HomeNalar PolitikTeror Soros, Nyata atau "Hiperbola"? 

Teror Soros, Nyata atau “Hiperbola”? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat menggunakan teknologi artificial intelligence.

Investor kondang George Soros belakangan ramai dibincangkan di media sosial. Apakah ancaman Soros benar adanya, atau hanya dilebih-lebihkan? 


PinterPolitik.com 

Bayangkan Inggris adalah sebuah kapal besar yang bernama HMS Pound Sterling, berlayar di lautan ekonomi Eropa. Agar tetap aman di jalur pelayaran yang stabil, kapten (Bank of England) mengikat kapalnya dengan rantai ke kapal besar lainnya, HMS Deutsche Mark, melalui sistem yang disebut ERM. 

Namun, pada tahun 1992 kapal ini memiliki masalah, ia terlalu berat dan tidak seimbang. Mesin uapnya lemah (ekonomi), tapi kapten tetap bersikeras menjaga agar kapalnya tetap sejajar dengan kapal Jerman, meski arus pasar terus menghantamnya. 

Lalu datanglah sekelompok bajak laut yang dipimpin oleh George Soros. Mereka melihat bahwa kapal Inggris mulai oleng dan tali pengikat ke kapal Jerman mulai kendur. Mereka mulai bertaruh besar bahwa tali itu akan putus—mereka menjual banyak muatan kapal Inggris (mata uang pound sterling) dengan harapan nilainya akan anjlok. 

Dan memang, tidak lama setelah itu, tali pengikat kapal itu akhirnya putus, dan HMS Pound Sterling terombang-ambing di lautan. Kapten akhirnya mengibarkan bendera putih dan keluar dari jalur ERM. Seperti yang sudah diprediksi, bajak laut George Soros menang besar dan membawa pergi emas dalam jumlah besar—keuntungan miliaran dolar. 

Cerita ini diambil dari kisah nyata dalam sebuah tragedi yang disebut “Black Wednesday” (1992), hari di mana tindakan seorang individu bisa menentukan takdir dari sebuah negara sebesar Inggris.  

Menariknya, manuver bisnis George Soros ini disebut tidak hanya membuat Inggris kelimpungan pada tahun 1992, ketika krisis moneter Asia 1997-1998, perusahaan-perusahaan hedge fund Soros juga disebut memiliki andil. 

Kini, mengikuti gejolak ekonomi yang menghantam dunia dan Indonesia, nama Soros sebagai pebisnis yang aktivitasnya bisa menggoyang sebuah negara mulai kembali ramai dibicarakan. Namun, mungkinkah kali ini negara kita menangkis manuver bisnisnya, jika memang nanti terjadi? 

Baca juga :  Inul dan Bangkitnya Sang 'Anti-Hero'
image

Gimana Cara Kerja Soros? 

George Soros adalah nama yang ditakuti dalam dunia keuangan global. Sebagai seorang investor dan spekulan, ia terkenal karena kemampuannya menjatuhkan nilai mata uang sebuah negara, seperti yang ia lakukan pada pound sterling saat Black Wednesday 1992. Bagi banyak pemerintah, Soros adalah simbol dari kekuatan spekulatif yang mampu mengguncang ekonomi suatu negara dalam sekejap. 

Jika melihat cara berpikir Soros dalam bukunya The Alchemy of Finance, ada pola tertentu yang menarik bagi seorang spekulan dalam melakukan short selling mata uang sebuah negara. Beberapa indikator utama yang membuat mata uang rentan terhadap spekulasi di antaranya: 

1. Pelemahan mata uang yang berlarut-larut tanpa intervensi efektif dari bank sentral. 

2. Gelombang PHK massal, yang mencerminkan ekonomi yang melemah dan daya beli masyarakat yang menurun. 

3. Kepercayaan perbankan menurun, ditandai dengan penarikan dana besar-besaran dari perbankan nasional. 

4. Pasar saham bergejolak, menunjukkan ketidakstabilan keuangan yang bisa dimanfaatkan spekulan. 

Sayangnya, beberapa indikator ini sudah mulai terasa di Indonesia. Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS akibat ketidakpastian global dan suku bunga The Fed yang tinggi. Di sektor ketenagakerjaan, banyak perusahaan terutama di sektor manufaktur dan teknologi mulai melakukan PHK massal. Kepercayaan terhadap perbankan juga diuji dengan kasus-kasus gagal bayar yang menciptakan sentimen negatif. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami fluktuasi tajam akibat tekanan eksternal dan internal. 

Bagaimana seorang spekulan seperti Soros bisa memanfaatkan kondisi ini? Caranya adalah dengan melakukan short selling besar-besaran terhadap rupiah. Ia dan hedge fund lainnya akan meminjam rupiah dalam jumlah besar, menukarnya ke dolar AS, lalu menunggu nilai tukar rupiah turun lebih dalam sebelum membeli kembali dengan harga lebih murah.  

Baca juga :  Waspada 3 "Kingdoms" of Jokowi?

Jika bank sentral gagal mengintervensi pasar, mata uang bisa jatuh lebih dalam, menciptakan kepanikan ekonomi yang lebih besar. Hal inilah yang terjadi di Asia saat Krisis 1997-1998. 

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa rentan Indonesia terserang skenario seperti ini? 

image

Cukup Aman? 

Berbeda dengan tahun 1998, Indonesia kini memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang lebih kuat. Salah satu yang paling krusial adalah Local Currency Bilateral Swap Agreement (LCBSA) yang telah dijalin dengan berbagai negara ASEAN.  

LCBSA memungkinkan Indonesia untuk menukar mata uangnya dengan negara mitra dalam jumlah besar tanpa harus bergantung pada dolar AS. Ini memberikan stabilitas lebih dalam menghadapi spekulasi mata uang. Dan menurut perkembangan terakhir, skema ini terus diperpanjang setelah digalakkan pada era Susilo Bambang Yudhyono (SBY), dengan Singapura misalnya, swap agreement setidaknya berlaku sampai tahun 2027. 

Dengan adanya mekanisme seperti ini, Bank Indonesia memiliki lebih banyak amunisi untuk melawan spekulasi terhadap rupiah. Jika terjadi tekanan short selling besar-besaran, BI dapat menggunakan cadangan mata uang hasil swap untuk mempertahankan nilai tukar rupiah tanpa harus menguras cadangan devisa dalam bentuk dolar AS. 

Namun, bukan berarti Indonesia sepenuhnya aman. Celah sebetulnya masih ada, terutama jika Indonesia tidak mengamankan forward dollar contracts sejak dini. Jika tekanan terhadap rupiah meningkat, kebutuhan impor dan utang luar negeri dalam dolar akan semakin membebani ekonomi nasional. Jika Indonesia gagal mengantisipasi ini, maka spekulan bisa saja menemukan celah baru untuk menyerang sistem moneter kita. 

Tapi jika ingin disimpulkan, Indonesia saat ini lebih siap menghadapi guncangan spekulatif dibandingkan tahun 1998, walaupun kewaspadaan tetap diperlukan. George Soros mungkin tidak lagi menjadi ancaman langsung, tetapi mekanisme spekulasi yang pernah ia gunakan masih bisa merusak rupiah jika tidak diantisipasi dengan langkah-langkah strategis yang lebih matang. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri.