HomeCelotehJokowi Beri Jatah ke Prabowo?

Jokowi Beri Jatah ke Prabowo?

Kecil Besar

“Kemudian dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo. Kelihatannya, setelah ini jatahnya Pak Prabowo,” – Joko Widodo (Jokowi), Presiden RI


PinterPolitik.com

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbagi cerita tentang kiprahnya dalam politik – mulai dari menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga memenangkan pemilihan presiden (pilpres) dua kali.

Ketika menceritakan kiprahnya yang panjang itu, Jokowi menyelipkan kalimat, “setelah ini jatahnya Prabowo.” Sontak, hadirin yang menghadiri acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Partai Perindo merespons dengan tepuk tangan.

Lantas, muncul pertanyaan. Apakah ini bentuk dukungan Jokowi kepada Prabowo? Ataukah ini hanyalah bentuk lain dari siasat Jokowi untuk menyenangkan hati Prabowo?

Nah, merespons pernyataan Jokowi, Ketua DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menafsirkan dukungan Jokowi kepada Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto adalah bentuk penyemangat bagi Gerindra.

Menurut Sufmi, kader Gerindra menyambut baik dukungan ini sehingga dapat membuat mereka mampu bekerja semaksimal mungkin untuk mengerek elektabilitas partai maupun Prabowo.

image 42
Jokowi Sempurna di Mata Prabowo?

Anyway, pernyataan Jokowi ini dapat juga ditafsirkan sebagai bentuk dari cara Jokowi menyiasati hubungan yang semakin erat dengan Prabowo – memperlihatkan  bagaimana Jokowi di akhir masa jabatannya telah paripurna memahami politik negeri ini.

Dalam konteks ini, terlihat sepertinya Jokowi ingin memperkenalkan dirinya sebagai tokoh yang moderat dalam membangun politik Indonesia. Relasi antara Jokowi dan Prabowo mungkin telah terletak pada posisi antara kawan dan lawan, serta antara cinta dan benci.

Tak ada permusuhan yang abadi dalam politik. Cinta dan benci ibarat gas dan rem mobil. Cinta mendorong rasa nyaman dan senang, sedangkan benci jadi pengendali agar tak dibutakan cinta.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Namun, cinta dan benci hanya diperlukan sewajarnya. Cinta atau benci berlebihan bisa membahayakan diri, mematikan nalar, dan, bahkan, memicu konflik.

Sepanjang sejarah manusia, cinta dan benci selalu mewarnai kehidupan manusia. Cinta dan benci jadi penggerak berbagai perilaku manusia. Oleh karena itu, perlu mengharmonisasi keduanya.

Barang siapa yang mampu menempatkan kedua rasa ini dengan proporsional, maka ia akan mampu menyelesaikan konflik atau masalah di atas panggung politik.

Pada level tertentu, seorang aktor politik akan memahami bahwa politik adalah kesatriaan – bagai Dewa Janus yang bermuka dua, yakni wajah konsensus dan wajah konflik.

Ilmuwan Politik Prof. Bahtiar Effendy yang juga pernah menjadi Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan bahwa berpolitik itu bukan untuk mencari aman karena posisi aman akan membuat kreativitas politik kita akan stagnan.

Justru, dengan keadaan yang carut marut lah, ketangkasan kita diuji karena sesungguhnya politik adalah upaya manusia untuk menyelesaikan masalah.

Hmm, sampai di sini, kita mulai tersadarkan dan mencurigai bahwa apa yang ditanam itulah yang akan dituai. Jangan-jangan ungkapan, “setelah ini jatahnya Prabowo,” yang dianggap dukungan kepada Prabowo sebenarnya tidak terlalu berdampak pada Prabowo  malah mungkin lebih berdampak pada Jokowi.

Jokowi akan diingat sebagai pemimpin yang sudah menang dua kali dan persilahkan pesaingnya untuk mendapat giliran. Bisa jadi, ini merupakan credit point yang sembunyi-sembunyi ingin diperlihatkan oleh Jokowi. Upppsss. Hehehe. (I76)


Deklarasi Terlalu Cepat: Anies Akan Dijegal?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

Keluarga Fahri ‘Terlatih’?

“Dengan modal keberanian dan teror saja, tak banyak yang bisa dicapai dalam kehidupan modern begini.” ~ Pramoedya Ananta Toer PinterPolitik.com Sempat disebut sebagai politikus independen, Wakil...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...