HomeNalar PolitikTemukan Vaksin Covid-19, Tiongkok Menang?

Temukan Vaksin Covid-19, Tiongkok Menang?

Seri Pemikiran Kishore Mahbubani #3

Kecil Besar

Pemberitaan beberapa hari terakhir ini memang cukup diramaikan oleh potensi penemuan vaksin yang dilakukan oleh salah satu ahli virologi dan biokimia perempuan top di militer Tiongkok, Mayor Jenderal Chen Wei. Apalagi, Academy of Military Medical Sciences dan CanSino Biologics – perusahaan vaksin di Tiongkok – telah memberi isyarat bahwa vaksin tersebut aman setelah melewati serangkaian uji coba.


PinterPolitik.com

“When China built walls and cut off communication with the rest of the world, it fell behind. When China opened up to the world, it thrived”.

::Kishore Mahbubani, mantan diplomat dan akademisi Singapura::

Uji coba vaksin ini memang telah dilakukan sejak Maret 2020 lalu, di mana ada sekitar 108 orang dewasa sehat berusia antara 18 hingga 60 tahun di Wuhan menjadi para sukarelawan yang mencoba vaksin tersebut. Dari jumlah tersebut, tubuh 105 orang di antaranya bereaksi dan mengembangkan antibodi.

Hanya saja, uji coba ini disebut masih jauh dari titik akhir dan belum menampilkan data yang lengkap, katakanlah terkait efektivitasnya terhadap orang-orang yang berusia lanjut. Selain itu, masih ada efek samping lanjutan dari vaksin yang diujicobakan kepada para sukarelawan tersebut.

Walaupun demikian, pencapaian Tiongkok ini boleh jadi sebuah tonggak penting dalam “persaingan” penemuan vaksin Covid-19. Chen Wei sendiri menyebutkan bahwa apa yang dicapai oleh pihaknya saat ini adalah sebuah milestone dari perjalanan penemuan produk kesehatan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa di dunia ini. Apalagi hingga tulisan ini dibuat, jumlah total penderita Covid-19 di seluruh dunia telah menyentuh angka 5 juta orang.

Jika pada akhirnya Tiongkok menjadi yang pertama menemukan vaksin Covid-19, bukan tidak mungkin negara tersebut akan “memenangkan pertarungan” kesehatan, ekonomi dan bahkan geopolitik.

Konteks kemenangan Tiongkok ini memang telah lama didengungkan oleh mantan diplomat dan akademisi dari Singapura, Kishore Mahbubani. Dalam bukunya yang berjudul Has China Won? Mahbubani secara panjang lebar mengeksplorasi potensi supremasi Tiongkok tersebut yang disebutnya telah melangkah jauh daripada apa yang diprediksi oleh negara-negara Barat.

Hal tersebut juga ia singgung kembali dalam tulisannya di The Economist yang menyebutkan bahwa Covid-19 berpotensi melahirkan power shifting atau pergeseran kekuasaan dalam konteks global dari Barat menuju ke negara-negara di Timur, terutama ke Tiongkok.

Pertanyaannya adalah benarkah apa yang dicapai oleh Chen Wei dan kawan-kawan akan membawa Tiongkok ke sistem dunia baru pasca Covid-19? Lalu, tepatkah strategi Presiden Jokowi yang kini terlihat berpaling ke Amerika Serikat (AS) dalam berbagai kebijakan ekonominya?

Tiongkok Menang Jika Temukan Vaksin

Sejak Covid-19 merebak di akhir tahun 2019 lalu, Tiongkok memang menjadi salah satu negara yang paling disorot. Bukan hanya karena Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, melainkan juga karena kemampuan negara tersebut mengontrol sebaran virus tersebut.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Hingga tulisan ini dibuat, angka kasus Covid-19 di Tiongkok “hanya” mencapai 82 ribu. Kasus baru yang muncul pun relatif tidak ada atau bisa dihitung dengan jari. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,4 miliar, angka tersebut adalah pencapaian yang luar biasa – terlepas dari berbagai tuduhan yang menuding negara yang dipimping oleh Xi Jinping tersebut tak transparan soal data pasien positif Covid-19.

Bandingkan dengan kasus positif Covid-19 yang terjadi di AS yang hingga tulisan ini dibuat jumlahnya mencapai 1,7 juta orang dari total 331 juta populasi negara tersebut. Tak heran banyak pihak yang memuji keberhasilan Tiongkok ini sebagai sebuah kemenangan atas krisis.

Walaupun banyak analis mencatat fenomena pertama kalinya ada kontraksi ekonomi atau penurunan pertumbuhan ekonomi terjadi di Tiongkok sejak tahun 1970-an akibat Covid-19, namun optimisme masih cukup tinggi di negara tersebut. Apalagi prediksi kontraksi ekonomi tersebut hanya mencapai 6,8 persen.

Bandingkan dengan AS yang diprediksi akan mengalami kontraksi ekonomi hingga 40 persen di kuarter II tahun ini. Walaupun hitung-hitungan yang dibuat terhadap Tiongkok diprediksi masih akan menghasilkan angka yang lebih tinggi, setidaknya jumalh tersebut sangat jauh dari apa yang dialami oleh AS.

Terkait penanganan Covid-19 sendiri, sejak Januari 2020 lalu Tiongkok juga telah mempublikasikan genom virus tersebut ke publik. Kishore Mahbubani melihat hal ini sebagai bentuk tanggung jawab dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Tiongkok.

Konteks tersebut juga ditunjukkan oleh dukungan pendanaan yang diberikan Tiongkok pada World Health Organization (WHO). Pada akhir April 2020 lalu, negara asal panda tersebut menyuntikkan tambahan dana ke organisasi kesehatan dunia itu sebesar US$ 30 juta atau sekitar Rp 442 miliar.

Hal tersebut kontras dengan AS yang membekukan bantuannya ke WHO senilai US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,9 triliun. Tak heran, banyak media yang menilai ini sebagai langkah Tiongkok menguatkan pengaruh politiknya secara global. Apa yang dilakukan Tiongkok ini memang mengindikasikan mulai nampaknya perubahan arah global power – hal yang misalnya diulas oleh Business Insider.

Mahbubani sendiri memprediksi – mungkin lebih tepatnya menganjurkan – Tiongkok untuk meningkatkan porsi pendanaannya terhadap WHO ke angka 60 persen dari total penerimaan lembaga tersebut.

Kekuatan Tiongkok juga ditunjukkan dari bagaimana negara tersebut menghargai pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memecahkan berbagai persoalan, termasuk dalam penanganan Covid-19. Kekuatan berbasis ilmu pengetahuan ini akan menjadi salah satu faktor utama Tiongkok merebut global power.

Angka mahasiswa asal Tiongkok yang belajar di luar negara tersebut terutama di universitas-universitas terbaik di dunia misalnya, terus juga meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2018 jumlahnya mencapai 662 ribu. Di AS sendiri diperkirakan ada 351 ribu mahasiswa dan pelajar asal Tiongkok yang belajar di negara tersebut.

Baca juga :  Hikayat Tiongkok Tangkis ‘The Economist’

Bayangkan jika para mahasiswa tersebut kembali ke Tiongkok dan menjadi tulang punggung kemajuan negara tersebut. Pendekatan berbasis sains ini awalnya jadi identitas utama peradaban Barat. Namun, kini makin terlihat mendapatkan bentuknya di Tiongkok.

Lalu akan ada di mana Indonesia jika Tiongkok benar-benar “memenangkan pertarungan” ini?

Tepatkah Jokowi Berpaling ke Barat?

Setelah di periode pertama kekuasaannya sang presiden cenderung dekat dengan Tiongkok, kini di seputaran kasus Covid-19, Jokowi memang mulai terlihat kembali dekat dengan Barat. Hal ini tergambar dari pinjaman-pinjaman dan kerja sama yang terjadi.

Indonesia misalnya mendapatkan dana senilai US$ 60 miliar atau sekitar Rp 943,1 triliun dari kerja sama soal repurchase agreement atau Repo Line antara Bank Indonesia (BI) dengan Bank Sentral AS, Federal Reserve System (The Fed). Ini belum termasuk potensi pinjaman dana dari institusi seperti World Bank dan IMF.

Belum lagi wacana akan adanya pabrik-pabrik perusahaan-perusahaan AS dari Tiongkok yang akan pindah ke Indonesia – yang tentu saja akan menjadi suntikan ekonomi yang besar. Sikap positif juga terlihat dari Presiden Donald Trump yang beberapa waktu terakhir sempat menjanjikan akan mengirimkan ventilator dari AS ke Indonesia untuk membantu penanganan Covid-19.

Bahkan, jika ditarik lebih jauh ke belakang, ada banyak perubahan arah yang diambil pemerintah dalam konteks hubungan dengan AS dan Barat beberapa waktu terakhir, misalnya terkait hibah alutsista dan drone dari AS, pencabutan embargo Kopassus oleh AS, dan lain sebagainya.

Arah kebijakan ini boleh jadi memang adalah sikap adaptif yang ditunjukkan oleh Jokowi. Di satu sisi tetap menjaga hubungan dengan Tiongkok, namun di sisi lain juga membaca peluang apa yang bisa menguntungkan bagi Indonesia.

Persoalannya adalah tinggal bagaimana Jokowi tetap menjaga momentum hubungan dengan Tiongkok. Jika benar apa yang diprediksi oleh Mahbubani bahwa negara tersebut akan memenangkan pertarungan melawan AS, setidaknya Indonesia juga ikut kecipratan keuntungan.

Sejauh ini sikap yang cenderung pragmatis yang ditampilkan oleh Jokowi boleh jadi akan berdampak positif untuk Indonesia. Sembari tetap mengukur peluang kemenangan Tiongkok, Indonesia bisa saja mendapatkan untung jika Tiongkoklah yang pertama kali menemukan vaksin Covid-19 berbekal masih banyaknya kerja sama yang terjalin di antara kedua negara.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.