HomeNalar PolitikZionis Nusantara, Munculnya Pendukung Israel?

Zionis Nusantara, Munculnya Pendukung Israel?

Kecil Besar

Kekhawatiran Hidayat Nur Wahid atas Zionis Nusantara tentu menjadi fenomena menarik. Selama ini narasi terkait konflik di Jalur Gaza didominasi dengan dukungan terhadap Palestina. Namun, dukungan terhadap Israel mulai ramai di media sosial. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, mengapa muncul dukungan terhadap Israel dalam menanggapi konflik Palestina-Israel?


PinterPolitik.com

Media sosial sedang hangat dengan pembahasan konflik Israel dan Palestina. Diskusi publik ini berawal dari bentrokan di Masjid Al-Aqsa dan serangan udara Hamas sebagai pemantik terjadinya kembali konflik antar dua negara tersebut.

Indonesia secara terus menerus menyerukan dukungannya terhadap Palestina. Masyarakat sipil dan pejabat pemerintah juga secara kompak mengecam kekerasan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina.

Narasi dukungan terhadap Palestina terlihat pada diskusi warganet di media sosial. Dari hasil riset dari Indonesia Indicator selama 7 Mei hingga 15 Mei disebutkan bahwa masyarakat Indonesia memang merasa memiliki kedekatan dengan Palestina.

Narasi-narasi yang dibawa berupa warga Indonesia yang menolak penjajahan Adanya kedekatan secara historis di mana Palestina dahulu menjadi salah satu negara terdepan yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Banyak juga yang mengaitkan Indonesia sebagai negara populasi Muslim terbesar sudah seharusnya membantu saudara seiman di Palestina.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menggunakan media sosial Twitter dalam merespons konflik Israel-Palestina. Melalui cuitannya, Jokowi mengecam serangan Israel dan meminta untuk menghentikan agresinya ke Palestina.

Walaupun banyak yang mengutarakan dukungan terhadap Palestina, namun muncul fenomena warganet yang dinilai menghina Palestina di TikTok. Pihak yang terlibat terjerumus UU ITE karena dianggap menyebar konten SARA. Salah satu pelaku adalah siswa SMA di Bengkulu yang mengakibatkan dirinya menerima sanksi drop out dari sekolahnya.

Baca Juga: Konflik Israel-Palestina Absen Solusi?

Selain kasus penghinaan Palestina, muncul polemik di media sosial akibat warganet yang menunjukkan dukungannya terhadap Israel. Hal ini tentu jarang terjadi mengingat secara tradisional, Indonesia berpihak pada Palestina.

Kekhawatiran dukungan terhadap Israel ini diutarakan oleh Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia menyesalkan munculnya kelompok atau individu yang memberikan dukungan kepada Israel. Ia mengaku heran mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim.

HNW berpendapat bahwa munculnya kelompok tersebut dilatarbelakangi oleh pemahaman kebangsaan yang keliru. HNW mengaitkan kebangsaan dengan UUD 1945, di mana Soekarno, sebagai Bapak Bangsa Indonesia secara konsisten menolak penjajahan melalui Pembukaan UUD 1945.

HNW memberikan sebutan “zionis nusantara” bagi mereka yang memberikan dukungan terhadap Israel. Menurutnya, zionis nusantara ini tidak sejalan dengan sikap kelompok masyarakat moderat Indonesia yang mengecam Israel dan mendukung Palestina.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Apa narasi yang dibawa oleh zionis nusantara dalam menanggapi konflik Israel-Palestina? 

Warganet Pendukung Israel

Mayoritas masyarakat Indonesia memberikan dukungannya kepada Palestina. Walaupun begitu, tidak sedikit juga masyarakat yang mendukung Israel.

Hal ini diafirmasi oleh pakar media sosial dan pendiri PT Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi. Merujuk dari cuitan warganet, Fahmi mengatakan banyak masyarakat Indonesia yang menunjukkan dukungannya pada Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Fahmi memberi contoh salah satu cuitan warganet yang memperlihatkan sebuah foto tentara Israel membantu seorang kakek Palestina yang disertai sindiran terhadap media Indonesia yang tidak menyoroti hal tersebut.

Perang narasi dapat terlihat pada beberapa akun media sosial dan komentar warganet. Seperti salah satu warganet Indonesia, Monique Rijkers yang menggunakan akun Facebook dan Instagram untuk menyuarakan dukungan terhadap Israel.

Monique mengatakan bahwa ada misinformasi yang muncul di kalangan publik soal konflik Israel-Palestina. Dia mengatakan sentimen terhadap Israel diperburuk karena pemberitaan yang menggunakan sebutan sensitif, seperti Masjid Al-Aqsa dan jemaah yang tengah shalat tarawih.

Persoalan agama pun mengakibatkan masyarakat menyalahkan polisi Israel. Menurutnya, saat itu polisi Israel hanya menertibkan situasi di dalam Masjid Al-Aqsa.

Monique juga mengatakan kalau Israel hanya merespons serangan pada Hamas sehingga letak kesalahan ada pada Hamas yang tidak melindungi warganya. Seperti yang diketahui, Hamas memang pihak pertama yang melakukan serangan ketika ketegangan antara Israel dan Palestina terjadi.

Jika melihat dari latar belakang Monique, ia merupakan wartawan yang berkecimpung di dunia jurnalistik selama 12 tahun. Monique mengatakan bahwa pemberitaan Indonesia terkait Yahudi dan Israel minim verifikasi dan tidak kredibel. Ketika dirinya ke Israel pada 2012 lalu, ia mengatakan Israel berbeda dengan apa yang diberitakan.

Baca Juga: Israel-Palestina: Buah Kegagalan Trump?

Argumen Monique sejalan dengan tulisan Matti Friedman yang berjudul What the Media Gets Wrong About Israel yang menjelaskan adanya ketimpangan dalam pemberitaan media atas Israel. Israel memiliki citra yang buruk di media dan menjadi percontohan negara dengan kegagalan moral.

Friedman mengatakan ada masalah dalam proses pemberitaan, misalnya informasi yang merugikan Israel tidak dianggap newsworthy. Ia mencontohkan penyelundupan 100 roket ke Gaza oleh Hamas tidak diberitakan karena dianggap tidak memiliki nilai berita. Hal ini berbanding sebaliknya jika terjadi di Palestina.

Baca juga :  Mentalitet Korea Ala Bahlil

Argumen Monique sebenarnya cukup populer di masyarakat Indonesia yang pro Israel. Mereka menyalahkan Hamas atas eskalasi konflik Jalur Gaza. Banyak yang berpendapat Israel hanya melakukan self-defense atas serangan udara Hamas. Banyak juga yang menakar kemampuan kedua negara yang kemudian berkesimpulan Israel akan menang atas konflik.

Lantas mengapa fenomena “zionis nusantara” ini terjadi? Apa yang menjadi faktor atas munculnya dukungan terhadap Israel?

News Media Berperan?

Di era globalisasi, pemberitaan media menggunakan teknologi sebagai medium distribusi informasi. Pemberitaan media beralih dari medium tradisional (print media, radio, televisi) ke media massa yang disebut news media atau media berita.

Masifnya media massa memperluas akses publik terhadap informasi. Dengan ini, publik juga dapat memahami suatu isu lebih baik karena menerima berbagai angle atau fokus pemberitaan atas suatu isu.

Ini sejalan dengan tulisan Nicholas Charron yang berjudul What is the Influence of News Media on People’s Perception of Corruption? Parametic and Non-Parametic Approaches. Charron mengatakan bahwa masyarakat yang mengonsumsi berita dari media sosial memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap suatu isu, daripada masyarakat  yang memperoleh informasi dari sumber tradisional.

Berangkat dari tulisan Charron, berkembangnya dukungan terhadap Israel bisa jadi dipengaruhi oleh news media. Ketika dahulu masyarakat hanya menerima berita dari sumber tradisional, informasi yang  diperoleh terkait konflik Israel-Palestina juga terbatas. Keterbatasan tersebut membuat masyarakat mengikuti narasi yang dibawa oleh media tradisional.

Munculnya news media memberikan lebih banyak pilihan atas pemberitaan Israel-Palestina. Tentu saja fokus pemberitaannya menjadi lebih variatif. Besarnya akses informasi di era digital memungkinkan masyarakat melihat sisi lain pemberitaan Israel-Palestina yang memunculkan peralihan dukungan dari Palestina ke Israel.

Baca Juga: Israel-Palestina: Faksionalisme dan Regionalisme

Banyak juga yang mengatakan bahwa orang yang mendukung Israel membaca media pro Israel atau “termakan” propaganda Israel. Terlepas hal ini benar atau tidak, tapi ini membuktikan bahwa news media memberikan akses informasi yang lebih besar ke masyarakat.  

Munculnya perdebatan dan diskusi dapat membantu masyarakat melihat perspektif lain dalam memahami suatu isu. Namun, jangan sampai perang narasi warganet Indonesia atas konflik Israel dan Palestina menimbulkan konflik dalam negeri.

Menjadi disclaimer juga, walaupun dukungan terhadap Israel meningkat, bentuk kekerasan apa pun tentu tidak dapat dibenarkan. (R66)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Youtube Membership

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Promo Buku
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Ivermectin, Kebijakan Buru-Buru Erick?

Obat ivermectin yang diperkenalkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir menjadi polemik di masyarakat. Obat ini sendiri masih dalam tahap uji klinis, namun sudah digunakan...

Jokowi di Simpang Infrastruktur dan Pandemi

Masih berjalannya proyek infrastruktur di saat pandemi menjadi polemik di tengah masyarakat. Besarnya anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur dianggap menjadi sikap pemerintah yang...

Mungkinkah Dialog Papua Terwujud?

Presiden Jokowi memberikan arahan kepada Menko Polhukam Mahfud MD untuk mewujudkan dialog dengan Papua sebagai upaya pemerintah menggunakan pendekatan damai. Di sisi lain, pemerintah...