HomeCelotehKPK Berani Jerat Megawati?

KPK Berani Jerat Megawati?

Kecil Besar

“Hidup sederhana, gak punya apa-apa tapi banyak cinta. Hidup bermewah-mewahan, punya segalanya tapi sengsara. Seperti para koruptor”. – Slank, Seperti Para Koruptor


PinterPolitik.com

Ibarat artis yang lagi banyak job pas Lebaran, KPK beberapa waktu terakhir ini juga lagi ngejar setoran. Setorannya itu duit rakyat yang dikorupsi ya, bukan setoran yang lain-lain. Hehe.

Yang terbaru, lembaga antirasuah itu telah menetapkan Sjamsul Nursalim dan istrinya sebagai tersangka dalam kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Mantan pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) itu disebut memperkaya diri senilai Rp4,58 triliun dari bantuanyang diberikan negara pada saat krisis ekonomi 1998.

Buat yang belum tahu, pada tahun 1998 Indonesia memang menghadapi krisis parah dan bank-bank yang ada kala itu mengalami krisis likuiditas, terutama setelah nasabah menarik uangnya dengan sangat cepat – aksi yang disebut sebagai rush of money.

Nah, untuk mencegah makin peliknya kondisi ekonomi, pemerintahan Soeharto “meminjamkan” sejumlah dana kepada 48 bank yang dianggap bermasalah. Persoalannya, banyak dari pemilik bank itu yang “membawa kabur” uang tersebut dan tidak mengembalikan pinjamannya.

Hal ini bertambah rumit ketika Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai presiden menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 8 tahun 2002 yang memberikan kepastian hukum pada para obligor BLBI.

Nah, gara-gara Inpres Megawati ini, terbitlah Surat Keterangan Lunas (SKL) untuk beberapa bank yang sebetulnya belum melunaskan kewajibannya.

Beberapa bank yang menunggak utang dalam jumlah cukup besar, misalnya Bank Central Asia (BCA) saat itu baru mengembalikan Rp 19 triliun dari total Rp 52 triliun pinjaman, lalu ada BDNI yang baru mengembalikan Rp 4 triliun dari total Rp 28 triliun pinjaman, dan Bank Umum Nasional (BUN) yang baru mengembalikan Rp 1 triliun dari total Rp 6 triliun pinjaman.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Nah, BDNI adalah salah satu yang mendapatkan SKL, sekalipun sebenarnya masih punya utang. Akibatnya, Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsjad Temenggung yang dianggap bertanggungjawab dalam penerbitan SKL, telah diputuskan bersalah, bahkan Mahkamah Agung (MA) memperberat hukumannya menjadi 15 tahun penjara. Tahu kan MA zaman itu tegasnya gila-gilaan sama koruptor.

Kalau ditelusuri, Syafruddin memang bertanggung jawab menerbitkan SKL itu. Namun, dalam kapasitasnya sebagai Kepala BPPN, posisi Syafruddin tidak berdiri sendiri. Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Kwik Kian Gie pernah bilang bahwa kebijakan penerbitan SKL diketahui oleh semua pejabat di sektor ekonomi.

Bahkan, Megawati sangat mungkin ikut andil dalam lahirnya kebijakan tersebut.

Nah lo, jadi Megawati harus dijerat KPK juga dong? Emang berani nih KPK jerat Ketua Umum PDIP itu?

Kalau kata Nelson Mandela, orang yang berani itu bukan orang yang tidak punya rasa takut, tapi orang yang bisa menaklukan ketakutannya. Hayooo, berani nggak KPK? Hehehe. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.