HomeCelotehKoalisi Gemuk Periode Kedua

Koalisi Gemuk Periode Kedua

“Dijual obat penambah berat badan. Dijamin 100% berhasil tanpa efek samping.” – Iklan obat penggemuk badan


 PinterPolitik.com

Saat ini Jokowi, bisa dibilang sebagai dirigen dalam suatu konser besar yang menampilkan orkestra masif. Pada awal pemerintahannya, mungkin Jokowi mampu walau belum mahir betul memimpin orkestra dalam skala yang lebih kecil.

Namun sekarang dengan keberhasilan relatif dari konsernya, banyak yang ingin tampil dalam orkestra tersebut. Mungkin inilah yang terjadi ketika partai-partai oposisi mulai merapat ke koalisi Jokowi. Ketika Jokowi pertama kali menjabat, beliau hanya didukung oleh lima partai: PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKPI.

Namun saat ini, di periode kedua menjabat Jokowi didukung oleh setidaknya  PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, PSI, Perindo, PKPI, dan PBB. Belum lagi ada kemungkinan partai oposisi seperti Gerindra dan Demokrat merapat.

Agaknya koalisi Jokowi sekarang sudah terlalu gemuk. Masa sisa partai oposisi cuma PKS doang. Banyak kritik berdatangan kepada partai-partai oposisi kenapa bisa-bisanya merapat ke koalisi petahana, terutama unutk Gerindra.

Buat apa pertarungan elektoral sengit kemarin, yang telah membagi masyarakat ke dalam kubu-kubu tertentu dan duit negara untuk pelakasanaan Pemilu yang telah dihabiskan.

Koalisi gemuk ini mengingatkan kita pada iklan penggemuk badan di Instagram. Ibarat obat penggemuk badan, jika kekurangan porsi ideal memang tidak baik. Tapi jika berlebihan tentu akan menimbulkan obesitas dan komplikasi penyakit.

Bahkan obat penggemuk badan pun sebenarnya bisa menyebabkan efek samping seperti jerawat, penipisan kulit bahkan pengeroposan tulang.

Bukan bermaksud body shaming, tapi koalisi yang terlalu gemuk punya komplikasi tersendiri. Jokowi bilang bahwa dirinya bebas dari beban di periode kedua ini. Tapi dengan banyaknya partai masuk ke koalisi, beliau harus bisa mengakomodasi semua kepentingan.

Perebutan kursi menteri pun jadi semakin sengit. Menteri-menteri galak yang punya prestasi pun bisa tersingkir dengan para politisi yang nurut dengan kemauan partai. Hal ini pun akan melambatkan kinerja pemerintah Jokowi di periode kedua.

Jadi sudahlah. Tak perlu menggemukkan badan pemerintah. Apa gunanya menjadi berisi dan kuat jika ujung-ujungnya penyakitan dan malah banyak masalah. (M52)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  The Battle of Javanesia 2: Proxy War Jokowi vs Prabowo di Pilkada 2024
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Gerindra-PKS Tega Anies Sendiri?

“Being alone is very difficult.” – Yoko Ono PinterPolitik.com Menjelang pergantian tahun biasanya orang-orang akan punya resolusi baru. Malah sering kali resolusi tahun-tahun sebelumnya yang belum...

Ada Luhut, Langkah Bamsoet Surut?

“Empires won by conquest have always fallen either by revolt within or by defeat by a rival.” – John Boyd Orr, Scottish Physician and...

Balasan Jokowi pada Uni Eropa

“Negotiations are a euphemism for capitulation if the shadow of power is not cast across the bargaining table.” – George P. Shultz PinterPolitik.com Sekali-kali mari kita...