HomeFokus BUMNPenyatuan Dana Pensiun BUMN Untuk Permudah Pengawasan

Penyatuan Dana Pensiun BUMN Untuk Permudah Pengawasan

Kecil Besar

Rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatukan pengelolaan dana pensiun di seluruh perusahaan pelat merah dilakukan sebagai upaya pengawasan yang lebih mudah. Dengan penyatuan ini pula diharapkan dana pensiun bisa dikelola oleh satu pihak, khususnya dari kalangan profesional.


PinterPolitik.com

“Selama ini satu BUMN punya sendiri (pengelolaan dana pensiun). Jika ini disatukan akan menjadi lebih efesien,” kata Staf khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta.

Menurut Arya, selama ini pihaknya memiliki keraguan karena dana pensiun pegawai BUMN dikelola secara sendiri-sendiri dan tidak dikelola oleh kalangan profesional. Karena itu, kementerian  tengah mengkaji skema terbaik dan menguntungkan untuk menyatukan pengelolaan dana pensiun.

Namun, demikian ungkap Arya, Menteri BUMN, Erick Thohir harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati . “Karena ini menyangkut keuangan dan sebagainya, maka perlu minta persetujuan Menteri Keuangan,” paparnya.

Persetujuan itu mencakup skema pengelolaan dana pensiun, baik melalui perusahaan baru atau ditempatkan di bank tertentu. “Penggabungan dana pensiun BUMN ini juga membutuhkan persetujuan Presiden Jokowi.” kata Arya

Pihaknya optimistis, dana pensiun yang dikelola bersama akan berkembang pesat. Arya misalnya mencontohkan pengelolaan dana pensiun di Kanada yang memiliki dampak positif.

Rencana penyatuan dana pensiun sebelumnya juga sempat diutarakan Erick Thohir ketika berencana membentuk induk usaha (holding) yang bergerak di bisnis asuransi dan dana pensiun beberapa waktu lalu. (R58)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...