HomeNalar PolitikKecanggungan Manuver Puan, PDIP Berantakan?

Kecanggungan Manuver Puan, PDIP Berantakan?

Kecil Besar

Puan Maharani dan PDIP akhirnya melakukan safari politik resmi jelang kontestasi elektoral 2024 dengan menyambangi Partai NasDem. Namun, manuver perdana itu agaknya meninggalkan kecanggungan tersendiri yang mungkin akan berdampak pada PDIP kelak. Mengapa demikian?


PinterPolitik.com

NasDem Tower, Jakarta menjadi tempat pertemuan menarik antara pejabat teras Partai NasDem dan PDIP Senin, siang kemarin.

Itu dikarenakan, Partai NasDem yang dikomandoi Surya Paloh menjadi entitas politik pertama yang dikunjungi Puan Maharani sebagai pelaksana mandat safari politik Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri jelang Pemilu dan Pilpres 2024.

Sepanjang acara yang berlangsung sekitar dua jam itu, Puan tampak mendapat sambutan sangat hangat dari Surya Paloh.

Sementara pasca pertemuan, Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai NasDem Ahmad Ali mengatakan lawatan Puan merupakan sebuah kehormatan bagi partainya.

Gestur pelukan Surya kepada Puan menjadi adegan paling istimewa yang dibicarakan berbagai pihak dan menjadi tajuk utama pemberitaan mengenai pertemuan kedua partai politik (parpol) itu.

Secara khusus, Puan berterima kasih atas sambutan Partai NasDem dan menganalogikan bahwa perjumpaannya dengan Surya Paloh bagaikan interaksi hangat antara seorang paman dan keponakan.

image 68

Makna pertemuan mulai sedikit terkuak saat awak media memberikan pertanyaan setelah acara usai. Satu yang menarik adalah mengenai diskursus penjajakan koalisi politik dan calon presiden (capres), di mana Surya Paloh menyiratkan bahwa Puan sebenarnya masuk dalam radar NasDem.

Namun, jawaban Paloh itu tampak terkesan diplomatis karena berada di hadapan Puan secara langsung yang notabene digadang menjadi capres PDIP.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) NasDem pada Juni lalu sendiri telah menetapkan secara bulat tiga nama sebagai capres yang potensial diusung Partai NasDem di 2024, yakni Anies Baswedan, Andika Perkasa, serta Ganjar Pranowo yang menariknya adalah kader PDIP. Ini yang kemudian membuat tafsir politik pasca jamuan NasDem kepada PDIP kemarin terus mengemuka.

Tapi, di balik semua respons elite dan pengamat mengenai pertemuan tersebut, implikasinya terhadap dinamika politik jelang 2024 kiranya dapat dianalisis berdasarkan satu pertanyaan sederhana.

Mengapa Puan dan PDIP menjadikan NasDem sebagai parpol pertama yang disambangi? Apa yang dapat dimaknai dari manuver perdana partai banteng menyongsong 2024?

Sopan-Santun Puan?

NasDem Tower tercatat menjadi markas parpol yang paling sibuk jelang 2024 karena telah menjadi saksi silaturahmi politik dari tiga parpol sejauh ini, yakni PKS, Partai Demokrat, dan PDIP.

Surya Paloh selaku Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem, memang menjadi sosok paling senior dalam percaturan koalisi parpol jelang 2024, setelah Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyerahkan mandat safari politik kepada Puan.

Oleh karena itu, alasan strategis Puan dan PDIP menjadikan Partai NasDem sebagai parpol pertama yang dikunjungi kiranya masih terkait erat dengan manuver positif berupa kesopan-santunan politik atau political politeness.

image 69

Di ranah politik, politeness merupakan sebuah strategi tersendiri โ€“ terutama di wilayah Asia โ€“ sebagaimana dijelaskan M. Agus Suriadi dalam publikasi berjudul The Politeness Strategy and Its Scale.

Berakar dari aspek sosio-kultural masyarakat, penghormatan berupa sopan santun terhadap orang lain, tidak memanggil nama yang lebih senior, serta mengutamakan sosok yang lebih tua menjadi nilai-nilai yang terserap ke dalam dimensi politik.

Baca juga :  Negara yang Akhirnya Belajar Melihat

Pun dalam hal yang lebih kompleks seperti tata cara komunikasi politik. Penggunaan bahasa serta pilihan kata yang baik, menghindari perbedaan pendapat secara terbuka, serta meminimalkan kesan pemaksaan juga menjadi ranah konkret dalam konsep political politeness.

Puan dan PDIP pun tampak melandasi lawatan pertamanya ke Partai NasDem dengan konsep tersebut. Gestur tersebut agaknya memang mau tidak mau dilakukan Puan dan PDIP sebagai pembuka rencana safari serta komunikasi dengan parpol lain ke depan.

Akan tetapi, yang tampak sejauh ini kiranya masih sebatas panggung depan semata dari sebuah dramaturgi dalam sebuah interaksi politik.

Dramaturgi (dramaturgy) sendiri merupakan konsep yang dipopulerkan oleh Erving Goffman. Konsep ini mengadopsi istilah di teater atau drama terkait adanya front stage dan back stage untuk menjelaskan hubungan sosial.

Dalam politik, dramaturgi kerap dikutip untuk menjelaskan secara komprehensif bagaimana realitas politik terjadi. Front stage atau apa ditampilkan di hadapan publik sering kali berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi (back stage).

Skenario backstage yang sedikit tersingkap kiranya patut disorot dari pernyataan Ahmad Ali, sang Waketum Partai NasDem pasca pertemuan. Ali mengatakan bahwa dibanding parpol lainnya, termasuk PDIP, komunikasi politik partainya lebih positif kepada Partai Demokrat dan PKS.

“Saya harus katakan saat ini PKS dan Demokrat komunikasinya jauh lebih maju dari pada partai lain,” ungkap Ahmad Ali

Pernyataan itu menjadi menarik karena apa yang dikatakan Ali memiliki korelasi dengan arah dan prinsip politik PDIP. Pada Juni lalu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa partainya cukup sulit untuk membangun kerja sama dengan PKS dan Partai Demokrat karena perbedaan ideologis dan riwayat historis.

Jika mengacu pernyataan Hasto tersebut, PDIP bukan tidak mungkin akan memakai pakem โ€œthe friend of my enemy is my enemyโ€ atau kawan dari musuhku adalah musuhku.

Dengan kata lain, political politeness kunjungan Puan dan PDIP ke Partai NasDem bisa saja hanya sebatas batu loncatan semata dan bukan ke arah jalinan koalisi politik.

Baca juga :  The One-Man Band

Di titik ini, Puan dan PDIP sepertinya sedang kehilangan arah dalam upayanya menjalin relasi politik jelang 2024. Mengapa demikian?

image 67

Puan dan PDIP Dihindari?

Pra-syarat tak akan berkoalisi dengan PKS dan Partai Demokrat yang kadung keluar dari lisan Hasto kiranya mempersempit ruang gerak manuver politik Puan. Karena jika secara harfiah ditafsirkan, PDIP mustahil akan masuk ke dalam koalisi di mana dua partai itu eksis.

Padahal, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, PAN, dan PPP yang menjadi poros di sudut lain, kemungkinan akan berfusi dengan poros Partai NasDem-Partai Demokrat-PKS.

Skenario itu berangkat dari telaah peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro yang melihat bahwa Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS berpeluang besar melebur ke KIB sebagai wadah politik menyongsong 2024.

Ketika itu terjadi, PDIP praktis hanya akan memiliki dua opsi, yakni bergabung dengan poros Partai Gerindra-PKB atau bertarung sendirian, khususnya di ajang pemilihan presiden (pilpres).

Asmiati A. Malik dalam artikelnya di The Diplomat yang berjudul Who Will Succeed Joko Widodo as Indonesiaโ€™s President?, menyebut proses menuju pesta demokrasi 2024 akan menjadi satu ujian terbesar bagi PDIP yang belum pernah dialami sebelumnya.

Menurutnya, keberhasilan PDIP akan bergantung pada kesediaan mereka untuk mengorbankan kepentingannya sendiri sebagai partai dengan peringkat elektabilitas tertinggi dan jumlah kursi terbanyak di parlemen. Asmiati mengatakan hal itu akan menjadi keputusan yang sangat berat bagi PDIP.

Hal tersebut kiranya bisa dimaklumi. Sebab, PDIP kemungkinan akan โ€œturun derajatโ€ dengan menjadi pengusung cawapres jika bergabung dengan poros Gerindra yang akan mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.

Karena faktanya, PDIP merupakan satu-satunya parpol yang tak pernah absen menyumbang nama capres di tiap edisi Pilpres sejak era Reformasi.

Pun, kalau akhirnya memilih berjuang sendirian. Opsi capres PDIP โ€“ Puan dan Ganjar Pranowo โ€“ saat ini tampak tak memiliki kekuatan yang sepadan dengan sosok capres PDIP sebelumnya.

Megawati, misalnya, yang memang merupakan ujung tombak dan simbol PDIP sejak pertama kali didirikan. Atau Joko Widodo (Jokowi) yang telah memiliki bekal populisme sejak menjabat Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

Serangkaian realitas itu tampaknya yang membuat Puan dan PDIP kemudian akhirnya melakukan safari politik pertama ke Partai NasDem, yang sebelumnya diisukan menegang. Kecanggungan mungkin dialami Puan dan bisa saja memengaruhi keputusan koalisi politik PDIP ke depannya.

Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas penafsiran semata. Yang jelas, hasil akhir safari politik Puan dan PDIP akan cukup menarik untuk dinantikan. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang โ€œkaratanโ€

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

More Stories

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai