HomeCelotehPDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

Kecil Besar

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,” – Bambang “Pacul” Wuryanto, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP


PinterPolitik.com

Drama politik antara PDIP dan PSI akhirnya berakhir dengan permintaan maaf Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie.

Permintaan maaf Grace ini dianggap mempunyai kaitan erat dengan pidato politik Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri yang menyindir partai lain yang mendompleng kadernya untuk dijadikan calon presiden.

Seperti yang kita ketahui, sebelumnya PSI pernah mendeklarasi untuk mengusung kader PDIP, Ganjar Pranowo, sebagai bakal calon presiden (capres) dari PSI di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Merespons hal tersebut, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Bambang “Pacul” Wuryanto menyebut partainya menerima permintaan maaf dari PSI.

Pacul mengaku PDIP memaafkan PSI dengan alasan kekhilafan. Namun, apabila terdapat sebab tertentu bertujuan mencelakakan PDIP, Bambang menyebutkan  bahwa PDIP tak akan pernah melupakan meski telah memaafkan.

Anyway, pernyataan Pacul ini dapat dimaknai sebagai bentuk memaafkan yang bersyarat karena menyebut ada potensi PSI membuat PDIP celaka. Tafsir lainnya adalah PDIP setengah hati memaafkan PSI.

image 60
PSI Minta Maaf ke PDIP

Hubungan kedua partai ini unik karena mempunyai banyak kesamaan. Secara atribut, logo mereka sama-sama dominan berwarna merah. Sementara, secara ideologi politik, keduanya partai nasionalis yang sering kali juga punya kebijakan politik yang sama.

Bahkan, sebelumnya, Grace pernah mengklaim PSI sebagai adik PDIP karena sama-sama partai nasionalis sehingga membutuhkan bimbingan dari partai yang lebih berpengalaman seperti PDIP.

Kembali ke konteks memaafkan setengah hati, penerimaan maaf “bersyarat” seperti ini sering kali juga kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Hal ini biasanya disebabkan karena ada keinginan seseorang untuk tetap memaafkan perbuatan orang lain tetapi mempunyai harapan kalau orang yang berbuat salah itu tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Hal ini tentu berseberangan dengan pemahaman umum kalau memaafkan harus dibarengi dengan melupakan.

Arvan Pradiansyah dalam bukunya You Are a Leader! mengatakan bahwa sejatinya kitab suci hanya mengajarkan kepada kita untuk memaafkan, bukan melupakan. Jadi, memaafkan dan melupakan itu bukan satu paket.

Menurut Arvan, ada tipe orang yang tidak memaafkan dan tidak melupakan. Orang ini baginya orang yang tidak bahagia. Sementara, tipe lain adalah orang yang memaafkan dan juga melupakan. Baginya, ini tipe orang yang naif.

Maka dari itu, tipe orang yang menurutnya paling masuk akal adalah orang yang memaafkan tetapi tidak melupakannya karena seseorang perlu mengambil pelajaran dari peristiwa yang menyakitkan.

Hmm, kok pernyataan Pacul yang menggambarkan sikap PDIP kepada PSI ini juga sering kita hadapi saat bergaul ataupun menjalin hubungan asmara ya? Hehe.

Meski sulit, kita sadar kalau memaafkan sebenarnya hanya mengobati perasaan yang tersakiti meski tidak bisa serta merta mampu membuat kita lupa akan peristiwa yang terjadi.

Well, pada akhirnya, kita bisa tafsirkan kalau tidak melupakan bukan berarti tidak memaafkan dengan tulus, melainkan justru menjadi pelajaran agar tidak dirugikan kedua kalinya.

Bisa jadi, karena ditegur aja nih, PSI akhirnya minta maaf. Kan, enggak ada jaminan kalau nanti dekat-dekat Pilpres PSI buat kesalahan lagi ke PDIP? Who knows? Hehehe. (I76)


Ini Yang Terjadi Jika Megawati Tidak Jadi Presiden
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

Prabowo Rela Kehilangan Sandi?

“Kalau mau pisah, pisah yang baik. Silakan,” – Prabowo Subianto, Ketum Partai Gerindra PinterPolitik.com Baru-baru ini, jagat politik dihebohkan oleh pernyataan Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyinggung...