HomeNalar PolitikUpaya Prabowo Merebut Pulau Jawa

Upaya Prabowo Merebut Pulau Jawa

Kecil Besar

Di setiap momen politik, pulau Jawa menjadi kawasan penting untuk dimenangkan. Mungkinkah Prabowo berhasil menguasai suara di pulau Jawa?


PinterPolitik.com

[dropcap]G[/dropcap]elaran Pilpres tinggal 3 bulan lagi,bukan waktu yang lama dalam masa kampanye. Bulan-bulan ini adalah penentu bagi kedua pasangan calon dalam memaksimalkan suara mereka di lumbung-lumbung suara.

Sejak masa kampanye resmi diberlakukan pada bulan September tahun lalu, intensitas kampanye pasangan calon capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, memang cukup membuat terbelalak mata.

Dibandingkan dengan petahana, langkah mereka memang tergolong agresif.Pasalnya, seperti dikutip Republika, cawapres Sandiaga Uno telah melakukan kunjungan sebanyak 969 daerah. Ia bahkan mengawali tahun 2019 dengan berkunjung ke kota pahlawan, Surabaya.

Tak hanya berhenti di Surabaya, Sandiaga juga melanjutkan safari politik ke Pulau Madura yakni Kabupaten Bangkalan dan Sampang untuk mengunjungi pondok pesantren yang terdapat di pulau garam tersebut.

Jika ditelisik, safari politik Sandiaga ini juga terlihat masif di wilayah lain Jawa Timur dimana beberapa waktu yang lalu mengunjungi beberapa wilayah Jatim seperti Jember, Sidoarjo, Ponorogo dan beberapa kabupaten lain.

Tidak hanya berhenti di Jawa Timur, langkah berani paslon Prabowo-Sandiaga memindahkan markas pemenangannyakeJawa Tengah. Padahal, provinsi ini merupakan wilayah yang kerap dianggap sebagai basis suara PDIP dan menjadi lumbung suara bagi Joko Widodo (Jokowi).

Dari pendekatan yang agresif di Jateng dan Jatim, nampaknya, kubu oposisi memang tengah memaksimalkan battle of java. Sepertinya, bukan tanpa alasan kubu Prabowo-Sandiaga ingin memenangkan pertarungan Pilpres di pulau Jawa. Hal ini terkait dengan pulau Jawa yang dikenal sebagai daerah yang padat penduduk.

Jika memang demikian, seberapa signifikan merebut pemilih pulau Jawa dalam memenangkan pasangan mantan jenderal dan pengusaha ini? Mengapa jawa menjadi penting di tiap gelaran Pilpres dalam konteks politik Indonesia?

Mengamankan Jawa

Mitos bahwa pulau Jawa adalah salah satu penentu bagi kemenangan seorang calon pemimpin politik nampaknya bukan hanya isapan jempol semata.

Menjelang 3 bulan kurang masa kampanye menuju Pilpres 2019, pulau Jawa masih menjadi lumbung suara yang menjanjikan bagi kemenangan salah satu pasangan calon.

Sebagai pivot area bagi pagelaran pesta demokrasi lima tahunan tersebut, Pulau Jawa memang arena pertempuran politik yang sesungguhnya.

Dalam teori geopolitik, pivot area ini digambarkan oleh Sir Halford J. Mackinder  sebagai area strategis yang menentukan penguasaan terhadap area lain. Di sekeliling pivot area terdapat inner dan outer crescent, yang paling luar disebut Mackinder sebagai world island.

Mackinder mengatakan bahwa siapa saja yang dapat menguasai pivot area, ia bisa menguasai jantung daratan atau heartland, lalu siapa yang dapat menguasai jantung daratan, maka ia akan mampu menguasai menguasai inner dan outer crescent, maka ia dapat menguasai seluruh dunia.

Dalam konteks politik Indonesia, layaknya teori geopolitik Mackinder, pivot area Pilpres 2019 adalah pulau Jawa. Tentu saja klaim tersebut bukan tanpa alasan. Menurut data KPU, tercatat dari 5 daerah dengan pemilih terbanyak, 4 di antaranya berada di pulau Jawa. Urutannya antara lain adalah Jawa Barat dengan 33.270.845 pemilih. Wilayah lumbung suara lainnya di pulau tersebut adalah Jawa Timur dengan jumlah 30.912.994 pemilih, Jawa Tengah 27.896.902 pemilih, dan yang terakhir adalah DKI Jakarta dengan 7.761.598 pemilih.

Ada Harapan

Meskipun beberapa hasil survei menunjukkan paslon nomor urut 1 masih unggul di pulau Jawa, namun hal tersebut tak menjamin bahwa peta suara akan berubah seiring dengan semakin dekatnya gelaran Pilpres 2019.

Jika dirunut, beberapa strategi BPN selama masa kampanye, termasuk salah satunya adalah menggoyang kandang banteng, Jawa Tengah bukanlah tanpa alasan.  Ada kecenderungan peluang yang bisa digarap dan dimaksimalkan oleh tim Prabowo-Sandi.

Jika melihat tren di beberapa daerah di pulau Jawa, di Banten misalnya, tim relawan Jokowi – Ma’ruf yang dikenal dengan Bravo 5 menyebut pasangan Prabowo – Sandiaga memperoleh suara sebanyak 58,7 persen mengungguli pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Realitas tersebut tentu saja ironi ketika sosok Kiai Ma’ruf merupakan putra daerah Banten. Bahkan Jokowi sebelumnya juga sempat mengamankan suara dinasti keluarga Ratu Atut yang terkenal sebagai dinasti politik terkuat di Banten.

Pesimisme elektabilitas Jokowi di wilayah DKI Jakarta juga sempat dilontarkan oleh sang calon wakil presiden, Ma’ruf Amin dimana ia mengakui bahwa  elektabilitasnya dan Jokowi juga masih kalah dibanding Prabowo -Sandiaga di wilayah ibu kota.

Bisa jadi Pilkada DKI Jakarta 2017 juga memainkan peran penting terhadap perubahan lanskap politik tersebut dimana pasangan Anies-Sandiaga memenangkan kursi DKI 1 dan 2.

Sementara itu di Jawa Barat, sejak Pilpres 2014 merupakan basis suara Prabowo dimana Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 14.167.381 suara. Sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla  mendapat suara 9.530.315 dan memiliki selisih sebanyak 4.637.066 suara.

Menurut Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), berdasarkan exit poll Pilkada 2018 di pertengahan tahun lalu, elektabilitas petahana juga tak kunjung bergerak secara signifikan di Tanah Pasundan ini. Berdasarkan survei tersebut, Prabowo masih unggul dengan raihan 51,2 persen sedangkan Jokowi tertinggal dengan 40,3 persen.

Sementara itu di Jawa Tengah, perolehan suara Sudirman Said pada saat Pilkada 2018 cukup mengejutkan banyak pengamat politik. Hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa Sudirman mendapatkan suara sebesar 41,22 persen, berbanding 58,78 persen milik Ganjar Pranowo. Hal ini mengejutkan karena jelang pencoblosan, Sudirman sempat diprediksi akan kalah telak.

Tentu perolehan tersebut merupakan tamparan bagi petahana, dimana calon yang diusung partainya tak mampu menang telak di kandang sendiri.

Lalu mungkinkah peluang oposisi ini menjadi ancaman bagi petahana?

Hati-hati Jokowi

Prabowo-Sandi kini tengah membidiksuara di provinsi paling timur pulau Jawa. Hal ini terkait dengan langkah mereka yang akan membuka banyak posko di wilayah ini.

Secara khusus, peluang Prabowo memenangkan Jatim dapat semakin besar di tangan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini terkait dengan kemenangan kader Demokrat, Soekarwo sebagai gubernur selama dua periode.

Secara khusus, klaim survei internal yang dilakukan Demokrat menunjukkan peningkatan elektabilitas Prabowo-Sandi sekitar 15 persen di Jawa Timur. Elektabilitas Prabowo-Sandi di klaim telah menembus 45 persen. Sementara  elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin stagnan.

Demi merebut suara di pulau Jawa SBY disebut akan gencar berkampanye di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan direncanakan satu panggung bersama Prabowo-Sandi.

Bahkan koordinator relawan Sahabat Prabowo-Sandi Jatim, Fauzi Mahendra, mengatakan padatnya jadwal kampanye Sandiaga semakin memantapkan target menjadikan Jatim umbung suara bagi Prabowo-Sandi di Pilpres mendatang.

Jika mesin-mesin politik Prabowo-Sandiaga kini mulai panas dan bergerak masif, maka bukan tidak mungkin bahwa Jawa akan mampu dikuasai.

Pada akhirnya, harapan untuk menguasai pivot area layaknya pulau Jawa menjadi kunci pada Pilpres 2019 nanti. Mungkinkah kejutan akan datang dari kubu Prabowo-Sandi? Menarik untuk ditunggu. (M39)

Baca juga :  Driver Ojol Sang Marhaen Modern
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ahmad Dhani, Paradoks Politisi Selebritis?

Prediksi tentang lolosnya beberapa artis ke Senayan memunculkan kembali skeptisme tentang kualifikasi yang mereka tawarkan sebagai representasi rakyat. Layakkah mereka menjadi anggota dewan? PinterPolitik.com Popularitas mungkin...

Prahara Prabowo dan Ijtima Ulama

Kedatangan Prabowo di forum Ijtima Ulama III sehari yang lalu menyisakan sejuta tanya tentang masa depan hubungan antara mantan Danjen Kopassus ini dengan kelompok...

Vietnam, Ilusi Poros Maritim Jokowi

Insiden penabrakan kapal Vietnam ke kapal TNI AL di perairan Natuna Utara menghidupkan kembali perdebatan tentang doktrin poros maritim yang selama ini menjadi kebijakan...