HomeHeadlineLaga Imin vs Mahfud vs Khofifah

Laga Imin vs Mahfud vs Khofifah

Kecil Besar

Persaingan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 disebut-sebut akan berpusat di Jawa Timur (Jatim) dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Mahfud MD sebagai calon wakil presiden (cawapres). Namun, apakah hanya Cak Imin dan Mahfud yang meramaikan Jatim?


PinterPolitik.com

โ€œLho lho lho, gak bahaya ta?โ€

Kalimat tanya di atas akhir-akhir ini menjadi ramai di media sosial (medsos). Bagaimana tidak? Kalimat tersebut menjadi bagian dari sound atau musik yang digunakan dalam platform-platform seperti TikTok.

Salah satu nama populer yang kerap menggunakan kalimat tersebut adalah Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang kini menjadi calon wakil presiden (cawapres) untuk Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan.

Bukan tidak mungkin, kalimat yang sebelumnya telah populer di kalangan muda Jatim itu menjadi andalan Cak Imin untuk bisa menjadi lebih relatable di provinsi timur Jawa ini. Apalagi, provinsi ini menjadi provinsi yang menjanjikan dengan besarnya jumlah pemilih di tahun 2024 mendatang.

Namun, jangan bersenang hati dulu. Pasalnya, sosok Jatim yang dijadikan jagoan untuk berebut di provinsi ini bukanlah hanya Cak Imin, melainkan ada juga Mahfud MD โ€“ yang kini menjadi cawapres untuk Ganjar Pranowo.

Tidak hanya berhenti di nama cawapres, terdapat sejumlah nama tokoh yang mendukung pasangan capres-cawapres. Beberapa di antaranya adalah Yenny Wahid yang mendukung Ganjar-Mahfud, serta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan mantan Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo) yang mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Jika dilihat dari nama-nama besar ini, bisa dibilang Jatim akan menjadi arena sengit di antara para paslon Pilpres 2024. Namun, dengan pesaingan ketat ini, opo gak bahaya ta pertarungan ini?

Mengapa Jatim yang akhirnya menjadi pusat pertarungan Pilpres 2024? Lantas, bagaimana pertarungan ini akan terjadi di tahun 2024 mendatang?

Opoโ€™o Kok Jatim, Rek?

Dari segi jumlah pemilih, Jatim memang bukanlah provinsi dengan jumlah terbanyak. Provinsi yang memiliki jumlah pemilih terbanyak justru adalah Jawa Barat (Jabar) โ€“ yang mana memiliki jumlah pemilih sebanyak 35.714.901 pemilih.

Baca juga :  Habibie: Varian 'Dinasti Teknokrat'?

Namun, Jatim berada di urutan kedua setelah Jabar. Dengan jumlah pemilih sebanyak 31.402.838, Jatim memang menjadi wilayah โ€œseksiโ€ yang diperebutkan oleh masing-masing paslon.

Lantas, mengapa bukan Jabar yang menjadi pusat pertarungan sengit di Pilpres 2024? Mengacu ke penjelasan di tulisan PinterPolitik.com yang berjudul Pilpres 2024 adalah Pertarungan Jawa Timur?, kunci jawabannya terletak pada besarnya potensi swing voters โ€“ pemilih yang belum menentukan arah pilihan mereka.

Ini terlihat dari sifat alamiah (nature) para pemilih di provinsi ini. Sifat pemilih di Jatim tidaklah selalu seragam.

Bila dipetakan, Provinsi Jatim terbagi menjadi beberapa daerah yang diklasifikasikan berdasarkan sifat sosio-kultural yang dimiliki setiap wilayah. Secara garis besar, terdapat tiga klasifikasi wilayah, yakni wilayah Arekan (seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Blitar, hingga Malang), Mataraman (seperti Lamongan, Tuban, Madiun, Kediri, Tulungagung, hingga Pacitan), serta Madura dan Tapal Kuda atau Madura Pendalungan (seperti Bangkalan, Sampang, Sumenep, Probolinggo, Lumajang, hingga Banyuwangi).

Masing-masing kelompok wilayah memiliki kecenderungan memilih yang berbeda-beda. Maka dari itu, perebutan yang terjadi di wilayah-wilayah ini juga memiliki dinamika yang berbeda-beda dalam menyongsong Pilpres 2024.

Bagaimana dinamika yang mungkin akan terjadi dengan tokoh-tokoh Jatim yang akan saling bertarung di provinsi ini? Siapa yang akan โ€œmenguasaiโ€ daerah mana?

Cak Imin vs Mahfud vs Khofifah

Menariknya, masing-masing tokoh yang bersaing di Pilpres 2024 memiliki potensi di wilayah-wilayah yang berbeda. Belum lagi, terdapat juga tokoh-tokoh yang bukan capres atau cawapres tetapi memiliki pengaruh luas guna mendukung paslon yang mereka sokong.

Kontestasi di provinsi inipun akan menjadi semakin sengit โ€“ mengingat kekuatan tokoh-tokoh ini juga saling tumpang tindih di sejumlah kota dan kabupaten di Jatim. 

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Guna memetakan kekuatan-kekuatan politik yang mendominasi wilayah-wilayah di Jatim, peta politik atas hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 silam bisa menjadi gambaran. Berdasarkan hasil Pemilu 2019, PDIP dan PKB mendominasi di banyak wilayah.

Namun, kekuatan PDIP di wilayah Arek bisa saja tergeser oleh kekuatan-kekuatan nasionalis lainnya. Apalagi, mengacu ke survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) pada 22-27 Oktober 2023, margin keterpilihan PDIP terbilang tipis bila disandingkan dengan partai-partai lainnya seperti Golkar dan Gerindra.

Dominasi PKB-pun patut diperhitungkan dengan sang ketua umum (ketum), Cak Imin, kini menjadi cawapres. Dalam Pemilu 2019, PKB mendominasi sejumlah wilayah Arek, Mataraman bagian utara, dan sebagian wilayah Madura Pulau dan Tapal Kuda.

Namun, dominasi PKB di Pemilu 2019 bukan satu-satunya pertimbangan. Nama-nama tokoh yang berpengaruh bisa menambahkan dinamika baru di persaingan Jatim.

Mahfud, misalnya, dinilai tetap berpengaruh meskipun dirinya bukanlah nama besar di kalangan Nahdliyin โ€“ sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan latar belakangnya sebagai orang Madura, bukan tidak mungkin dirinya mendapatkan 

Nama Khofifah dan Pakde Karwo, misalnya, menjadi dua nama yang berpengaruh โ€“ mengingat keduanya berhasil menjabat sebagai Gubernur Jatim. Khofifah kuat di kalangan Nahdliyin yang dominan berada di Tapal Kuda, sebagian wilayah Arek, dan sebagian wilayah Mataraman Utara. 

Sementara, Pakde Karwo dinilai sangat berpengaruh di Mataraman bagian selatan meski PDIP mendominasi wilayah itu. Ini terlihat pada akhirnya Pakde Karwo dinilai berkontribusi membawa kemenangan kepada Khofifah di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 dengan membawa basis suara Mataraman.

Pada akhirnya, dengan masing-masing kubu memiliki jagoannya masing-masing, bukan tidak mungkin perebutan antar-wilayah dalam Jatim akan terjadi dengan semakin panas. Lek wes rebutan ngene iki, opo gak bahaya ta, Rek? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย