HomeRuang PublikAlarm Bahaya Elektabilitas Ganjar di Luar Jawa

Alarm Bahaya Elektabilitas Ganjar di Luar Jawa

Oleh Rofi’i Zuhdi Kurniawan

Kecil Besar

Berbagai hasil survei terbaru menunjukkan elektabilitas Ganjar Pranowo yang tetap melesat. Namun, bukan tidak mungkin, ada alarm berbahaya di balik elektabilitas Ganjar ini.


PinterPolitik.com

“Never was anything great achieved without danger” – Niccolo Machiavelli, filsuf asal Italia

Beberapa bulan terakhir hasil rilis lembaga survei menunjukkan elektabilitas Ganjar semakin melesat meninggalkan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan di urutan selanjutnya. Sekilas ini merupakan kabar membahagiakan bagi pendukung Ganjar tetapi posisi sosok yang hingga kini masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah (Jateng) itu sebenarnya relatif tidak terlalu aman kalau disimak dari detail wilayahnya. 

Ini berkaca dari Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ketika Prabowo berhasil mengejar ketertinggalan dengan Joko Widodo (Jokowi) di detik-detik akhir. Bahkan, Denny JA dalam buku 9-P Political Marketing menjelaskan bahwa Prabowo mampu mengejar ketertinggalan selisih sekitar 10% dengan Jokowi karena mampu menguasai wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa.

Sementara, kekuatan Jokowi relatif hanya tersentral di Pula Jawa saja. Memang, Pulau Jawa adalah kunci tetapi wilayah-wilayah luar Jawa juga cukup menentukan margin kemenangan.

Ganjar Perkasa di Jawa

Dirilis oleh Litbang Kompas, survei selama 6 bulan terakhir menunjukkan elektabilitas Ganjar secara nasional terus naik dari 23,2% di bulan Oktober 2022 menjadi 25,3% di bulan Januari 2023. Elektabilitas Ganjar terkerek secara nasional naik berkat berhasil menguasai Jateng, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur (Jatim) untuk saat ini. 

Elektabilitas Ganjar sangat perkasa di Jawa. Faktor jabatan yang diemban sebagai Gubernur Jateng dan PDIP memang membuat dukungan masyarakat Jateng relatif terkonsolidasi pada Ganjar. 

Teruntuk Jatim, besarnya elektabilitas lebih disebabkan kedekatan ideologi antara Islam tradisional yang terwakili NU dengan kalangan Nasionalis. Ditambah lagi, Anies dan Prabowo memang tidak cukup kuat untuk menggaet massa NU di Pulau Jawa bagian timur ini. 

Faktor lain juga bisa dibaca dengan relatif majunya akses sinyal di Pulau Jawa sehingga memungkinkan masyarakat aktif bermain media sosial. Pendiri SMRC, Saiful Mujani, memaparkan bahwa banyak orang memilih Ganjar berkat keaktifan dan keluwesannya di media sosial. 

Alhasil, Ganjar dipilih oleh mayoritas pengguna media sosial. Secara keseluruhan, elektabilitas Ganjar di Jawa sudah mencapai 32% pada survei bulan Januari 2023 – terus meningkat dari 28,3% di bulan Oktober 2022. 

Melempem di Luar Jawa

Chart, bar chartDescription automatically generated

Elektabilitas Ganjar memang meroket di Pulau Jawa tetapi melempem di luar Jawa. Elektabilitas sang Gubernur Jateng ini mengalami stagnasi dan penurunan di wilayah luar Jawa, kecuali Kalimantan. 

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Terdapat banyak faktor menyebabkan Ganjar belum optimal meraih elektabilitas di luar Jawa. Pertama, selama ini Ganjar masih terganjal izin untuk bersafari politik di luar kedinasan sebagai Gubernur dan kedudukannya sebagai Ketua Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). 

Alhasil, selama tahun 2023 saja Ganjar baru dua kali ke wilayah luar Jawa, yaitu Sumatera Utara (Sumut) dan Kalimantan Timur (Kaltim). Minimnya interaksi dengan masyarakat di wilayah luar Jawa membuat Ganjar relatif kurang dikenal. 

Kedua, Ganjar masih mandiri dan tak disokong oleh mesin partai. Berbeda dengan Anies dan Prabowo yang bisa menggunakan mesin partai untuk mengoptimalkan elektabilitas, Ganjar justru harus bergerak mandiri memperkenalkan diri. 

Padahal, untuk mengenalkan sosok kandidat diperlukan mesin partai yang memiliki struktur hingga tingkat dusun. Ini terlihat jelas di Bali Nusa yang merupakan kantong PDIP tetapi elektabilitas Ganjar justru menurun. 

Ketiga, infrastruktur luar Jawa yang belum terlampau mendukung penggunaan media sosial secara masif dan aktif membuat Ganjar tak bertaji. Dilansir APJII, dari 132,7 juta pengguna media sosial, hanya 46,4 juta yang berasal dari luar Jawa. 

Padahal, selama ini Ganjar hanya mengandalkan kekuatan udara (media digital) untuk meningkatkan elektabilitasnya. Ganjar relatif tidak pernah memasang baliho secara masif seperti Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Anies Baswedan, dan Erick Thohir. Inilah kendala Ganjar karena media sosial rupanya belum bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. 

Megawati adalah Kunci

Ganjar yang tercecer di luar Jawa harus diakui disebabkan oleh kerjanya yang selama ini masih mandiri dan tidak disokong oleh mesin yang mumpuni. Meski Jokowi sudah membantunya secara implisit lewat kode-kode, ternyata hasilnya belum maksimal. 

Elektabilitas Ganjar masih belum meyakinkan hingga detik ini. Kunci untuk meningkatkan elektabilitas adalah dengan meningkatkan popularitas (tingkat keterkenalannya). 

Ganjar memiliki popularitas yang relatif masih rendah dalam beberapa survei terakhir hanya berkisar di angka 70-80 persen – jauh dibanding Anies dan Prabowo yang sudah lebih dari 90 persen. 

Popularitas yang masih rendah membuat Ganjar butuh untuk mengandalkan kekuatan darat (massa bawah). Sebenarnya, kekuatan ini dimiliki oleh partainya, yaitu PDIP yang terkenal memiliki akar rumput kokoh dan mampu diandalkan sebagai mesin elektoral. 

Beberapa wilayah basis PDIP di luar Pulau Jawa seperti Sumut, Sulawesi Utara (Sulut), Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa saja menjadi ceruk elektabilitas Ganjar. Sayangnya, hambatan bagi Ganjar tidak mudah karena kunci mesin PDIP ada di tangan Megawati Soekarnoputri. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda Megawati akan mengumumkan capres dari PDI-P dalam waktu dekat.  

There is no avoiding war; it can only be postponed to the advantage of others,” jelas Niccolo Machiavelli. 

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Bisa saja, ini adalah upaya Megawati untuk memberi ruang terlebih dahulu pada kandidat lain – khususnya Anies. Sejak dideklarasikan bulan Oktober lalu Anies memang relatif rajin berkunjung ke banyak daerah di luar Jawa – seperti Aceh, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sumatera Barat (Sumbar), dan sebagainya. 

Prabowo pun juga relatif diberi kesempatan mengonsolidasikan kekuatan yang dimiliki pada 2019 lalu dan aktif terlibat dalam aktivitas Partai Gerindra. Sementara, Ganjar justru belum diberi panggung luas untuk menari. Ia masih harus menari dalam panggung-panggung kecil untuk menghindari ketersinggungan Megawati dan petinggi PDIP. 

Tak Boleh Hilang Momentum

Chart, bar chartDescription automatically generated

Sayangnya, pendaftaran capres tinggal enam bulan lagi. Megawati dan PDIP memang bisa mengubah peta koalisi tetapi kehilangan momentum elektabilitas Ganjar juga bisa menjadi bencana bagi PDIP, terutama di luar Jawa.

Politik adalah soal momentum yang tidak boleh terlewat begitu saja. Elektabilitas Ganjar yang stagnan di luar Jawa bisa membuat elektabilitasnya secara keseluruhan stagnan atau justru alami penurunan jika tidak disokong pergerakan mesin partai – mengingat selama 6 bulan terakhir elektabilitas Ganjar di Luar Jawa hanya meningkat 1,2%. Ini adalah peningkatan yang sangat minim untuk jangka waktu yang lumayan lama.

Ganjar pun tak boleh berpangku tangan apabila ingin menaikkan elektabilitas di luar Jawa. Dia harus berusaha mendapatkan kemudahan izin untuk bersafari politik secara implisit di luar Jawa. 

Dia pun harus memanfaatkan jejaring dan agenda Kagama yang tersebar di seluruh Indonesia selama mesin partai belum merestui. Ganjar perlu lebih berani lagi untuk menampakkan diri sebagai capres demi menguatkan loyalisnya agar tidak ragu dan bimbang. Apalagi, isu liar dari mulai penundaan pemilu juga tidak boleh didiamkan begitu saja. 

Alarm bahaya ini harus diperhatikan pula oleh relawan Ganjar bahwa nyatanya mereka masih butuh mesin partai. Mereka harus melakukan gerakan yang relatif solid dan masif secara mandiri bila memang ingin memenangkan Ganjar. 

Momentum kenaikan elektabilitas Ganjar secara nasional sepintas memang melegakan tetapi peta elektabilitas juga perlu diperhatikan. Langkah berani perlu dilakukan layaknya jargon berani, “meski dihajar sampai modar tetap Ganjar.” 



Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...