HomeHeadlineBenarkah PDIP Jadi Oposisi “Lone Wolf”? 

Benarkah PDIP Jadi Oposisi “Lone Wolf”? 

Kecil Besar

Dengarkan Artikel Ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI

Wacana oposisi pemerintahan 2024-2029 diprediksi diisi oleh partai politik (parpol) yang kalah dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, yakni PDIP, PKB, PKS, Partai NasDem, dan PPP. Namun, rencana itu tampaknya akan berantakan dan menimbulkan probabilitas meninggalkan PDIP sebagai satu-satunya parpol oposisi di pemerintahan 2024-2029. Mengapa demikian? 


PinterPolitik.com 

Dinamika pembentukan oposisi pemerintahan 2024-2029 tampaknya semakin menarik. Hal ini dapat diatribusikan kepada sikap partai politik (parpol) dalam mendukung penggunaan hak angket DPR terkait hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. 

Namun, seiring berjalannya waktu, hanya tiga parpol yang mengusulkan hak angket dalam rapat paripurna DPR, yakni PDIP, PKB, dan PKS. 

Sementara itu, dua partai parlemen lainnya, yakni PPP dan Partai NasDem memilih tak ikut bersuara dalam rapat paripurna. 

Menanggapi hal tersebut, PDIP mengklaim tak khawatir terhadap sikap PPP dalam rapat paripurna itu karena sebelumnya dalam rapat koalisi Ganjar-Mahfud, PPP disebut telah setuju untuk mengusulkan hak angket. 

Berbeda dengan PDIP, para elite PPP justru menyatakan belum ada pembahasan internal mengenai hak angket.

pdip paling siap jadi oposisi

Sampai saat ini, partai berlambang Kakbah itu mengaku masih fokus mengawal suara dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024. 

Sementara di kubu koalisi Anies-Cak Imin, meskipun PKB dan PKS ikut mengusulkan hak angket bersama PDIP, probabilitas keduanya bergabung dengan pemerintahan 2024-2029 tampaknya juga masih terbuka. 

Adanya kemungkinan itu berkaca dari PKB yang minim pengalaman menjadi oposisi, serta PKS yang mempunyai sejarah kedekatan yang baik dengan Prabowo Subianto. 

Dengan melihat dinamika itu, bukan tidak mungkin PDIP kiranya akan menjadi parpol oposisi pemerintahan 2024-2029 sendirian. 

Lantas, mengapa parpol yang sebelumnya kompak dalam mendukung hak angket DPR tampaknya mulai terpecah dan kemudian muncul probabilitasakan meninggalkan PDIP sendirian menjadi oposisi? 

Bentuk Pragmatisme Parpol? 

Dengan adanya potensi rencana oposisi pemerintah 2024-2029 mengalami perpecahan, ini menunjukkan bahwa partai politik memiliki sifat yang pragmatis. 

Parpol cenderung akan memprioritaskan kepentingan mereka sendiri dan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai kemungkinan. 

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Bukti dari sifat pragmatis ini dapat ditemukan dalam sikap partai politik yang kalah dalam Pilpres 2024. 

Meskipun sebelumnya mereka bersatu dalam mendukung usulan hak angket, namun ketika tiba saat untuk menentukan sikap, mereka cenderung menunggu PDIP sebagai partai yang mengusulkan hak angket. 

Hal ini menunjukkan bahwa partai-partai tersebut ingin memastikan keuntungan politik yang mereka peroleh dengan tidak terlalu mengambil risiko atau menjadi inisiatif dalam menghadapi pemerintahan yang sedang dan akan berkuasa. 

Ini menunjukkan bahwa partai-partai tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mencari keuntungan politik dengan memasuki pemerintahan. 

Dengan demikian, indikasi ini menggambarkan sikap pragmatis dari partai politik dalam menghadapi situasi politik yang kompleks. 

Mereka cenderung bergerak dengan mempertimbangkan keuntungan dan risiko politik yang ada, serta beradaptasi dengan pergeseran kekuasaan yang terjadi. 

Giovanni Sartori dalam bukunya berjudul Parties and Party Systems: A Framework for Analysis menjelaskan bahwa parpol sering kali melakukan perhitungan pragmatis dalam membentuk aliansi dan koalisi politik. 

Mereka dapat menjalin kemitraan dengan partai-partai lain yang memiliki tujuan yang sejalan untuk mencapai kekuasaan politik atau mendukung kebijakan tertentu. 

Pragmatisme ini muncul dalam penyesuaian strategis parpol terhadap perubahan dalam dinamika politik, seperti perubahan mayoritas parlemen atau kekuatan politik relatif partai-partai yang terlibat.  

Dengan begitu, pragmatisme ini membantu parpol untuk bertahan dan beroperasi dalam lingkungan politik yang sering kali penuh dengan ketidakpastian dan kompleksitas. 

Maka, tidak mengherankan tampaknya jika parpol seperti PPP dan Partai NasDem masih belum terlibat aktif dalam usulan hak angket sambil menunggu dinamika politik kedepan setelah KPU secara resmi mengumumkan hasil rekapitulasi suara. 

Meskipun sebelum rapat paripurna kedua parpol ini disebut setuju dengan adanya usulan hak angket DPR. 

Begitu juga dengan PKB dan PKS yang sebenarnya ikut serta dalam mengusulkan hak angket bersama PDIP, kiranya tak luput dari melihat adanya kemungkinan bergabung dengan Prabowo-Gibran sembari mengamati dinamika politik yang terjadi. 

Baca juga :  Negara yang Akhirnya Belajar Melihat

Kedua parpol ini masih melihat adanya peluang bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran nantinya dengan faktor yang sudah dijelaskan sebelumnya turut memperkuat adanya probabilitas itu. 

surya paloh kunci gerbang oposisi

PDIP Dimanfaatkan atau Memanfaatkan? 

Fenomena retaknya wacana oposisi ini bisa dijelaskan dengan konsep logic of collective action atau logika aksi kolektif yang dikemukakan Mancur Olson dalam bukunya yang berjudul The Logic of Collective Action: Public Goods and the Theory of Groups

Olson menjelaskan dalam kelompok besar, individu-individu atau dalam hal ini parpol memiliki insentif untuk tidak berpartisipasi dalam tindakan kolektif atau berkontribusi pada tujuan bersama. 

Hal ini dikarenakan individu-individu cenderung mengandalkan manfaat kolektif yang dihasilkan oleh tindakan kolektif tersebut tanpa harus berpartisipasi secara aktif. 

Selain itu, Olson juga membahas dilema aksi kolektif atau collective action dilemma yang timbul ketika kelompok memiliki tujuan bersama, tetapi individu-individu atau dalam hal ini adalah parpol di dalamnya memiliki insentif untuk tidak berkontribusi. 

Ini terjadi karena mereka dapat memanfaatkan hasil dari kontribusi orang lain tanpa harus mengorbankan sumber daya mereka sendiri. 

Berkaca dari penjelasan itu, parpol selain PDIP kiranya tidak terlalu serius mengusulkan hak angket dan hanya mengandalkan PDIP sebagai penggerak utama usulan hak angket. 

Jika kemudian hak angket ini berhasil digulirkan, parpol lain kiranya akan mendapatkan keuntungan, yaitu simpati dari para pendukung kandidat capres yang diusung. 

Namun, di sisi lain dengan menunggu dan mendorong PDIP untuk menginisiasi hak angket, parpol-parpol ini tetap leluasa menjalankan lobi-lobi demi mendapat peluang masuk dalam pemerintahan. 

Dengan begitu bukan tidak mungkin jika nantinya parpol lain mendapatkan kesempatan atau posisi tawar yang baik untuk bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran, PDIP akan ditinggalkan oleh parpol yang sebelumnya kompak menggulirkan hak angket. 

Ini kemudian akan membuat PDIP menjadi oposisi pemerintahan Prabowo-Gibran sendirian. Well, menarik untuk ditunggu sampai sejauh mana parpol lain yang sebelumnya setuju hak angket akan menemani PDIP. (S83)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Ketua DPR, Golkar Lebih Pantas? 

Persaingan dua partai politik (parpol) legendaris di antara Partai Golkar dan PDIP dalam memperebutkan kursi Ketua DPR RI mulai “memanas”. Meskipun secara aturan PDIP paling berhak, tapi beberapa pihak menilai Partai Golkar lebih pantas untuk posisi itu. Mengapa demikian?

Anies “Alat” PKS Kuasai Jakarta?

Diusulkannya nama Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta oleh PKS memunculkan spekulasi jika calon presiden (capres) nomor urut satu ini hanya menjadi “alat” untuk PKS mendominasi Jakarta. Benarkah demikian?

Pemilu 2024, Netralitas Jokowi “Diusik” PBB? 

Dalam sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, anggota komite Bacre Waly Ndiaye mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari hal itu?