HomeNalar PolitikTanpa Amien Rais, Kuatkah PAN?

Tanpa Amien Rais, Kuatkah PAN?

Kecil Besar

Dalam struktur kepengurusan Partai Amanat Nasional (PAN) 2020-2025, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan tidak memasukkan nama Amien Rais dan Mulfachri Harahap. Seberapa kuatkah PAN tanpa Amien?


PinterPolitik.com

“We just know that we’ll be alright even though we’re kicked out the party ‘cause we both hate everybody. We’re the ones they wanna be like” – Ellie Goulding, penyanyi asal Inggris

Di tengah-tengah pandemi global yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19), Partai Amanat Nasional (PAN) memutuskan untuk mengumumkan struktur lengkap atas kepengurusan kepartaiannya yang baru untuk tahun 2020-2025. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui bahwa struktur tersebut diumumkan melalui media karena bahaya pandemi.

Namun, terlepas dari ancaman pandemi Covid-19 tersebut, terdapat fakta menarik atas pengumuman tersebut, yakni tidak adanya nama pendiri PAN Amien Rais dan mantan Calon Ketum PAN Mulfachri Harahap. Padahal, kedua nama tersebut disebut-sebut memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perebutan posisi ketum PAN beberapa bulan lalu.

Bagaimana tidak? Persaingan yang terjadi antara Zulhas dan Mulfachri kala itu menimbulkan kekisruhan yang banyak diperbincangkan di media. Amien sendiri dikabarkan cenderung mendukung Mulfachri.

Pertarungan intra-partai itu berakhir dengan keputusan bahwa Zulhas keluar sebagai pemenang. Hasil Kongres V PAN itu juga telah diakui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) berdasarkan surat keputusan (SK) yang diterbitkan.

Dengan SK dan pengumuman tersebut, pengaruh Amien disebut-sebut semakin menurun di partai belambang matahari itu. Hilangnya nama pendiri PAN tersebut juga menunjukkan bahwa Zulhas tengah berupaya mengonsolidasikan kekuatan intra-partainya.

Namun, bukankah terdengar sedikit asing apabila tak ada figur Amien di PAN? Pasalnya, partai berlambang matahari tersebut memang selalu identik dengan sosok pendirinya tersebut.

Amien sendiri sejak awal telah menjadi wajah bagi partai Islam satu ini. Semenjak awal berdiri, menjadi calon presiden pada tahun 2004, hingga Pilpres 2019, kiprah dan narasi yang dimunculkan Amien memang menonjol dalam diskursus publik.

Besarnya pengaruh Amien di partai dan publik tentunya menimbulkan beberapa pertanyaan. Pasalnya, terdepaknya Amien dari kepengurusan ini bukan tidak mungkin akan membuat PAN kehilangan sosok utamanya. Pun begitu dengan adanya potensi PAN akan kelihangan massa dari Muhammadiyah yang selama ini disebut loyal terhadap Amien.

Lantas, mengapa Zulhas merasa perlu mendepak Amien? Apakah benar pengaruh Amien telah luntur di PAN?

Karisma Amien Rais

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Amien sejak lama memang telah menjadi wajah bagi PAN. Hilangnya nama pendiri partai tersebut dari struktur kepengurusan bisa saja berkaitan dengan strategi Zulhas dalam mengonsolidasikan kekuatannya.

Boleh jadi, adanya perasaan bahwa Amien identik dengan PAN ini bisa dibilang menjadi bagian dari identifikasi partai politik (party identification). Konsep ini menjelaskan akan adanya identifikasi tertentu yang dilakukan oleh seorang individu atas partai-partai politik yang ada.

Pada umumnya, identifikasi atas partai yang dilakukan oleh publik ini mengacu pada identitas sosial yang dianut oleh partai, seperti agama, etnis, ras, dan ideologi. Keterikatan pemilih dengan partai dalam proses identifikasi ini juga penting karena menjadi acuan pembeda dengan partai-partai lainnya.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Marcus Mietzner dalam tulisannya yang berjudul Ideology, Money, and Dynastic Leadership menjelaskan bahwa semakin berbeda sebuah partai dalam hal ideologi dan program, semakin besar pula keterikatan pemilih terhadap partai tersebut sehingga kemungkinan kemenangan dalam Pemilu semakin besar.

Dalam tulisan Diego Garzia dan Federico Viotti yang mencoba menjelaskan identifikasi partai di Italia, dijelaskan bahwa identifikasi partai tidak hanya didasarkan pada identitas partai, melainkan juga efek pemimpin partai. Personalisasi partai ini juga menjadi salah satu determinan – hal berpengaruh – yang kuat.

Bukan tidak mungkin sosok Amien ini menjadi salah satu determinan identifikasi partai yang dimiliki oleh PAN. Sebagai satu dari sekian partai Islam di Indonesia, figur tokoh Reformasi itu bisa jadi membuat partai berlambang matahari memiliki distingsi tersendiri dibandingkan partai-partai lain.

Amien Rais adalah sosok yang tak hanya memiliki kekuasaan di PAN, melainkan juga karisma yang turut membentuk citra partainya di publik. Share on X

Besarnya pengaruh Amien sebagai wajah dari PAN juga diperkuat dengan sosoknya yang dianggap karismatik. Dalam bukunya yang berjudul Party Politics and Democratization in Indonesia, Dirk Tomsa menyebutkan bahwa Amien merupakan sosok yang tak hanya memiliki kekuasaan di PAN, melainkan juga memiliki penampilan yang karismatik yang secara luar biasa turut membentuk citra partainya di publik.

Pada intinya, Amien tetap menjadi sosok yang memiliki pengaruh besar bagi PAN dalam hal karisma dan identifikasi PAN di masyarakat. Namun, bila benar begitu, apakah Amien tetap penting bagi PAN bila tidak lagi masuk dalam kepengurusan?

Hilangkah Amien?

Identiknya sosok Amien dengan PAN bukan tidak mungkin akan tetap ada meski mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut tidak lagi memiliki jabatan tinggi di partai itu.

Hal ini bisa jadi disebabkan tidak hanya oleh karisma yang dimiliki oleh Amien, melainkan juga karena Amien memiliki warisan politik (political legacy) yang akan tetap memiliki pengaruh di PAN dan masyarakat.

Christian Fong, Neil Mahotra, dan Yotam Margalit dalam tulisan mereka yang berjudul Political Legacies menjelaskan bahwa politisi dapat memiliki warisan politik berupa kebijakan konkret (hard legacy), serta prinsip, nilai, dan pemikiran yang dianut politisi tersebut (soft legacy).

Bila mengacu pada penjelasan ini, bukan tidak mungkin Amien memiliki hard legacy berupa pendirian PAN itu sendiri. Selain itu, Amien memiliki soft legacy berupa prinsip dan pemikiran politik bagi partai berlambang matahari tersebut.

Warisan-warisan itu bisa jadi tetap membuat Amien berpengaruh di PAN. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) misalnya, sosok yang dianggap Tomsa sebagai pemimpin karismatik ini, meski telah lama didepak dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikannya dan telah meninggal dunia, nyatanya masih memiliki pengaruh legacy dalam diskursus politik hingga kini. Nama Gus Dur pun tetap dianggap melekat dengan PKB.

Seperti PKB, Zulhas mungkin sadar bahwa karisma Amien tetap akan melekat di PAN meski tak menjabat sebagai petinggi partai lagi. Maka dari itu, bukan tidak mungkin Ketum PAN tetap berlagak seakan-akan karisma Amien tetaplah menjadi bagian dari PAN.

Beberapa bulan lalu, Zulhas mengatakan bahwa Amien tetaplah memiliki kedudukan yang penting di PAN meski tak masuk dalam kepengurusan. Asumsi Zulhas itu didasarkan pada peran Amien sebagai pendiri partai tersebut.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Bisa jadi, diandalkannya karisma Amien oleh Zulhas ini merupakan bagian dari upayanya dalam melakukan konsolidasi politik. Bagaimana pun juga, PAN tidak memiliki tokoh-tokoh lain – seperti Sutrisno Bachir dan Hatta Rajasa – yang sekarismatik dan mempunyai legacy yang sama seperti Amien.

Hal inilah yang menjadi menarik dalam upaya konsolidasi politik Zulhas. Bila benar karisma Amien tetap berpengaruh di PAN, kini Ketum PAN itu juga perlu mengupayakan jenis sumber kekuatan partai yang lain, yakni modal finansial.

Konsolidasi ala Zulhas?

Tak dapat dipungkiri, sebuah partai politik membutuhkan beberapa sumber kekuatan. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi, Piero Ignazi – ilmuwan politik asal Italia – dalam bukunya yang berjudul Party and Democracy menjelaskan bahwa partai politik akan selalu membutuhkan beberapa sumber, seperti sumber daya manusia dan sumber ekonomi.

Mengacu pada tulisan Ignazi tersebut, sumber ekonomi tentu tidak kalah penting. Namun, hingga kini, posisi PAN yang tidak tergabung dalam koalisi pemerintahan bisa saja membuat PAN tak bisa mendapatkan sebagian sumber ekonomi.

Roi Zur dari University of California, Davis, Amerika Serikat (AS), dalam tulisannya yang berjudul Party Survival in Parliament menjelaskan bahwa – bagaimana pun juga – sebuah partai mendapatkan beberapa sumbernya dari jabatan di pemerintahan (governmental spoils). Dari alasan inilah, Zulhas mungkin membutuhkan sosok-sosok selain Amien di PAN.

Mungkin, inilah mengapa Zulhas berupaya mengakomodasi beberapa tokoh PAN lainnya. Sutrisno – yang akan menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN menggantikan Amien – misalnya, merupakan seorang pengusaha yang bisa saja dapat menjadi sumber ekonomi bagi PAN.

Selain Sutrisno, terdapat juga Hatta yang akan menjabat sebagai Ketua Majelis Penasihat PAN. Hampir sama denga Sutrisno, Hatta sendiri juga merupakan  seorang pengusaha.

Boleh jadi, Zulhas memang membutuhkan bantuan dari tokoh-tokoh tersebut. Mungkin, Zulhas merasa bahwa karisma yang dimiliki Amien saja tidak cukup.

Bisa dibilang kedua sumber ini menjadi penting bagi keselamatan (survival) PAN. Karisma tanpa sumber ekonomi belum tentu cukup. Begitu juga sebaliknya, sumber ekonomi tanpa karisma bisa saja tak memadai.

Michael Bloomberg yang sempat mencalonkan diri sebagai kandidat presiden AS dari Partai Demokrat AS misalnya, kendati ia memiliki sumber ekonomi yang justru jauh lebih besar dibandingkan Presiden AS Donald Trump. Namun, sebagai kandidat yang dianggap tidak karismatik, Bloomberg akhirnya memundurkan diri dari pencalonan dengan hasil primaries yang minim.

Bila berkaca pada kasus Bloomberg, bisa saja Zulhas ingin mengonsolidasikan kedua hal tersebut, yakni karisma dan modal ekonomi. Bagaimana pun juga, PAN membutuhkan beberapa manuver politik agar dapat menjaga “kekuatannya” hingga tahun 2024 nanti. Mari kita nantikan sajalah langkah lanjutan Zulhas. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?