HomeCelotehIndonesia Tak Perlu Jadi Nakal

Indonesia Tak Perlu Jadi Nakal

Kecil Besar

Menurut Pak JK, ada dua cara jadi terkenal, yaitu jadi nakal atau kaya raya. Wah, maksudnya seperti Awkarin?


PinterPolitik.com

 

[dropcap size=big]R[/dropcap]esep terkenal Pak JK sejujurnya sangat familiar bagi saya. Waktu duduk di SMP dulu, seorang senior pernah berkata kalau mau terkenal di semua kalangan petinggi dan seisi penduduk SMP, jadilah murid yang sangat nakal atau sangat pintar.

Kelompok anak populer nakal ini di SMP saya, biasa nongkrong di pojok-pojok kantin dan bangunan lama sekolah yang tak terpakai dan digosipkan angker. Di lluar area sekolah, saya beberapa kali pergoki mereka merokok bergantian. Kalau upacara bendera tiap senin, mereka hampir selalu dipanggil oleh Kepala Sekolah ke depan barisan sebagai contoh buruk. Ya, mereka terbukti populer sebab Kepala Sekolah hafal nama mereka.

Sementara kelompok yang pintar agak berbeda. Mereka berlomba-lomba ke ruang guru di saat istirahat hanya untuk menjajal rumus fisika atau matematika, atau makan siang berkelompok di dalam kelas. Ohya, mereka tak pernah ke perpus. Jangan salah, di SMP saya, perpus malah tempat anak-anak nakal berkumpul. Selain angker, perpus kami tempat sempurna curi-curi waktu tidur siang. Kepala Sekolah juga sering memanggil nama mereka saat upacara bendera untuk memberi penghargaan.

Tapi kenakalan yang dimaksud Pak JK tentu bukan seperti apa yang ada di SMP saya. Maksud bliyo adalah tak nurut sama Amerika Serikat dan bertindak ‘keras’. Ia menyebut Iran, Venezuela, dan Tiongkok sebagai contoh negara nakal sempurna. Kenapa sempurna? Sebab, menurut analisis Pak JK, media suka pada mereka.

Tapi apakah Pak JK tahu keadaan para warga yang berada di bawah negara-negara nakal itu? Nakal ini artinya sama dengan diktator, lho. Di bawah kediktatoran alias kenakalan petinggi negaranya, kini rakyat Venezuela krisis berat, bangkrut pula, di Iran perempuan hebat nan jenius diusir hanya karena tak mau pakai hijab, sementara di Tiongkok 82 juta warganya hidup dalam kondisi sangat miskin.  Semua karena diktator yang nakal, Pak. Sudi membayar biaya popularitas dengan krisis dan kemiskinan? Saya mah, emoh.

sumber: detik

Pak, terkenal karena reputasi buruk itu tak selamanya bagus, lho. Cuma kelihatan keren karena sering muncul di pemberitaan saja. Itu juga isi beritanya jelek. Belum lagi  lingkungan kita akan dipenuhi dengan orang-orang nakal lain. Sudahlah, Pak JK. Kalau mau populer, kenapa tak jadi kelompok anak pintar seperti di SMP saya saja?

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Ya memang sih, Indonesia tak kaya raya, tapi bukan berarti jadi nakal (diktator) lantas jadi cita-cita. Mengapa? sebab yang bisa nakal tapi masih dalam batas wajar hanyalah Awkarin dan Young Lex saja. (A27)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....