HomeHeadlineThe Fourth be With You

The Fourth be With You

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Empat pemimpin dunia berdiri berdampingan dalam satu frame foto yang akan menjadi viral dan diperdebatkan di beberapa negara. Xi Jinping dari Tiongkok, Vladimir Putin dari Rusia, Kim Jong Un dari Korea Utara, dan yang keempat—Prabowo Subianto dari Indonesia. Foto ini diambil pada peringatan Victory Day Tiongkok, dan kehadiran Presiden Indonesia di antara ketiga pemimpin tersebut memicu beragam interpretasi geopolitik yang menarik untuk dianalisis.


PinterPolitik.com

Yang membuat foto ini semakin menarik bukan hanya siapa yang ada dalam frame, tetapi juga bagaimana media internasional memperlakukannya. Media Tiongkok dengan bangga menampilkan foto lengkap keempat pemimpin tersebut, seolah mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bagian dari lingkaran diplomatik Beijing.

Namun di sisi lain, media Jepang melakukan hal yang sebaliknya—mereka memotong atau melakukan cropping pada foto yang sama, secara sengaja mengeluarkan Prabowo dari frame bersama tiga pemimpin lainnya yang mereka kategorikan sebagai “blok Timur”.

Aksi media Jepang ini yang dipakai sebagai “serangan” oleh beberapa pihak di Indonesia. Prabowo dinarasikan “kurang dianggap” oleh Jepang dalam pertemuan tersebut. Bahkan ada yang membanding-bandingkan dengan persoalan kepemilikan senjata nuklir, di mana 3 negara selain Indonesia punya senjata tersebut.

Namun, nyatanya fenomena editorial yang kontras ini bukan kebetulan belaka. Ini adalah strategi komunikasi politik yang sangat disengaja, mencerminkan bagaimana masing-masing pihak memposisikan Indonesia dalam konstruksi narasi geopolitik mereka.

Bagi Beijing, kehadiran Indonesia dalam foto tersebut memperkuat legitimasi internasional mereka. Sementara bagi Tokyo, “mengecualikan” Indonesia dari narasi blok Timur merupakan upaya mempertahankan citra Indonesia sebagai negara yang masih dapat berkooperasi dengan Barat.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita memaknai fenomena ini dalam konteks yang lebih besar?

Paradoks Diplomasi

Kalau kita analisis secara lebih mendalam, paradoks perlakuan media internasional terhadap foto tersebut justru membuktikan keberhasilan gemilang politik bebas aktif Indonesia. Era Prabowo menandai evolusi signifikan dalam diplomasi Indonesia yang lebih assertif dan vokal di panggung internasional.

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya di era Jokowi yang cenderung low-profile, Prabowo aktif membangun hubungan personal dengan pemimpin dunia dan tidak ragu tampil dalam forum-forum strategis global.

Jokowi dulu hampir tak pernah hadir dalam forum-forum besar seperti di PBB. Alasannya? Ingin lebih fokus pada bilateralisme yang menguntungkan secara ekonomi – meski dalam banyak kesempatan tak selalu bagus juga hasilnya.

Sebaliknya, Prabowo selalu berusaha memaksimalkan kehadiran Indonesia dalam forum-forum internasional, baik bilateral maupun multilateral. Alasannya? Bisa semakin memaksimalkan komunikasi politik antar pemimpin negara yang berujung pada semakin mudahnya pemenuhan kepentingan nasional Indonesia. Ini juga ditunjang oleh kemampuan berbahasa asing Prabowo yang memang jauh lebih baik dibandingkan Jokowi.

Kehadiran di Victory Day Tiongkok, pertemuan bilateral intensif, dan partisipasi dalam berbagai summit internasional menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar “penonton” dalam politik global. Gaya diplomasi ini meningkatkan visibilitas dan pengaruh Indonesia di mata internasional, sekaligus mempertahankan fleksibilitas strategis yang telah menjadi karakteristik diplomasi Indonesia selama puluhan tahun.

Prabowo berhasil mempertahankan posisi strategis Indonesia tanpa harus memilih sisi dalam rivalitas AS-Tiongkok. Jepang “mengecualikan” Indonesia dari blok Timur karena menganggap Indonesia masih dapat diterima oleh Barat, sementara Tiongkok dengan bangga menampilkan Indonesia sebagai mitra strategis. Apalagi Indonesia juga telah jadi bagian dalam negara-negara BRICS yang kini jadi motor penanding aliansi kekuatan global Barat.

Hal ini memungkinkan Indonesia meraih keuntungan dari berbagai pihak—dapat memanfaatkan Belt Road Initiative Tiongkok sambil tetap menjaga hubungan dengan AS dan sekutunya dalam berbagai kerja sama regional.

Secara ekonomi, posisi unik ini menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik bagi semua pihak karena dianggap stabil dan netral. Secara diplomasi, Indonesia semakin diperhitungkan sebagai middle power yang dapat menjadi mediator dalam konflik global, meningkatkan soft power dan pengaruh regional serta global Indonesia.

Baca juga :  Romain Molina, "Dagdigdug" Erick Thohir?

Antara Hedging, Omni-Alignment dan Strategic Autonomy

Fenomena diplomasi Indonesia dalam foto Victory Day dapat dianalisis melalui tiga kerangka teoritis yang saling melengkapi.

Pertama, teori “hedging strategy” yang dikemukakan oleh Kuik Cheng-Chwee menjelaskan bagaimana negara-negara menengah dapat menghindari pilihan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar dengan mempertahankan opsi strategis. Indonesia berhasil menerapkan “omni-directional hedging”—membangun kemitraan dengan semua pihak tanpa komitmen eksklusif yang merugikan.

Kedua, konsep “omni-alignment” yang dikembangkan oleh Naazneen Barma menggambarkan bagaimana negara-negara dapat berafiliasi dengan berbagai blok secara simultan untuk memaksimalkan keuntungan.

Indonesia tidak hanya berhubungan baik dengan Tiongkok, tetapi juga mempertahankan kerja sama dengan AS, Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa. Strategi ini memungkinkan Indonesia mengakses investasi, teknologi, dan peluang ekonomi dari berbagai sumber tanpa terjebak dalam satu kutub kekuatan.

Ketiga, teori “strategic autonomy” yang populer dalam studi hubungan internasional Eropa juga relevan untuk memahami posisi Indonesia. Strategic autonomy merujuk pada kemampuan suatu negara untuk membuat keputusan independen dalam politik luar negeri tanpa tekanan berlebihan dari kekuatan eksternal. Indonesia di era Prabowo menunjukkan kemampuan ini dengan mengambil posisi yang sesuai dengan kepentingan nasional, bukan karena tekanan dari Washington, Beijing, atau Tokyo.

Ketiga kerangka teoritis ini menjelaskan mengapa Indonesia dapat “bermain di semua lapangan” tanpa kehilangan kredibilitas di mata mitra internasionalnya. Dalam era multipolar saat ini, non-alignment bukan lagi sekadar idealisme Perang Dingin, tetapi strategi rasional yang memberikan manfaat maksimal bagi kepentingan nasional.

Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi Indonesia dalam menavigasi kompleksitas geopolitik kontemporer membuktikan bahwa negara-negara menengah memiliki ruang manuver yang signifikan dalam sistem internasional yang semakin multipolar. Foto di Victory Day Tiongkok mungkin hanya satu momen, tetapi makna politiknya jauh lebih dalam—Indonesia berhasil memposisikan diri sebagai kekuatan yang diperhitungkan tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip fundamental dalam politik luar negerinya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

Pilih Messi atau Ronaldo — dan kamu mungkin baru saja membocorkan identitasmu dengan tanpa sadar.

Indonesia, Si Paling ‘Negara Potensi’?

Selalu berpotensi, tak pernah berhasil. Dari Fairchild sampai Lokananta, kenapa Indonesia betah berhenti di ambang? Apakah ini Kutukan Ambang?

Dody di Tengah Rashomon Effect?

Kebenaran soal siapa yang benar tak lagi penting — yang lebih menentukan justru siapa paling diuntungkan dari ambiguitas.

Arifah Mustahil Se-level Khofifah?

Arifah Fauzi secara teknis dan filosofis adalah suksesor Khofifah di pucuk Muslimat NU dan elite nasional. Namun, bisakah ia menyamai pengaruh politik sang pendahulu? Di antara perbedaan ambisi, jejaring kekuasaan, dan gaya komunikasi, tersimpan pertanyaan lebih besar, yakni apakah Arifah sedang membangun penerus Khofifah, atau menciptakan jalannya sendiri?

Kasus Febrie dan Doktrin Kambing Hitam

Nama Febrie Adriansyah kini beririsan dengan sosok perempuan di medsos. Siapa sebenarnya yang sedang kita hakimi dalam kasus ini? 

Wasit FIFA & Oknumisme Politik-Hukum?

Wasit FIFA bukan hanya pengadil lapangan — mereka adalah wajah yang paling mudah disalahkan dari ketidaksempurnaan sebuah sistem.

PDIP-Golkar, Drama Minerba Warisan Orba?

Sengkarut satir "bolu ketan" antara kubu PDIP dan Golkar di sektor ESDM tampaknya bukanlah sekadar adu mulut elite biasa. Ini adalah kelanjutan perang klasik dua titan dalam diskursus sumber daya sejak era Orba. Tentang menjadi si paling bersih di industri ekstraktif yang inheren kotor ini, Benarkah demikian? 

Kuasa Lepas Jokowifikasi

Wajah Jokowi kini muncul di meme, karakter fiksi, penyanyi Jepang, sampai kursi gaming. Siapa sebenarnya yang memegang kuasa atas wajah itu? 

More Stories

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.