HomeCelotehKoruptor Metal, PDIP Mental

Koruptor Metal, PDIP Mental

Kecil Besar

“Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi, tapi yang selingkuh.” – Goenawan Mohamad


PinterPolitik.com

[dropcap]L[/dropcap]agi asyik-asyiknya nonton TV, eh Abdul malah dikagetkan dengan berita operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK.

Gilak, ini koruptor yang ketangkep kok ga ada habisnya?

Padahal sekarang lagi bulan puasa, tapi korupsinya nggak berhenti. Menariknya lagi, yang ketangkep ini kan Bupati Purbalingga yang namanya Koperdi – eh maksudnya Tasdi, kalau Koper mah dijinjing ya? Hahaha.

Saat digiring di gedung KPK, eh si Tasdi ini malah tanpa rasa bersalah mengacungkan salam metal. Itu loh salam yang dulu terkenal pas zaman Pak Jokowi nyalon di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu.

Metal brooh!

Lha, ini metal kok korupsi!

Tapi, pada tau nggak sih asal muasal simbol yang kalau ditulis biasanya menggunakan huruf “m” dengan dua garis menyilang alias “\m/” ini?

Setelah Abdul telusuri, ternyata simbol itu sudah dipakai sejak zaman Hindu kuno. Sebutannya “apana yogic mudra”, dalam istilah klasik India artinya ‘singa’. Sidharta Gautama juga kerap menggunakan simbol tersebut ketika bermeditasi untuk membendung serangan roh-roh jahat.

Dalam musik, gestur sign of the horns ini pertama kali digunakan oleh Ronnie James Dio, vocalis band Black Sabbath yang menggantikan Ozzy Osbourne. Sejak saat itulah gestur yang di beberapa negara Mediterania dan Latin dianggap ofensif ini menjadi identik dengan musik rock dan metal.

Pakde Jokowi disebut sebagai “Presiden metal” juga gara-gara gestur itu, selain karena beliau memang suka musik cadas tersebut.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Di politik, gestur ini anehnya sering digunakan sebagai simbol nomor 3. Tentu saja dengan ibu jari yang ditonjolkan keluar, biar pas 3 jumlahnya dengan telunjuk dan kelingking. Biasanya sih digunakan untuk menunjukkan nomor urut partai atau pasangan calon yang bertarung di Pilkada atau Pemilu.

Ternyata eh ternyata, untuk Pemilu 2019 nanti, nomor urut 3 adalah kepunyaan si banteng PDIP. Ternyata eh ternyatanya lagi, Bupati Purbalingga si Tasdi itu adalah juga kader PDIP.

Jadi, maksudnya gimana nih? Korupsi, lalu kasih simbol nomor 3 biar sekalian kampanye gitu?

Lha, bukannya nanti orang-orang pada nggak mau pilih PDIP ya karena dianggap sebagai partai korup?

Menurut Abdul sih lucu juga ya. Ini kayak kampanye model baru. Tapi, apa nggak takut hasilnya nanti bakal negatif bagi citra PDIP?

Bro, citra anak metal juga ternodai lah. Jangan biacara partai mulu!

Iya juga sih. Ini mah pelecehan buat citra anak metal. Lama-lama bakal ada “Aksi Bela Metal” gara-gara si Tasdi ini.

Sementara buat PDIP, citra partai bakal mental nanti di Pemilu gara-gara korupsi. Apalagi, 4 dari 10 OTT yang terjadi di 2018 menimpa kader atau tokoh yang diusung partai banteng.

Hmm, ini kampanye atau apa sih? Abdul bingung. (S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.