HomeCelotehIndonesia Terserang Virus Atwater

Indonesia Terserang Virus Atwater

Kecil Besar

Memasuki awal tahun politik, situasi sudah mulai hangat dengan berbagai isu yang menyerang moral para kandidat. Virus kampanye hitam ala Atwater menghantui Indonesia?


PinterPolitik.com

“Kampanye hitam itu harus betul-betul kita hilangkan dari proses-proses di demokrasi kita.”

[dropcap]P[/dropcap]esan tersebut disampaikan Jokowi dihadapan para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/1) kemarin. Menurutnya, kampanye hitam yang saling mencela dan membunuh karakter lawan, bukanlah demokrasi yang menunjukkan karakter Indonesia.

Demokrasi Indonesia, kalau menurut Mantan Walikota Solo ini, seharusnya menunjukkan karakter yang penuh kesantunan. Mengedepankan ide, gagasan, dan program dalam pertarungan di setiap pemilihan umum, baik pada tingkat pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres).

Kalau ditarik ke belakang, Indonesia memang bisa dibilang sedang ‘belajar’ berdemokrasi. Walaupun sudah lebih dari 70 tahun merdeka, namun baru beberapa tahun saja rakyat Indonesia benar-benar memegang kuasa untuk memilih pemimpinnya sendiri. Itu saja, sudah banyak yang mengeluh untuk dievaluasi.

Selain faktor kesiapan masyarakatnya, partai politik dan politikusnya pun belum banyak yang siap untuk melakukan demokrasi secara ‘benar’. Buktinya, politik uang masih sering terjadi di mana-mana. Selain parpol yang menggunakan kesempatan untuk ‘memeras’ calon, rakyatnya pun masih sangat bisa untuk ‘dibeli’ suaranya.

Tapi belum selesai urusan dengan politik uang, para politikus kita yang sering sowan ke negara Paman Sam, ternyata juga mengadopsi sistem lain yang mampu mempengaruhi suara pemilih. Apalagi kalau bukan kampanye hitam atau black campaign yang disebut-sebut Jokowi di awal tulisan ini.

Kampanye yang kerap digunakan para politikus AS untuk menjatuhkan lawan dan merebut suara ini, belakangan mulai banyak dimainkan di tanah air. Padahal di negaranya sendiri, strategi kampanye hitam yang pertama kali digunakan oleh Lee Atwater ini telah dianggap sebagai ‘sampah’.

Tapi ya namanya juga orang Indonesia, sampah di AS kalau menguntungkan di Indonesia, kenapa enggak diadopsi aja? Jadilah, demokrasi kita diacak-acak oleh para politikus yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri saja. Berkoar-koar tentang nasionalisme, namun menyebarkan kebencian yang nyaris memecah belah bangsa.

Herannya, orang-orang ini kayaknya santai dan bangga saja dengan hasil permainan kotornya. Di negara asalnya, virus Atwater memang selalu sukses menggulingkan lawan, jadi tak heran kalau di Indonesia virus ini pun bisa sangat merajalela. Apalagi bila dicampurkan dengan unsur SARA, pas sudah formulanya. Siapapun tentu bisa tertular. Pertanyaannya sekarang, sadarkah kalau kita sudah mengidapnya? (R24)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...