HomeCelotehJangan Ada Rain Yang Lain

Jangan Ada Rain Yang Lain

Kecil Besar

Kesadaran akan pencegahan KDRT di NTB mulai bergeliat. Di beberapa desa, pernikahan di bawah usia 19 tahun mulai dilarang.


PinterPolitik.com

[dropcap]U[/dropcap]sia Rizal sudah menginjak 28 tahun, saat keluarganya membawa Rain yang masih berusia 16 tahun, sebagai calon istrinya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), usia Rain yang masih duduk di kelas satu SMA, telah dianggap cukup untuk dinikahkan.

Sebagai pria yang usianya di atas 25 tahun, Rizal sudah dianggap “terlalu tua” untuk terus membujang. Meski Rizal sendiri sudah pernah mengecap pendidikan tinggi dan kini berprofesi sebagai fotografer lepas, namun ia tetap tak mampu mengelak dari perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya.

Di Kabupaten Lombok Barat, keluarga Rizal memiliki reputasi  yang cukup baik. Sementara Rain, merupakan putri dari keluarga biasa di kampungnya. Beban hutang yang cukup membelit, membuat keluarga Rain bersedia menyodorkan putrinya sebagai “pelunas” saat orangtua Rizal memintanya untuk dinikahkan dengan putra mereka.

Sementara di mata Rain, Rizal hanyalah pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya tanpa rencana. Tak heran, bila gadis cantik dan periang yang memiliki banyak teman ini syok dengan keputusan orangtuanya. Pernikahan bagi Rain, bagaikan badai besar yang meluluhlantakkan impian-impiannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, keduanya kini harus mengarungi kehidupan bersama. Tautan usia yang begitu jauh pun membuat Rain melihat Rizal sebagai sosok yang “menakutkan”. Sehingga apa yang diharapkan sebagai kebahagiaan di awal-awal pernikahan, hanyalah mimpi buruk dan neraka bagi keduanya.

Sikap Rain yang masih kekanak-kanakan, tidak terampil dengan pekerjaan rumah dan sebagai seorang istri, membuat Rizal kerap merasa kesal. Amarah di dalam dirinya atas keputusan sepihak keluarganya pun, semakin lama semakin membuncah. Hingga akhirnya, “bom waktu” di dalam dirinya itu pun kerap meledak.

Kata-kata kasar yang sering ia lemparkan pada Rain, semakin lama semakin sering dan tak jarang disertai dengan tamparan, tempelengan, bahkan cambukan. Satu dua kali, Rain hanya bisa menangis dan mengurung diri, namun lama kelamaan Rain mulai berani melarikan diri, pulang ke rumah orangtuanya.

Beberapa kali, keluarga Rain dan Rizal berupaya menyatukan pernikahan mereka kembali. Namun Rain terus berkeras menolak. Pertikaian dua keluarga ini pun, kemudian menjadi bahan omongan masyarakat. Para tetua kampung ikut turun tangan, termasuk salah satu teman kuliah Rizal dulu.

Adalah Yoni, teman Rizal yang kini aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat, mengajaknya untuk berbincang-bincang mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dari Yoni, Rizal mulai paham bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Walau bagaimana pun, kini Rain adalah istrinya. Tanggung jawabnya lah untuk menjadikan rumah tangga mereka bahagia.

Bersama Yoni pula, kini Rizal memiliki tujuan hidup lain, yaitu berupaya mencegah apa yang ia alami ikut dirasakan oleh orang lain. Bersama-sama LSM di desanya, Rizal membayar kesalahannya dengan memberikan kesadaran akan akibat dari pernikahan dini. Dan berkat perannya pula, kini di NTB tindakan KDRT telah mampu di tekan. (R24)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...