serta pengusaha yang ingin melancarkan proyek-proyek jumbonya di Jabar. Sebab siapapun yang memimpin Jabar, akan mendapat keuntungan dari keberadaan proyek-proyek jumbo ini.

Di sisi lain, Demiz juga punya modal yang tak kalah kuat. Sebagai Wakil Gubernur Jabar, ia memegang akses yang berkaitan dengan keberlangsungan kebijakan proyek-proyek yang berjalan. Walau pernah melontarkan penolakannya pada proyek Meikarta, Demiz toh akhirnya memberikan juga izin lahan bagi pembangunan kawasan terpadu tersebut.

Keramahan dan kemudahan yang akan diberikan Duo DM kepada pengusaha dan pengembang, juga bisa dilihat dari dukungan Hary Tanoesodibjo (HT) kepada Duo DM. Seperti diketahui, HT adalah pengusaha cum politikus yang namanya beberapa kali masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia. Kalau sudah begini, apakah ada alasan bagi para penguasa untuk tidak melirik Duo DM?

Kondisi yang hampir sama juga ada dalam tubuh Demokrat, di mana banyak pengusaha yang bercokol di dalamnya. Salah satu yang terkenal adalah Ruli Hidayat, pengusaha yang maju bersama Nurul Arifin dalam Pemilihan Walikota Bandung. Bahkan menurut Aliansi Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sebagian besar kader Demokrat berprofesi sebagai pengusaha tambang.

Ruli Hidayat dan Nurul Arifin (sumber: istimewa)

Kuatnya dukungan penguasaha di kedua partai tersebut, tentu merupakan keuntungan besar bagi Duo DM. Selain kepastian sokongan dana, tentu hadirnya berbagai proyek infrastruktur di Jabar tentu akan ikut menunjang kemajuan provinsi berpenduduk 32 juta jiwa ini.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Namun bagaimana dukungan dari para tokoh masyarakat Jabar sendiri? Apalagi Jabar merupakan wilayah yang dikenal sangat menghormati para sesepuh atau orang yang dituakan. Restu dari para pemuka masyarakat ini vital, karena juga dapat mempengaruhi dukungan masyarakat.

Restu Para Tokoh Jabar

Di era Orde Baru, Solihin Gautama Purwanegara alias Solihin GP atau yang akrab disapa dengan Mang Ihin, merupakan tokoh yang sangat penting. Di Jabar, sesepuh yang telah berusia 91 tahun ini juga masih memiliki pengaruh yang sangat besar. Tak heran, saat ia terserang stroke ringan lalu, sejumlah pejabat pun menyempatkan diri menjenguknya. Bukan hanya Emil, tapi Jokowi dan JK pun ikut menemuinya.

Mang Ihin dan JK (sumber: istimewa)

Selain pernah menjabat sebagai Gubernur Jabar pada periode 1970-1974, Mang Ihin juga merupakan keturunan bangsawan Sunda. Di masa kepemimpinannya, ia sering mengundang Presiden Soeharto untuk mengunjungi Bumi Pasundan. Salah satunya ke Suku Baduy di Pandeglang dan petani di daerah Binong, Subang, dan Kertasmaya.

Menghadapi Pilkada nanti, Mang Ihin memang sempat menyatakan dukungannya pada Emil, tepatnya di awal tahun 2017 lalu. Namun seiring beralihnya calon yang diusung oleh Golkar, bisa jadi dukungan Mang Ihin ikut berbelok ke Duo DM. Mengapa? Karena mantan anggota DPR dan MPR ini, juga berasal dari partai yang sama dengan Dedi Mulyadi.

Sebagai tokoh senior Golkar, restu Mang Ihin tentu akan sangat berpengaruh pada Duo DM. Lagipula, sepak terjang Dedi Mulyadi pun tak kalah jika dibandingkan dengan Emil. Berdasarkan karakter masyarakat Sunda yang masih sangat tradisionalis dan religius, Mang Ihin dianggap sangat berjasa dalam menjaga kelestarian Budaya Sunda dengan toleransi agama.

Tokoh senior Golkar lainnya yang juga memiliki pengaruh kuat di Jabar, adalah  Ginanjar Kartasasmita. Sama halnya dengan Mang Ihin, Ginanjar juga merupakan tokoh besar bahkan mantan menteri di era Orde Baru. Selain itu, Ginanjar juga disebut-sebut memiliki kedekatan dengan para pengusaha yang memegang proyek jumbo di Jabar. Melalui pengaruh Airlangga, sudah pasti restunya akan diberikan pada Duo DM.

Melalui dukungan dua tokoh berpengaruh di Jabar ini, bisa saja akan mampu mendongkrak keterpilihan Duo DM ini nantinya. Dengan tiga kekuatan yang dimiliki keduanya, yaitu jumlah kursi yang cukup, kedekatan dengan para pengusaha, dan restu para sesepuh, akan menjadi modal mumpuni untuk menjaring suara. Dengan begitu, bisa saja hasil terawang Jeng Frolin nantinya bukan sekedar isapan jempol belaka. (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....