HomeCelotehMenyoal "Doping" Ma’ruf Amin

Menyoal “Doping” Ma’ruf Amin

Kecil Besar

“Kala pertama kupandang pesona di wajahmu, saat itu hatiku kan terpana. Tiada ragu lagi tiada bimbang lagi”. – Harvey Malaihollo, Jerat


PinterPolitik.com

Ribut-ribut gugatan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Mahkamah Konstitusi (MK) kini memasuki babak baru. Ketua tim kuasa hukum pasangan tersebut, Bambang Widjojanto (BW) telah mengajukan perbaikan gugatan dan memasukkan tuntutan untuk mendiskualifikasi pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Loh loh, ada apa nih? Emangnya Pak Jokowi sama Pak Ma’ruf pakai doping apa pas Pilpres kemarin? Hehe.

Iya lah, kalau dalam olahraga, atlet-atlet akan didiskualifikasi jika ketahuan pakai doping. Itu loh, sejenis obat atau penambah stamina yang dianggap melanggar aturan-aturan sportivitas.

Ternyata eh ternyata, tuntutan agar Jokowi-Ma’ruf didiskualifikasi bukan karena ketahuan pakai doping, melainkan karena sang cawapres dituduh masih aktif menjabat di BUMN. Ma’ruf Amin disebut masih aktif menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) di BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri.

Kalau dicek di website kedua perusahaan tersebut, nama Ma’ruf memang terpampang di sana.

Hal inilah yang membuat BW menyebutkan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf bisa didiskualifikasi karena pada Pasal 227 UU No.7 Tahun 2017 tentang Pemilu, memang menyaratkan capres atau cawapres untuk menyertakan surat pengunduran diri dari jabatannya di BUMN.

Tapi, memangnya BNI Syariah dan Mandiri Syariah itu BUMN bukan sih?

Okelah, kalau BNI dan Mandiri, keduanya adalah BUMN karena sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Nah, kalau BNI Syariah dan Mandiri Syariah, keduanya itu anak perusahaan masing-masing dari BNI dan Mandiri.

Kalau menggunakan logika UU No.19 tahun 2000 tentang BUMN, memang keduanya tidak bisa serta merta disebut sebagai BUMN. Pasalnya, BUMN diartikan sebagai perusahaan yang sebagian besar atau seluruh modalnya dimiliki oleh negara lewat penyertaan langsung.

Baca juga :  Negara yang Belajar Berbicara Lewat Diam

Sementara anak perusahaan BUMN kan sahamnya dimiliki oleh induk perusahaannya, apalagi jika bentuknya persero. Hal ini juga terkait kewenangan yang dimiliki negara – misalnya Menteri BUMN – dalam mengubah susunan jajaran petinggi di perusahaan tersebut.

Akan tetapi, apabila anak perusahaan BUMN mendapatkan penugasan pemerintah atau melaksanakan pelayanan umum atau mendapatkan kebijakan khusus dari negara, maka anak perusahaan BUMN itu diperlakukan sama dengan BUMN, sehingga memiliki tanggung jawab kepada negara sebagai pemilik modal lewat perusahaan induknya.

Kan, tambah bingung jadinya. Artinya, di satu sisi BW bisa saja benar, tapi di sisi lain bisa saja salah. Ah, bisa bikin para hakim MK galau nih pas mutusin gugatan itu hehehe.

Ma’ruf Amin sendiri sudah mengklarifikasi dan bilang bahwa dirinya bukan pejabat dan bukan karyawan BUMN.

“Bukan! Itu bukan BUMN juga. Orang itu anak perusahaan. DPS kan juga bukan karyawan,” begitu kata Ma’ruf.

Tapi, Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga malah bilang bahwa Ma’ruf sudah mundur dari jabatan di BUMN.

Hayoo, kok nggak kompakan nih jawabannya? Belum dapat contekan ya? Atau gugup karena BW bilang bisa kena diskualifikasi? Uppps.

KPU sendiri sudah mengklarifikasi dan menyebutkan bahwa mereka sudah memverifikasi bahwa Ma’ruf bukan karyawan dan bukan pejabat BUMN.

Apa pun itu, yang penting dibuka ke publik selebar-lebarnya ya. Publik kan perlu tahu, itu benar-benar jabatan di BUMN atau bukan.

Lha, kalau pakai doping aja atlet kayak Maria Sharapova aja bisa didiskualifikasi dan dilarang bertanding, apalagi Pemilu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Ah, republik! (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.