HomeNalar PolitikUU Terorisme ‘Hampir’ Disepakati

UU Terorisme ‘Hampir’ Disepakati

Kecil Besar

Belum selesainya pembahasan RUU Terorisme hingga saat ini, diklaim anggota DPR karena belum adanya kesepakatan antara Pemerintah dan DPR.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]enyelesaian revisi Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Anti-terorisme), masih terus berjalan antara pemerintah dan DPR. Sudah lebih dari setahun sejak pertama kali pembahasannya dilakukan, yaitu sejak Mei 2016 lalu, namun hingga kini masih belum ada tanda-tanda akan disahkan. Komisi III DPR sendiri meyakini kalau UU tersebut akan rampung paling lambat Oktober ini.

Menurut seorang sumber yang merupakan anggota dewan, salah satu masalah utama yang  belum mencapai kesepakatan adalah karena pemerintah ternyata belum satu kata mengenai rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme. “Pemerintah sendiri belum satu suara dalam pelibatan TNI. Masih ada perbedaan pendapat, apakah TNI masuk sebagai perbantuan militer atau tidak,” katanya, Sabtu (8/7).

Ia mengatakan kalau revisi yang sudah lebih dari setahun tersebut ternyata belum sampai 50 persen membahas mengenai Daftar Inventarisasi Masalah (DIM). Selain itu, selama proses pembahasan juga banyak penambahan substansi dari draf awal yang disampaikan pemerintah.

Pasalnya, dalam draf awal lebih menekankan soal penindakan. Sedangkan akhir-akhir ini aksi teror yang menyasar anggota Polri sangat marak. Sehingga pembahasannya mengalami pengembangan, karena itu DPR dan pemerintah perlu menyepakati agar isi RUU juga mencantumkan pencegahan dan penanganan terhadap korban aksi terorisme.

 

Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM Karjono mengungkapkan kalau hal yang diperdebatkan adalah mengenai definisi terorisme. Pemerintah beranggapan kalau terorisme tidak perlu didefinisikan, karena semua kejahatan terhadap negara dapat dikatakan sebagai terorisme.

Perdebatan lainnya adalah mengenai pasal 43 yang menyebutkan pemberantasan tindak pidana terorisme dilakukan oleh Polri, TNI, dan instansi terkait lainnya yang dikoordinasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pemerintah dalam hal ini meminta supaya norma-norma yang terkait penguatan TNI ditulis dalam UU Antiterorisme. Jika dituliskan, maka akan ada unsur positif dan negatifnya.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Sementara itu, anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo mengklaim peran TNI dalam Revisi UU Terorisme sudah menunjukkan titik terang. Ia mengungkapkan, fraksi di DPR mulai memahami kenapa peran TNI dibutuhkan untuk pemberantasan terorisme. “Tapi tetap harus dihindari soal kembali ke praktik masa lalu (penghilangan orang secara paksa atau pelanggaran HAM),” katanya di Jakarta, Senin (10/7).

Politikus Partai Golkar tersebut optimistis pembahasan Revisi UU Terorisme dapat segera dituntaskan. Sebab ada poin penting di mana pihak pemerintah dan DPR sudah menuju kesamaan sikap. Bambang menambahkan, aspek pencegahan dalam RUU Terorisme pun juga semakin jelas. Semua pihak, menurut dia, mulai menyepakati pentingnya deradikalisasi serta keterlibatan intelijen TNI, Polri, dan BIN.

Di tempat terpisah, mantan Ketua BNPT, Ansyaad Mbai, tidak kaget dengan pembahasan Revisi UU Terorisme yang tak kunjung usai. Menurutnya, keterlibatan militer sejak dulu memang selalu dipermasalahkan tanpa berujung solusi. “Itu (keterlibatan militer) sebetulnya bukan masalah, hanya diputar-putar saja. Ini memang politis dan yang bikin politis, ya, para politikus itu. Kalau TNI-Polri, saya yakin enggak ada masalah,” tandasnya.

(Suara Pembaruan)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...