HomeNalar PolitikGiring Sebenarnya Pendukung Anies?

Giring Sebenarnya Pendukung Anies?

Kecil Besar

Aksi saling sindir Anies dengan Giring menyita atensi publik. Banyak orang dengan preferensi berbeda melihat yang dipertontonkan dari drama kedua politisi ini selalu menarik disimak, meski  seringkali di akhir cerita selalu Anies dapat penilaian positif. Muncul pertanyaan, jangan-jangan di balik drama ini, sebenarnya Giring adalah pendukung Anies?


PinterPolitik.com

Tensi politik di tahun 2022 tampaknya akan semakin memanas dibanding tahun sebelumnya. Drama politik, berupa akrobatik politik di media sosial semakin masif dijumpai. Seolah selalu berlanjut dari satu episode ke episode lainnya, drama politik seakan menawarkan hiburan layaknya sebuah film.

Salah satu drama politik yang menjadi atensi warganet paling hangat adalah aksi saling sindir antara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha. Apa yang dipertontonkan oleh keduanya, dinilai sebagai drama untuk menaikkan nama Anies agar bisa maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Anies Baswedan diberitakan menyebut bahwa grup Nidji (tanpa Giring sebagai personel) tidak sumbang saat menjajal panggung Jakarta International Stadium (JIS). Kemudian dibalas oleh Giring, menyindir balik dengan mengatakan ingin Oktober cepat datang. Hal tersebut, diduga terkait habisnya masa jabatan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Hendri Satrio, Direktur Lembaga Survei Kedai KOPI, mengatakan, bahwa drama saling sindir antara Anies dan Giring, selalu pada akhir ceritanya, menempatkan Anies sebagai pihak yang diuntungkan. Hendri menduga kemungkinan terdapat skenario di balik aksi saling sindir keduanya.

Negeri ini penuh dengan skenario politik. Inilah sebenarnya kalimat yang perlu dijelaskan kepada masyarakat luas. Politisi punya skenario, kelompok masyarakat yang berseberangan dengan politisi juga punya skenario. Sementara itu, masyarakat seringkali menjadi korban dari skenario elite politik itu.

Hal ini menjelaskan kenapa dalam menyaksikan skenario politik elite, seringkali kita temukan plot-twist, yaitu berupa alur cerita yang sengaja dipelintir sehingga memberi efek kejutan pada bagian akhir. Plot twist ternyata tidak hanya hadir dalam dunia fiksi layar kaca yang sering  kita tonton. Plot twist ternyata juga mulai memainkan perannya di kancah perpolitikan negeri ini.

Lantas, seperti apa kita memahami konsep plot twist dalam skenario politik?

Baca juga: Anies “Epic Comeback” ke Giring?

Skenario Politik dan Plot Twist

Evolusi demokrasi di Indonesia melahirkan sebuah fase baru dalam arena politik, yaitu pertarungan popularitas bukan gagasan. Politik, kini telah menjadi ranah adu narsis bukan adu konsep kepemimpinan. Dan kesemuanya itu diperlihatkan kepada publik dalam sebuah skenario yang sangat rapi, menggunakan media sosial yang dapat diakses oleh banyak kalangan.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih

Ilmuwan politik Harold D. Lasswell memberikan definisi klasik tentang politik, yaitu “siapa mendapatkan apa, di mana, dan bagaimana”. Sederhananya, politik adalah ruang adu narasi, negosiasi, dan lobi untuk mendapatkan sesuatu.

Sesuatu ini seringkali bersifat kekuasaan, pengaruh, atau kekayaan. Akhir dari politik ibarat sebuah permainan, ada yang menang besar, menang sebagian, kalah, dan hancur. Setiap pemain ingin menjadi pemenang, sehingga wajar untuk memenangkan permainan ini, mereka akan melakukan berbagai taktik.

Dalam era masyarakat yang terkena dampak arus post-modern, globalisasi, dan dunia digital, terdapat sebuah siasat politik baru yang menjadi senjata andalan para elite politik, yaitu permainan persepsi dan rekayasa pencitraan. Persepsi dan pencitraan bisa dikonstruksi sedemikian rupa di media sosial dan media konvensional, seperti televisi dan sebagainya.

Ahli studi kebudayaan Michael Baumann pada tahun 1960 mengistilahkan telepolitics untuk menggambarkan fenomena ini. Mereka yang menguasai sosial media dengan atensi berupa follower yang banyak akan mendominasi opini publik, sehingga kita sama-sama melihat bagaimana para elite memainkan perannya dalam sebuah skenario yang ditampilkan oleh media sosial.

Di Amerika Serikat (AS), terdapat adagium yang cukup lama, yaitu the camera never lies, tapi nyatanya justru sebaliknya. Kamera justru merekonstruksi citra menjadi realitas. Baumann menyatakan bahwa kamera justru berbohong. Hal ini disampaikan, karenakan melihat sebuah fenomena, melalui apa yang di kalangan pegiat televisi disebut the illusion of presence. Kamera berpretensi membuat ilusi kepada penonton, bisa kita sebut juga dengan istilah the lying camera.

The lying camera ini yang menjadi faktor terjadinya sebuah peristiwa yang biasa kita sebut dengan plot twist. Dalam dunia politik, istilah plot twist mungkin tidak ada. Hanya saja, bagaimana makna plot twist dalam percaturan politik negeri ini nyatanya seringkali terjadi. Bagaimana tebak-tebakan para penonton seringkali mentah ketika melihat  akhir sebuah tontonan, tentunya disebabkan karena ada skenario tersembunyi yang berlangsung di balik apa yang ditawarkan untuk ditonton.

Plot twist secara sederhana dapat dimaknai sebagai bagian akhir yang akan mengejutkan penonton atau penikmat karya. Konsep twist tersebut biasanya banyak digunakan untuk dapat memukau penonton. Teknik plot twist ini menjadi hal penting, apalagi di dalam sebuah cerita. Fungsi adanya perubahan tersebut atau twist adalah sebagai cerita dengan melakukan upaya agar penonton atau pembaca terlibat di dalam emosi yang ingin disampaikan.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Berbagai pengamat politik, misalnya, menyebut fenomena masuknya Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) setelah berkompetisi secara sengit pada Pilpres 2019 adalah sebuah plot twist. Peristiwa ini yang menggambarkan bahwa konsep plot twist seolah telah digunakan dalam panggung politik.

Well, lantas seperti apa menerjemahkan konsep plot twist dalam fenomena Anies dengan Giring?

Baca juga: Giring Terperosok Gara-gara Anies?

 Spoiler Akhir Permainan

Seperti yang telah disinggung di bagian pertama tulisan, Hendri Satrio merasa heran dengan PSI yang sering kali menyindir Anies. Hendri berkelakar bahwa, patut diduga apa yang dilakukan oleh PSI sebenarnya merupakan kerja-kerja layaknya tim sukses Anies Baswedan.

Seolah ingin menyampaikan spoiler warning, Hendri mengemukakan tiga alasan kenapa bisa sampai pada kesimpulan pendapat seperti itu. Pertama, PSI selalu fokus kepada Anies Baswedan. Jika disimak secara teliti, tidak ada gubernur lain yang dikritik oleh PSI. Dengan terus menerusnya membicarakan Anies, tentunya itu meningkatkan popularitas dari Anies itu sendiri.

Kedua, PSI selalu mengkritik proyek mercusuar yang menjadi program Anies. Ini membuat banyak orang menjadi tahu perkembangan proyek infrastruktur utama Anies.

Ketiga, kritik yang disampaikan PSI memiliki momentum yang pas. Ini membuat sindiran PSI kepada Anies menjadi perbincangan yang ramai. Layaknya seorang pebisnis, PSI seolah dapat melihat kesempatan dan melihat bagaimana peluang yang ada.

Baca juga: Kritik Anies, Giring “Gali Kubur”?

Jika analisis Hendri tepat, maka peristiwa aksi saling sindir Anies dengan Giring juga dapat dilihat melalui konsep dramaturgi politik. Fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan apa yang orang lakukan, apa yang  ingin mereka lakukan atau mengapa mereka  melakukan, melainkan bagaimana mereka  melakukannya. Erving Goffman menyebut tindakan ini dalam istilah impression management.

Pada dasarnya, teori ini berupaya mengonseptualisasikan kehidupan sebagai sebuah drama, menempatkan suatu  fokus kritik pada adegan-adegan yang diperlihatkan pemain. Kita harus dapat membaca di balik peristiwa yang dipertontonkan oleh kedua pihat tersebut.

Well, pada akhirnya, mungkin dapat dikatakan, dalam dunia politik, seringkali para aktor politik lebih terlihat sikap autentiknya di panggung belakang ketimbang panggung depan. Drama aksi saling sindir antara Anies dengan Giring harusnya dapat diintip dengan lebih cermat, karena tidak menutup kemungkinan kita akan diberikan plot twist di akhir drama itu. (I76)

Baca juga: Anies Lebih Jago dari Giring?


https://youtube.com/watch?v=-eniM5ZEVnQ
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...