HomeNalar PolitikTommy Soeharto: The King Maker?

Tommy Soeharto: The King Maker?

Kecil Besar

Siapa Rajanya?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]K[/dropcap]ehadiran putra (alm) Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto pada peringatan ulang tahun Front Pembela Islam (FPI) beberapa waktu lalu menjadi cerita menarik yang mungkin tidak banyak diberitakan oleh media massa. FPI memang merayakan hari jadinya (milad) yang ke 19 pada 19 Agustus 2017 lalu. Walaupun tanpa kehadiran Imam Besar, Rizieq Shihab yang masih belum kembali ke Indonesia, FPI tetap menggelar perayaan ulang tahun tersebut di Stadion Muara Kamal, Jakarta Utara. Selain Tommy, tercatat Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan juga menghadiri acara tersebut.

Kehadiran Tommy Soeharto dalam milad FPI memang menguatkan fakta bahwa nama putra Soeharto ini belakangan semakin mencuat ke permukaan, apalagi pasca Partai Berkarya yang didirikannya lolos verifikasi administrasi di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Tommy mulai menggalang dukungan dari berbagai kalangan, apalagi partai politiknya ini masih terhitung baru dan ada gelaran pesta demokrasi besar dalam dua tahun ke depan: Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019.

Sebelumnya, Tommy memang diprediksi ingin maju menjadi presiden atau wakil presiden pada Pilpres 2019. Namun, fakta bahwa ia pernah terlibat kasus hukum berat dan dipenjara dengan vonis lebih dari 5 tahun membuat langkahnya semakin sulit, mengingat ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang memuat ketentuan tersebut. Fakta ini pula yang membuat Tommy memutuskan keluar dari Partai Golkar dan mendirikan Partai Berkarya karena catatan hukumnya menghalangi jalannya yang ingin maju menjadi ketua Partai Golkar.

Lalu, untuk apa Tommy kembali terlibat dalam politik? Siapa yang ia dukung?

Tommy dan Pupusnya Mimpi Menjadi Penguasa?

Pasca reformasi, Keluarga Cendana (trah Soeharto) memang tidak banyak muncul dalam dunia perpolitikan Indonesia. Selain Tommy, tercatat Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo dan Siti Hediati Hariyadi (Titiek) merupakan anak-anak Soeharto yang juga terlibat dalam politik. Namun, kiprah anak-anak Soeharto ini tidaklah mentereng, apalagi jika dibandingkan dengan trah Soekarno. Hanya saja, keinginan Tommy menjadi Ketua Partai Golkar – bahkan kemudian ingin menjadi presiden – membuatnya melampaui saudara-saudaranya.

Tommy sendiri untuk beberapa lama juga menghilang dari pemberitaan, apalagi pasca dirinya terkena kasus hukum terkait pembunuhan Hakim Syafiuddin Kartasasmita dan divonis 10 tahun penjara pada 2002. Setelah lama tidak terdengar kabarnya, Tommy muncul dan ikut terlibat ketika Golkar mengalami dualisme kepemimpinan pada 2015 lalu. Kemudian, pada pertengahan tahun 2016, Tommy berniat mencalonkan diri menjadi Ketua Partai Golkar – langkah yang mendatangkan banyak kritik dan penolakan bahkan dari internal Golkar sendiri.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Sebagai tokoh politik, Tommy punya modal untuk diperhitungkan secara nasional. Globe Asia menetapkan Tommy sebagai orang terkaya ke-56 di Indonesia pada tahun 2016 dengan total kekayaan mencapai 655 juta dollar. Tommy juga tercatat sebagai Presiden Komisaris Humpuss Group – sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi serta kilang minyak dan gas. Tommy juga mulai membangkitkan kembali bisnis properti, misalnya dengan rencana pembangunan gedung setinggi 500 meter di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dengan nilai investasi mencapai 1 miliar dollar (Rp 13 triliun) .

Sebagai putra mantan penguasa, Tommy juga memiliki modal jaringan bisnis dan politik yang luas – bahkan oleh beberapa pihak, Tommy disebut memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak dari jumlah yang saat ini diketahui. Oleh karena itu, secara finansial maupun secara politik, Tommy punya kapasitas untuk menjadi presiden. Satu-satunya masalah utama Tommy adalah kasus hukum yang pernah membuatnya dipenjara. Syarat untuk menjadi capres dan cawapres mengharuskan seseorang bersih dari segala kasus hukum pidana berat.

Namun, sebagai pengusaha, Tommy punya kepentingan untuk mengamankan bisnisnya. Jika bertahan di Golkar, Tommy tentu akan kesulitan, mengingat partai tersebut punya beberapa oligark politik di dalamnya. Keputusannya mendirikan partai sendiri adalah pilihan yang logis bagi Tommy. Apalagi, belakangan ini kampanye ‘penak jamanku toh’ yang mengagung-agungkan kembali zaman Orde Baru semakin sering bermunculan. Kampanye ini tentu menguntungkan Tommy sebagai bagian dari Keluarga Cendana. Selain itu, Tommy juga bisa mendukung tokoh lain yang memberikan jaminan untuk kepentingan bisnisnya. Tidak berlebihan jika Tommy bisa disebut sebagai ‘the king maker’. Pertanyaannya: siapa yang akan ia dukung?

The King Maker?

Membaca arah dukungan Tommy memang gampang-gampang sulit. Jika menilik sejarah dan hubungan personal, kemungkinan paling besar adalah Tommy akan mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 nanti. Bagaimana pun juga, Prabowo tidak bisa dipisahkan dari Keluarga Cendana. Prabowo adalah mantan ipar Tommy dan bisa dikategorikan sebagai salah satu bagian dari Keluarga Cendana – walaupun ia telah bercerai dari Titiek Soeharto.

Namun, jika melihat pernyataan dan sikap Tommy beberapa waktu terakhir, ia juga tidak anti terhadap pemerintahan Presiden Jokowi yang saat ini berkuasa. Tommy adalah salah satu pengusaha yang ikut program tax amnesty dan bahkan memuji program tersebut sebagai langkah yang baik untuk perkembangan bisnis di sektor properti. Hubungannya dengan pemerintahan juga baik, misalnya Partai Berkarya juga tidak mendapatkan kesulitan berarti dalam proses verifikasi.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Walaupun demikian, Tommy sempat terlibat ‘perang dingin’ dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), terutama saat terjadi dualisme di Golkar. Tommy – dan saudaranya, Bambang – menuduh JK ada di belakang konflik yang terjadi di internal Golkar. Oleh karena itu, boleh jadi sikap Tommy terbelah terhadap pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Dengan melihat kehadiran Tommy pada milad FPI, memang kemungkinan untuk mendukung Prabowo sebagai presiden berikutnya jauh lebih besar, mengingat FPI juga punya hubungan yang baik dengan Prabowo. Dengan modal jaringan dan kroni Orde Baru, sangat mungkin bagi Tommy dan Keluarga Cendana untuk mengembalikan kejayaan trah Soeharto.

Dukungan Tommy terhadap Prabowo tentu saja akan meningkatkan tensi politik menuju Pilpres 2019. Sebagai partai baru, Partai Berkarya milik Tommy memang tidak begitu terlihat pergerakannya – misalnya dibandingkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang adalah sesama partai baru.

Partai Berkarya, jalan kekuasaan Tommy Soeharto? (Foto: istimewa)

Selain itu, jika melihat struktur kepengurusan daerah yang ada di situs resmi partai yang juga berlambang pohon beringin ini, baru ada dua daerah yang punya kepengurusan di Dewan Perwakilan Wilayah (DPW), yakni Aceh dan DKI Jakarta. Dengan target 3 besar pada Pilpres 2019, jelas konsolidasi Partai Berkarya di daerah berjalan sangat lambat. Artinya, Tommy mungkin saja belum begitu serius atau mengalami kendala dalam membesarkan Partai Berkarya – misalnya jika dibandingkan dengan Hary Tanoesoedibjo dengan Perindo yang sejauh ini terlihat cukup sukses. Jawaban untuk pertanyaan apakah Tommy Soeharto adalah ‘the king maker’ atau bukan akan sangat tergantung pada seberapa gencar Tommy dan partai barunya bergerilya dalam dua tahun ke depan.

Kebangkitan kembali Keluarga Cendana memang tinggal menunggu momen yang tepat saja. Tommy memang sulit untuk maju menjadi presiden karena catatan hukumnya. Namun, jika Prabowo terpilih sebagai presiden di 2019, boleh jadi akan menjadi momentum juga bagi Keluarga Cendana. Untuk tujuan itu, sangat mungkin Tommy menjadi the king maker dengan Prabowo sebagai ‘rajanya’. Pertanyaannya: seberapa serius Tommy untuk tujuan itu? (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.