HomeHeadlinePuan-Mega, Ada ‘Perang Sipil’ PDIP? 

Puan-Mega, Ada ‘Perang Sipil’ PDIP? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut

Berbeda dari Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani belakangan tunjukkan gestur yang lebih lembut kepada pemerintah dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mengapa demikian? 


PinterPolitik.com 

Kemenangan legislatif PDIP tahun ini seakan terselimuti oleh awan besar “amarah” sang Partai Banteng terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ya, semenjak awal Pemilu 2024 dilaksanakan, sejumlah elite PDIP, bahkan termasuk Megawati Soekarnoputri sendiri, melontarkan pernyataan-pernyataan yang cukup pedas terhadap pemerintahan Jokowi. 

Pada November 2023 misalnya, Megawati sempat menyebut penguasa yang baru berkuasa sekarang bertindak layaknya Orde Baru, pernyataan ini sontak dinilai publik sebagai sindiran langsung kepada Jokowi.  

Selain itu, politisi-politisi PDIP seperti Hasto Kristiyanto dan Deddy Sitorus juga tercatat melontarkan pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan kekecewaannya terhadap Jokowi dengan mengatakan bahwa Jokowi telah meninggalkan “rumah” yang membesarkannya, yakni PDIP. 

Namun menariknya, di balik pernyataan-pernyataan pedas para pentolan PDIP tersebut, anak Megawati, Puan Maharani, justru belakangan menunjukkan gestur yang lebih lembut. 

Terkait pernyataan Megawati soal Orde Baru tadi, misalnya, Puan sempat mengklarifikasi bahwa pernyataan tersebut adalah pernyataan umum dan tidak menyinggung Jokowi. Kemudian, Puan juga sempat dinilai memberi sinyal melembut kepada pemerintah melalui pernyataannya ketika sidang Paripurna DPR 5 Maret 2024, yang mengatakan bahwa di dalam Pemilu kalah dan menang adalah hal yang wajar. 

Ketika Puan berkunjung ke Solo pada 20 Maret silam, Agung Baskoro, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, bahkan melemparkan dugaan bahwa Puan sebetulnya juga bertemu dengan Gibran Rakabuming Raka, dalam rangka menjaga hubungan baik dengan keluarga Jokowi. 

Perbedaan-perbedaan gestur politik ini tentu menarik untuk kita perhatikan. Apakah ini adalah pertanda bahwa sedang ada perbedaan arus di dalam internal elite PDIP? Dan, mengapa Puan terlihat punya sikap yang berbeda dibanding elite-elite PDIP lainnya? 

mungkinkah mega dikudeta puan

Puan dan “Muka Tersembunyi” PDIP 

Hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun ini mungkin memiliki dampak politik yang paling berbeda dibanding Pileg-Pileg sebelumnya, ini karena dalam Pileg sekarang, hampir semua orang bisa merasakan bahwa pembentukkan oposisi di DPR kemungkinan besar tidak akan kuat. 

Dari PDIP, PPP, NasDem, PKB, dan PKS, mungkin hanya PDIP saja-lah yang memiliki kemungkinan besar untuk menjadi oposisi, karena seluruh partai yang disebut di atas relatif memiliki hubungan politik yang tidak bermusuhan dengan pihak calon pemerintah 2024-2029.  

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Sementara, PDIP, khususnya Megawati, dinilai memiliki beberapa catatan kurang mengenakkan baik dengan keluarga Jokowi ataupun dengan Prabowo Subianto. Kalau kata pengamat politik Dedi Kurnia Syah, Megawati mungkin menyimpan sedikit rasa dendam atas manuver-manuver politik yang dilakukan Jokowi dan Prabowo beberapa saat sebelum Pilpres 2024 dilaksanakan. 

Namun, PDIP sebetulnya masih memiliki satu variabel yang mungkin bisa jadi gerbang pembuka rekonsiliasi Jokowi-PDIP, sekaligus gerbang masuknya PDIP ke koalisi pemerintah di periode selanjutnya. 

Variabel tersebut berwujud seorang perempuan yang bernama Puan Maharani. 

Ya, peluang untuk membawa PDIP kembali ke pangkuan pemerintah bisa menjadi dasar dari salah satu dugaan mengapa Puan belakangan menunjukkan gestur politik yang cenderung berlawanan dengan sejumlah elite PDIP, termasuk Megawati. Pengamat politik, Agung Baskoro, mensinyalir saat ini di PDIP mungkin sedang terbagi dua pendapat, antara yang ingin keras menjadi oposisi dan mereka yang ingin merajuk hubungan dengan pemerintah. 

Puan di sini diasumsikan Agung menjadi salah satu elite PDIP yang mungkin menilai bahwa opsi rekonsiliasi dengan Jokowi, maupun calon pemerintah selanjutnya, adalah pilihan terbaik bagi PDIP karena untuk menjadi oposisi di Indonesia membutuhkan “stamina” yang cukup berat. Puan, sebagai kandidat kuat pengganti Megawati, mungkin saja merasa bahwa masa-masa kepemimpinan awalnya akan sangat berat bila diisi dengan kesusahan menjadi oposisi. 

Maka dari itu, wajar bila Puan beberapa bulan terakhir menyadari bahwa ia mungkin merasa perlu menjalin hubungan yang baik dengan semua orang karena tentu memiliki persahabatan yang kaku dengan semua orang lebih baik dibanding memiliki musuh di semua pihak.  

Dalam dunia politik, keputusan untuk berdamai dengan para “mantan musuh” dapat dijelaskan dalam teori rational choice, di mana ambisi personal politik dapat dikesampingkan demi menjamin keberlangsungan kubu politik seseorang. 

Namun, bukan hanya ini saja asumsi menarik di balik dugaan mengapa Puan miliki gestur politik yang melembut. Di belakang layar, mungkin Puan sebetulnya hanya menjalankan intrik politik yang lebih mendalam. 

Baca juga :  Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?
image 8

Puan Ditugaskan Menjadi ‘Good Cop’? 

Politik adalah dunia yang penuh dengan pembentukkan persepsi. Kalau kita mengacu kepada pandangan dramaturgi politik dari Erving Goffman, di mana politik yang kita lihat hanyalah panggung pertunjukkan dari politik yang sebenarnya terjadi di belakang layar, banyak kemungkinan sebetulnya bahwa politik yang kita lihat tidak merepresentasikan hal apapun yang dipertunjukkan. 

Terkait gestur politik Puan dan Megawati, orang-orang awam mungkin awalnya akan berpikir bahwa sedang ada perselisihan pendapat antara para elite di tubuh PDIP, namun, bisa jadi hal yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya. 

Dunia politik mengenal strategi yang namanya good cop vs bad cop atau polisi baik melawan polisi jahat. Strategi ini menerapkan skenario di mana orang yang mengambil peran sebagai “good cop” biasanya terlihat sebagai orang yang ramah, bersikap kooperatif, dan bersedia untuk bekerja sama. 

Sementara, orang yang berperan sebagai “bad cop” berindak seblaiknya, mereka adalah orang atau kelompok yang terlihat lebih keras, tegas, atau bahkan mengancam. Mereka mungkin menggunakan intimidasi, tekanan, atau ancaman untuk memperkuat posisi mereka atau untuk menunjukkan konsekuensi buruk dari ketidaksepakatan. 

Terkait kondisi PDIP, bisa kita asumsikan bahwa jangan-jangan Puan sedang bertindak layaknya good cop bagi partai. Sementara, Megawati yang sudah melempar gestur-gestur pedas kepada Jokowi bahkan ketika sebelum Pilpres 2024 mungkin rela menjadikan dirinya sebagai bad cop PDIP demi menjaga harga diri partai. Berbeda seperti partai-partai lain, Megawati mungkin merasa perubahan sikap dapat menyakiti citra PDIP. 

Maka dari itu, Puan menjadi orang yang cocok untuk menjadi simbol good will partai. Di satu sisi, sisi diplomatis Puan pun bisa saja jadi bekal politik yang kuat dalam membantunya menjadi Ketum PDIP yang dihormati nantinya bila Megawati sudah turun. 

Namun, patut diingat bahwa ini semua hanyalah asumsi belaka. Ke depannya, menarik untuk terus kita perhatikan dinamika politik yang terjadi di Partai Banteng Moncong Putih. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing