HomeNalar PolitikUstadz Somad Mesin Politik 2018?

Ustadz Somad Mesin Politik 2018?

Kecil Besar

Ustadz Abdul Somad (UAS) kembali dicekal. Kali ini Hong Kong yang enggan menerima kehadirannya. Apakah ini memang kekhawatiran Hong Kong terhadap ekstremisme Islam atau ia semata ‘dikerjai’?


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]ernyataan jika UAS ‘dikerjai’ sewaktu memasuki Hong Kong, tak main-main. Mengapa? Sebab hal itu dikatakan langsung oleh Mahfud MD, politisi dan praktisi hukum dari Partai PAN.

Memang tak sedikit politisi yang merespon pencekalan yang terjadi pada UAS di Hong Kong. Selain Mahfud MD, Fahri Hamzah yang memang dasarnya kerap berkomentar soal apa pun, ikut berkata jika UAS akan menjadi ustadz yang besar dan pendengarnya akan terus bertambah.

Tanpa hadir di televisi saja, UAS sudah memiliki pendengar dan pengikut setia. Ia sepertinya juga perlu berterima kasih dengan media sosial yang sudah begitu mengharumkan namanya. Mulai dari Facebook hingga Youtube, video-video dakwah UAS dibagikan dan mendapat banyak likes. Dari sini, ia dijuluki dengan ‘Ustadz Sejuta Views’ karena rekaman dakwahnya selalu viral.

Kembali lagi pada pernyataan Mahfud MD soal ‘dikerjai’. Berbeda dengan Fahri Hamzah yang sempat mengutarakan kekecewaannya, Mahfud MD berkata jika UAS dikerjai oleh pihak yang tak suka di sana. Tapi, ia sendiri tak meilhat hal itu sebagai sesuatu yang penting. “Saya sendiri menduga, menduga ya kalau saya, mungkin ada orang tahu bahwa Somad mau ke sana, lalu orang ini tidak suka terhadap Somad punya kenalan (petugas) di Imigrasi Hong Kong, lalu dikerjain di situ,” kata Mahfud kepada wartawan. “Itu saja saya kira permainannya. Saya kira masalah yang serius betul itu tidak ada,” lanjutnya. Lantas apa sebab UAS ditendang dari Hong Kong?

Social Engineering, Pisau Tajam Tak Terlihat

UAS bukanlah ustadz pertama yang dicekal Hong Kong. Sebelumnya, di tahun 2015, ustad Perdana Ahmad dan Sahal Khan, yang juga berprofesi sebagai praktisi metafisika dan ruqyah, juga mendapatkan penolakan. Namun saat itu, pihak otoritas Hong Kong memberi penjelasan jika pihaknya memang berusaha mengahalangi pihak yang terduga berafiliasi dengan ISIS masuk ke Hong Kong, Kedua ustadz tersebut, kena getahnya.

Sekarang giliran UAS yang turut mendapat cekal. Tanpa ada penjelasan sama sekali, ia akhirnya kembali ke Indonesia. Karena sosoknya sudah sangat populer di media sosial, pemberitaan pencekalannya menjadi headline dan dibahas, serta direspon tokoh penting seperti Mahfud MD dan Fahri Hamzah.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Namun di balik itu semua, kekhawatiran Hong Kong terhadap dakwah UAS patut ditelisik. Sosok UAS yang sangat populer di dunia maya tersebut memiliki kemampuan social engineering.

Anderson dan Reimers (2014) dalam jurnal berjudul Information security from analysis to change menjelaskan jika social engineering adalah bentuk dari manipulasi psikologi dalam melakukan aksi atau menguak suatu informasi rahasia.

Dalam konteks yang lebih luas, manipulasi ini bisa menggerakan suatu kelompok untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan melalui bahasa, gimmick, atau gaya tertentu. Sang korban bisa berakhir melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku, bahkan menjadi loyalis paling utama. Hal ini bisa dilakukan lewat tulisan, dakwah atau pidato, hingga percakapan tak langsung melalui telepon.

UAS memiliki kemampuan tersebut. Dalam berdakwah ia menggunakan bahasa dan gaya yang humoris sehingga kerap mengundang gelak tawa dari pendengar setianya. Dari sana, ia mendapatkan pendengar setia dan melalui keberadaan media sosial, videonya disebarkan sehingga ia tak hanya dikenal di Riau (tempat ia berasal) saja, tapi juga di daerah lain hingga terdengar oleh warga  Indonesia yang tinggal di negara lain.

Sosoknya didukung pula oleh teknologi digital yang mampu membuat dirinya ‘beredar’ di mana pun. Dengan demikian, UAS punya sebuah kekuatan sosial untuk menyelipkan sebuah preferensi dan ideologi tertentu, baik itu yang esktrim dan berbahaya sekalipun, melalui kemampuan social engineering tersebut.

Anderson dan Reimers melanjutkan bahwa keberadaan social engineering didukung pula oleh human engineering. Dalam praktiknya penyebaran berita hoaks dijalankan oleh human engineering melalui media-media sosial. Dari perpaduan social dan human engineering, seorang doktor atau bahkan profesor yang berpendidikan tinggi bisa saja ikut terpengaruh.

Jika melihat ciri-ciri ini, maka akan aneh bila tidak teringat pula dengan sosok Habib Rizieq. Dirinya pun memiliki kemampuan social dan human engineering yang mumpuni. Buktinya, ia mampu menurunkan ratusan ribu orang ke dalam sebuah aksi berjilid. Saat ia dirundung dan dikejar oleh kepolisian pun, loyalisnya tak henti membela dan terus menasbihkan dirinya sebagai sosok yang menginspirasi. Inilah contoh kuatnya pengaruh social dan human engineering.

Rizieq dan UAS, Menjadi Mesin Politik?

Pertemuan Rizieq dan UAS di tanah suci Mekkah adalah sebuah penanda betapa keduanya sangatlah cocok satu sama lain, dalam hal kemampuan social engineering. Mereka memiliki gaya berdakwah yang khas, memiliki titel pendidikan, sangat populer di dunia maya, dan yang terakhir, sama-sama memiliki loyalis dari berbagai penjuru negeri.

Baca juga :  Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara
UAS Mesin politik 2018?
Ustad Abdul Somad (UAS) dan Habib Rizieq (sumber: istimewa)

Pengaruhnya terhadap loyalis yang biasanya datang dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang asongan, kaum profesional kelas menengah, hingga profesor, merupakan sebuah kekuatan yang tak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, sebagaimana berbahaya dan ekstrim sebuah ideologi diturunkan dan disampaikan olehnya, hal itu akan diterima sebagai sebuah kebenaran oleh para loyalisnya.

Pencekalan yang terjadi pada UAS malah mendatangkan simpati dan pembelaan berlanjut. Lihat saja bagaimana loyalisnya tak habis habis membela dirinya tersebut. Jumlahnya pun tak bisa disepelekan, bisa mencapai jutaan. Bayangkan saja jika massa sebanyak itu, digerakkan ke jalanan seperti apa yang Rizieq lakukan, bisa jadi Presiden Jokowi akan kelimpungan dibuatnya.

Ini pula yang dikatakan oleh mantan wartawan Metro TV, Eddy A Effendi, jika pencekalannya di Hong Kong berkaitan dengan Pilpres 2019, sebab UAS punya kekuatan untuk mempengaruhi ‘suara-suara liar’ alias mereka yang belum berpihak pada siapa pun.

Dengan demikian, dengan social engineering, mesin politik bisa saja digerakkan jika berkenan. Dengan hal yang sama pula, ia menjadi sebuah manipulasi yang dapat mempengaruhi sekelompok besar orang yang berada di belakang UAS atau Rizieq sekalipun.

Jika menggeser kemungkinan lain yang datang dari kekhawatiran Hong Kong terhadap perkembangan konservatisme dan ekstremisme yang terjadi pada TKI asal Indonesia, kekuatan social dan human engineering yang dimiliki oleh pendakwah tersebut sudah bisa menjadi modal sebuah mesin politik bekerja, sebab mereka memiliki pengaruh untuk menggerakan kelompok melalui manipulasi dan kekuatan massa alias loyalisnya.

Dari sini, jika pernyataan Mahfud MD dikaitkan kembali, rasanya wajar jika UAS ‘dikerjai’. Jika benar adanya, barangkali yang mengerjai ini mengambil langkahnya terlebih dulu, sebelum UAS keburu memanipulasi para loyalisnya. Berikan pendapatmu. (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....