HomeNalar PolitikMengapa Era Keemasan Sains Orba Hilang? 

Mengapa Era Keemasan Sains Orba Hilang? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat menggunakan teknologi A.I.

Indonesia sempat alami euforia sains dan imajinasi yang tinggi ketika awal hingga pertengahan Orde Baru. Mengapa tren tersebut tiba-tiba hilang? 


PinterPolitik.com 

Semua orang pasti mengenal dua raksasa dunia komik: Marvel dan DC. Kedua penerbit ini terkenal sebagai “pabrik” karakter pahlawan super dan ide-ide sains fiksi. Dalam beberapa tahun terakhir, eksistensi mereka semakin menonjol di berbagai media modern, mulai dari film hingga gim video. 

Kesuksesan Marvel dan DC tentu tidak lepas dari imajinasi tinggi dan minat besar masyarakat Amerika Serikat terhadap ilmu pengetahuan. Amerika bisa dibilang sebagai rumah industri sains fiksi dan pahlawan super, di mana keberhasilan suatu industri sangat dipengaruhi oleh selera dan kebutuhan konsumennya. 

Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di masa lalu, Indonesia pernah memiliki semangat serupa dalam industri pahlawan super dan sains fiksi. Pada era akhir Orde Lama hingga pertengahan Orde Baru, banyak komikus Indonesia yang menghasilkan karya populer, seperti Widodo Noor Slamet dengan karakter Godam dan Harya Suraminata dengan Gundala. 

Menariknya, periode ini juga dikenal oleh sebagian orang sebagai “Era Keemasan Sains” di Indonesia, karena dibarengi dengan berdirinya institusi-institusi penting seperti LAPAN, LIPI, dan Dewan Penerbangan dan Antariksa Luar Republik Indonesia. 

Karena itu, pantas juga untuk dispekulasikan bahwa emangat terhadap ilmu pengetahuan dan imajinasi yang tinggi tampaknya pernah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia pada masa itu. Namun anehnya, perlahan semangat ini memudar saat memasuki era reformasi. 

Lantas, menarik untuk kita pertanyakan, apa yang menyebabkan tren ini hilang?  

image

Keminatan & Imajinasi = Kemajuan Negara? 

Kemajuan sains suatu negara tidak hanya diukur dari jumlah penemuan atau inovasi teknologinya, tetapi juga dari sejauh mana masyarakatnya memiliki ketertarikan terhadap produk budaya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mengonsumsi ilmu pengetahuan secara akademis, tetapi juga memahaminya melalui media populer. 

Baca juga :  Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Namun, di Indonesia, tren yang begitu positif akan ilmu pengetahuan dan “dunia imajinasi” perlahan-lahan menghilang menjelang akhir era Orde Baru. Dan entah berhubungan atau tidak, degradasi ini jika diamati cukup berjalan bersamaan dengan berkurangnya dukungan pemerintah ke program-program saintifik strategis.  

Lembaga-lembaga sains di Indonesia pada masa itu sebenarnya memiliki potensi besar. LAPAN, misalnya, pernah menjadi ujung tombak dalam penelitian antariksa, sedangkan LIPI aktif dalam berbagai riset ilmiah. Namun, seiring berjalannya waktu, dukungan pemerintah terhadap lembaga-lembaga ini terus berkurang.  

Hal ini terjadi setidaknya ketika periode tahun 1980-an, ketika terjadi pergeseran kebijakan pemerintah yang berdampak pada penurunan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.  

Fokus utama pemerintahan Presiden Soeharto saat itu adalah stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi melalui eksploitasi sumber daya alam. Akibatnya, sektor penelitian dan pengembangan (litbang) mengalami penurunan prioritas. Hal ini tercermin dari berkurangnya anggaran dan dukungan terhadap lembaga-lembaga penelitian seperti LIPI dan LAPAN.  

Selain itu, menariknya, kurikulum pendidikan pada pertengahan hingga akhir masa Orde Baru pun lebih menekankan pada pembinaan ideologi negara dan pengetahuan dasar, dengan pendekatan yang otoriter dan birokratis, sehingga kurang mendorong kreativitas dan inovasi dalam bidang sains. 

Lantas, seberapa mungkin semua hal ini merupakan suatu hal yang direkayasa? 

image

Mungkinkah Rekayasa Sosial? 

Kemunduran minat terhadap sains dan pengurangan dukungan terhadap lembaga-lembaga penelitian di Indonesia pada akhir era Orde Baru bisa jadi bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari pola rekayasa sosial yang sering dilakukan oleh sejumlah otoritas yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu.  

Rekayasa sosial pada dasarnya adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh pemerintah untuk memengaruhi pola pikir, perilaku, dan prioritas masyarakat. Di Amerika Serikat, misalnya, selama Perang Dingin, pemerintah secara aktif mempromosikan sains dan teknologi sebagai bagian dari “Perlombaan Antariksa” melawan Uni Soviet.  

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Melalui media, pendidikan, dan hiburan, masyarakat didorong untuk mengagumi ilmuwan dan menganggap sains sebagai simbol kekuatan nasional. Namun, pasca berakhirnya perlombaan tersebut, fokus pemerintah beralih, dan minat terhadap sains di kalangan publik secara perlahan menurun. 

Kasus lain dapat dilihat di Uni Soviet, di mana pemerintah memprioritaskan teknologi dan inovasi yang mendukung militer dan ekonomi negara. Sektor-sektor yang tidak dianggap strategis sering kali ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bagaimana kebijakan pemerintah dapat membentuk arah perkembangan ilmu pengetahuan dalam masyarakat. 

Kembali ke Indonesia, pola serupa terlihat ketika fokus pemerintahan Orde Baru bergeser dari pengembangan ilmu pengetahuan menuju stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam. Dalam konteks ini, pengurangan dukungan terhadap lembaga-lembaga penelitian seperti LIPI dan LAPAN bisa jadi merupakan bagian dari strategi untuk mengalihkan perhatian masyarakat. 

Jika benar ada rekayasa sosial dalam pengalihan fokus ini, hal tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan. Sebagai alat kontrol sosial, rekayasa semacam ini sering kali digunakan oleh negara untuk menciptakan stabilitas atau memperkuat kekuasaan.  

Bagaimanapun juga, tren ketersukaan terhadap sains dan daya imajinasi yang tinggi harus kita kembalikan semampu mungkin, karena hal ini mampu menjadi benih dari kemajuan iptek sebuah negara. Untuk saat ini, mungkin jawabannya ada pada upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung daya kritis, imajinasi, dan rasa ingin tahu, baik melalui pendidikan, media, maupun kebijakan yang berpihak pada pengembangan sains. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing