HomeRuang PublikMenyoal Bias Privat dan Publik

Menyoal Bias Privat dan Publik

Oleh Muhamad Fardhansyah

Kecil Besar

Dengan perkembangan pesat teknologi komunikasi dan informasi, berbagai konsekuensi sosial dan politik turut mengikuti. Apakah batas antara kehidupan privat dan publik masih eksis?


PinterPolitik.com

Perkembangan jaringan komunikasi saat ini tidak hanya sebatas hubungan antara satu individu dengan individu lainnya โ€“ seperti layaknya berkomunikasi menggunakan telepon ataupun pesan singkat. Perkembangan saat ini jauh melesat โ€“ melampaui penemuan alat komunikasi pertama sejak abad ke 19.

Mengingat komunikasi begitu penting, berkembanglah telepon genggam pada akhir abad ke-20 yang pada awalnya hanya untuk mengakomodir kebutuhan beberapa orang saja. Dalam beberapa tahun kemudian, justru sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang.

Bila pada akhir abad ke-20 seseorang hanya dapat menyampaikan gagasannya berupa tulisan saja, kini, dengan kemajuan teknologi saat ini, seseorang dapat merekam aktivitasnya dalam bentuk foto atau pun video.

Namun, tanpa disadari, kemajuan tersebut tidak sepenuhnya bersifat positif. Misalnya, ruang privasi seseorang tanpa sadar semakin tergerus oleh tuntutan publik, banyaknya orang yang menyebarkan kegiatan sehari-harinya bahkan sampai informasi-informasi penting yang seharusnya tidak diketahui oleh publik.

Sementara, publik saat ini semakin ingin mengetahui kegiatan-kegiatan orang lain melalui unggahan-unggahan yang tersebar di sosial media, misalnya melalui fitur live di Instagram ataupun streaming di YouTube. Ini berakibat pada banyaknya peretasan-peretasan seperti pencurian data pribadi untuk kemudian diperjual belikan.

Jika dahulu ranah privat dan publik sangat benar-benar terpisah, saat ini kedua ruang tersebut sudah benar-benar kabur. Terlebih dengan kemajuan teknologi yang mendukung perkembangan algoritma, saat ini terkadang algoritma lebih mengetahui ketimbang diri kita sendiri โ€“ mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur.

Pertama-tama, mari kita refleksikan cara kita menggunakan media sosial saat ini. Mislanya, seberapa sering kita mengunggah kehidupan pribadi kita ke sosial media โ€“ mulai dari bangun tidur, bekerja, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga. Mungkin, tak sedikit dari kita mengunggah hal-hal yang bersifat privat โ€“ layaknya menggunakan fitur close friend yang terdapat pada Instagram.

Tentu, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing dalam bersosial media. Contoh di atas menggambarkan bahwa sudah tidak ada batas antara apa yang bersifat privat dan publik. Hal-hal yang bersifat privat justru sudah menjadi konsumsi publik.

Sejarah Singkat Ruang Privat dan Publik

Istilah privat dan publik pada awalnya muncul dalam masyarakat Yunani yang kemudian membaik pada hukum Roma Kuno. Istilah publik pada hukum Roma Kuno dipahami sebagai urusan dan kepemilikan bersama sedangkan istilah privat lebih merujuk kepada hak-hak istimewa yang dimiliki sebagian orang (Habermas, 1989).

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Secara singkat, kita dapat melihat kehadiran ruang publik pada kebebasan berpendapat yang dimiliki oleh setiap orang, layaknya seni yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Jika dahulu hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menyampaikan gagasannya melalui media, saat ini seseorang dapat secara terbuka menyampaikannya melalui media sosial.

Ini berbeda dengan ruang privat yang dimiliki seorang individu ataupun kelompok saja. Contohnya seperti kehidupan pribadi seseorang yang seharusnya tidak boleh dicampuri oleh publik ataupun lingkup komersial seperti korporasi seperti unit bisnis.

Ruang publik pada dasarnya mendorong partisipasi setiap lapisan dalam masyarakat, seperti kemunculan kedai kopi pada akhir abad ke-17 di Inggris sebagai wadah bagi masyarakat yang tidak dapat memasuki ruang-ruang privat seperti parlemen, istana, dan media komersial.

Kemudian, berkembangnya ruang publik yang ditandai oleh kemunculan pers yang menghimpun aspirasi dari masyarakat, dan juga jika dahulu karya sastra hanya bisa diciptakan dan dinikmati oleh segelintir orang saja. Pada waktu kemunculan pers tersebut, setiap orang sudah dapat mulai menciptakan karya mereka sendiri.

Semakin terbukanya kesempatan masyarakat dalam beraspirasi dan berekspresi, semakin terbuka lebar pula kesempatan bagi mereka dikenal oleh publik โ€“ seperti banyaknya sastrawan atau seniman yang lahir pada masa ini memunculkan tokoh-tokoh baru dalam masyarakat, yang tidak hanya sebatas dari kalangan atas saja.

Oleh karena itu, saat ini orang yang muncul di media tidak jauh dari mereka yang memiliki status di masyarakat โ€“ khususnya mereka yang memiliki citra di masyarakat entah karena fisik, kekayaan ataupun prestasinya.

Orang-orang tersebut secara umum dikenal sebagai โ€˜figur publikโ€™, yakni memperoleh pengakuan di hadapan masyarakat. Istilah ini muncul pada abad pertengahan yaitu ketika raja berdiri di hadapan rakyat, ia adalah sebuah ‘pertontonan kepublikan’ yang merupakan wujud perbedaan status di antara mereka (Habermas, 1989).

Bias Ruang Privat dan Ruang Publik Saat ini: Sebuah Refleksi

Saat ini, media sangat berperan untuk menetapkan seseorang adalah figur publik atau bukan. Sebab, istilah ini tidak lagi memiliki definisi yang sama seperti dahulu. 

Asalkan seseorang dapat mempengaruhi atau membuat mata masyarakat tertuju pada orang tersebut, tentu orang tersebut bisa saja merupakan figur publik. Asalkan orang tersebut menjadi pusat perhatian, status figur publik dapat tersemat kepadanya serta istilah-istilah lainnya seperti tokoh publik influencer ataupun selebriti.

Baca juga :  Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Sayangnya, istilah figur publik semakin rancu, sebab dapat berkonotasi negatif dan seseorang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan status tersebut. Diiringi oleh kemajuan teknologi, seseorang sangat dengan mudah melakukan apa saja untuk diketahui publik. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah โ€˜setting-anโ€™ untuk meningkatkan popularitas secara sesaat.

Jika dahulu, media sangat sulit untuk dimasuki oleh masyarakat umum. Saat ini orang dengan mudah menyalurkan aspirasinya melalui media alternatif secara mandiri yang tidak dibatasi oleh korporasi media besar โ€“ khususnya bagi seorang figur publik yang dengan membuat sebuah sensasi negatif demi popularitas sesaat sudah menjadi hal yang lumrah saat ini. 

Asalkan yang dilakukan oleh seseorang dapat meningkatkan popularitas hal tersebut dapat dimaklumi, meskipun pada akhirnya dapat menciptakan ketidakstabilan dalam masyarakat. Sebab, seorang figur publik setidaknya memiliki kelompok pengikutnya dan dapat mempengaruhinya. Sudah menjadi konsekuensi, hidup seorang figur publik tidak memiliki batasan privasi terhadap dirinya sendiri.

Hal-hal tersebut mungkin sangat relevan jika kita kaitkan dengan novel 1984 dari George Orwell โ€“ di mana seseorang dipaksa untuk tidak memiliki kehidupan privat tetapi saat ini justru seseorang secara suka rela melepaskan kehidupan privat tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh seorang kriminolog dari Norwegia Thomas Mathiesen yang mengatakan masyarakat saat ini sudah membentuk sebuah โ€˜viewers societyโ€™ โ€“ yang mana perubahan yang membuat seseorang secara sukarela berada dalam pengawasan orang lainnya.

Kebebasan berekspresi tentu menjadi sisi positif dari โ€˜viewers societyโ€™ saat ini yang membuat seseorang dapat dengan mudah menjadi sosok figur publik baru. Namun, sisi positif tersebut juga beriringan dengan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Di antaranya adalah kesenjangan antara si miskin dan si kaya akibat maraknya konten berbau kemiskinan yang ramai peminat, serta tidak dapat dipungkiri meningkatnya kriminalitas yang membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk mengetahui kehidupan pribadi seseorang.

Oleh karena itu, Mathiesen mengatakan viewers society merupakan topeng dari kebebasan saat ini yang tidak selamanya baik. Tidak sedikit orang yang terjerat olehnya, jejak digital yang abadi tersebar luas. Masih adakah kehidupan privat saat ini?


Profil Ruang Publik - Muhamad Fardhansyah

Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang โ€œkaratanโ€

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...