HomeHeadlineSudah Saatnya NATO Dimusnahkan?

Sudah Saatnya NATO Dimusnahkan?

Kecil Besar

Peran NATO kerap kali dipertanyakan. Runtuhnya Uni Soviet ketika Perang Dingin berakhir, membuat pakta pertahanan tersebut kehilangan maknanya. Baru-baru ini, pemerintah Tiongkok bahkan menyebutkan sudah seharusnya NATO dibubarkan. Bisakah anggapan tersebut dibenarkan? 


PinterPolitik.com 

Peran North Atlantic Treaty Organization atau NATO menjadi salah satu sorotan utama dalam konflik Rusia-Ukraina. Sebagai aliansi militer yang terdiri dari negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, dan tentunya Amerika Serikat (AS), NATO diharapkan dapat menggunakan pengaruhnya untuk meredam konflik secepat mungkin. 

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. 

Sikap negara-negara anggota NATO terpecah. Di satu sisi, AS ingin menghukum Rusia sekuat mungkin dengan menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi, tetapi ini malah melahirkan permasalahan krisis energi, dan menyengsarakan warga Eropa yang selama ini bergantung pada sumber energi Rusia. 

Namun di sisi lain, Prancis dan Jerman bersikap setengah-setengah dalam menunjukkan sikap yang keras pada Rusia karena mereka pun sadar Eropa masih membutuhkan hubungan diplomatis yang sehat dengan negara pimpinan Vladimir Putin tersebut. 

Yang tidak kalah menariknya adalah, NATO sendiri sebagai suatu kesatuan tidak bisa terjun langsung ke tengah konflik, dengan alasan berpotensi memperparah keadaan.  

Tapi, mereka pun enggan membuka dialog damai untuk memastikan pada Rusia bahwa Ukraina tidak akan masuk NATO. Banyak orang melihat ini karena adanya dorongan dari AS untuk tidak tunduk pada Rusia. 

Kritik pada NATO yang paling pedas barangkali berangkat dari pernyataan pemerintah Tiongkok. Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Tiongkok, Zhao Lijian mengatakan NATO seharusnya sudah dibubarkan sejak 30 tahun yang lalu.  

Hal tersebut masuk akal, mengingat NATO sendiri awalnya didirikan untuk menjawab ancaman yang muncul dari Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Setelah Uni Soviet runtuh, bisa dikatakan saat ini NATO sudah tidak memiliki musuh.  

Tidak hanya itu, Lijian juga menilai keberlangsungan NATO di era modern perlu dikritisi, karena menurutnya AS telah menggiring NATO sebagai penyulut konflik di Eropa Timur, termasuk kasus Ukraina.  

Lantas, dapatkah pernyataan Tiongkok kita benarkan, bahwa sudah saatnya NATO dibubarkan? 

nato seharusnya tutup buku ed.

Sudah Ketinggalan Zaman? 

Sebelum mengarahkan pasukannya ke Ukraina, Putin selalu mengatakan NATO perlu lebih membatasi ekspansinya, khususnya ke wilayah Eropa Timur. Tetapi, apakah pernyataan Putin tersebut benar, atau hanya klaim sepihak? 

Well, kalau kita selidiki, faktanya memang NATO telah memperluas pengaruhnya ke seluruh benua Eropa, hampir setiap tahun. Semenjak tahun 2000 sampai sekarang, NATO telah mendapatkan 11 negara anggota baru. Terakhir, NATO merekrut Makedonia Utara pada tahun 2020. 

Meski barangkali NATO tidak benar-benar akan menjadikan Ukraina sebagai anggota, kenyataan bahwa NATO selalu menggantungkan nasib Ukraina sebelum invasi Rusia terjadi membuktikan bahwa eksistensialisme NATO itu sendiri tetap berpotensi menciptakan konflik. 

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pandangan seperti ini juga diisyaratkan oleh John J. Mearsheimer dalam tulisannya Why the Ukraine Crisis is the West’s Fault. Di dalamnya, Mearsheimer berargumen bahwa hanya dengan tidak berambisi menjadikan Ukraina sebagai negara netral, NATO sesungguhnya terang-terangan menghadirkan ancaman pada Putin. 

Dengan sikap yang demikian, bahkan mungkin kita juga bisa mengatakan bahwa NATO secara sadar menjadikan Rusia sebagai musuh.  

Terkait itu, Anthony Matthew dalam artikelnya It’s Time NATO Came to an End, menilai runtuhnya Uni Soviet dan Pakta Warsawa telah membuat NATO tidak lagi memiliki musuh. Hal itu menurut Matthew menjadikan NATO sebagai aliansi yang ketinggalan zaman. 

Seiring perkembangan waktu, NATO menemukan dirinya terjebak dalam krisis eksistensialisme. Bagaimana cara mengatasinya? Tentu dengan menciptakan musuh baru, yang tidak lain adalah Rusia. 

Cukup mudah untuk memprovokasi Rusia menjadi musuh baru Barat. NATO hanya perlu melakukan sejumlah provokasi seperti dengan memperluas keanggotaan hingga ke perbatasan Rusia, dan menempatkan pasukan tidak jauh dari Moskow.  

Situasi kemudian diperparah dengan bagaimana NATO itu sendiri dijalankan. Rami Rayess dalam artikelnya The Proposed European Army with Global Influence will Replace NATO, mengatakan selalu ada pandangan yang bertentangan dalam internal NATO tentang perumusan strategi, penempatan pasukan, dan siapa yang harus berkontribusi pada apa. 

NATO pun disebut terlalu bergantung pada AS, mulai dari anggaran, sampai personel militer. Sebagai dampaknya, hal itu telah menghambat potensi Eropa untuk muncul sebagai kekuatan geopolitik yang mandiri, karena mereka harus terus disetir oleh AS.  

Padahal secara politik dan ekonomi, saat ini Eropa tampak mulai memiliki agendanya sendiri. Eropa memiliki nilai perdagangan yang krusial dengan Rusia, khususnya dalam sektor energi. Begitu juga dengan Tiongkok yang dalam lima tahun terakhir telah menjadi mitra dagang terbesar Eropa setelah AS.  

Seperti yang kita tahu, kedua negara tadi adalah rival besar AS, dan karenanya, AS mempunyai justifikasi untuk membujuk Sekutunya di NATO untuk sewaktu-waktu memusuhi Rusia dan Tiongkok. 

Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir Eropa mulai memunculkan kembali wacana European Army, yaitu sebuah satuan pasukan imajinasi Uni Eropa. Pertama kali dimuculkan pada tahun 1950, wacana ini diharapkan dapat membuat pertahanan Eropa lebih mandiri dan tidak bergantung pada AS. Tujuan utama lainnya adalah agar Eropa tidak diajak ke konflik-konflik yang merugikan mereka. 

Ide pasukan imajinasi ini digaungkan salah satunya oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pada tahun 2018, Macron menyebutkan sudah saatnya Eropa mewujudkan European Army. 

Baca juga :  Kebangkitan Kedua

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ketidak bergantungan  pada NATO sesungguhnya adalah hal yang sangat diinginkan oleh Eropa. Dan melihat perkembangannya sekarang, tidak sulit untuk meyakini bahwa ini adalah momennya NATO dibubarkan. 

Lantas, jika Eropa perlu ‘dimerdekakan’ dari NATO, bagaimana kemudian kira-kira respons AS? 

infografis mengenang kelahiran blok nato 819x1024 1

Eropa, Musuh AS? 

Dalam sebuah artikel hasil wawancara dengan The Economist berjudul Emmanuel Macron Warns Europe: NATO is Becoming Brain-Dead, Macron menyampaikan pandangan yang menarik.  

Menurutnya, selama Eropa bergantung pada AS, NATO akan menjadi organisasi yang “brain-dead” atau tidak berguna. Macron menilai, AS berulang kali menunjukkan bahwa mereka tidak lagi memihak Eropa. 

Ini dicontohkan dengan keluarnya AS dari perjanjian nuklir bernama Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INFT), menjatuhkan sanksi ekonomi pada Rusia, dan menghambat hubungan ekonomi dengan Rusia dan Tiongkok.  

Karena itu, Macron menilai Eropa saat ini tengah berdiri di “tepi jurang”, dan mereka perlu mulai memikirkan dirinya sendiri secara strategis sebagai kekuatan geopolitik, bukan sekadar untuk jadi pemain internasional, tetapi juga untuk keberlangsungan hidupnya. Jika tidak, Eropa tidak akan mampu mengendalikan nasibnya sendiri. 

Pandangan untuk memisahkan Eropa dari AS sesungguhnya sudah muncul dari era Perang Dingin oleh mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, dengan istilah Common European Home. Meski pada saat itu konsep tersebut lebih bersifat propaganda, demi menjauhkan pengaruh AS di Eropa. 

Walau begitu, tampaknya untuk saat ini ide tersebut kembali menjadi solusi yang menggiurkan bagi Eropa. Tapi sayangnya, hal itu sepertinya sudah disadari AS. 

Noam Chomsky dalam artikel hasil wawancara Truthout, Chomsky: Peace Talks in Ukraine “Will Get Nowhere” If US Keeps Refusing to Join, menilai sangat mungkin AS memanfaatkan konflik Ukraina untuk meredam bangkitnya Eropa. 

Karena itu, Chomsky menyebut, sepertinya bisa diasumsikan bahwa AS dan Rusia telah bergerak ‘seirama’ di belakang layar. Dengan terus memanas-manasi konflik Ukraina, Eropa yang sejak Perang Dingin ingin menjadi entitas politik yang bebas dari kekangan kekuatan AS, menjadi terhambat. 

Sebagai kesimpulan, bisa dikatakan bahwa memang sudah saatnya NATO dibubarkan, organisasi tua tersebut berpotensi untuk menciptakan musuh yang sesungguhnya tidak perlu dilawan. Ke depannya, ini tentu dapat merusak kestabilan politik dunia.  

Di sisi lain, jika AS mengizinkan pembubaran NATO, maka itu dapat memperkuat Eropa, sehingga segenting apapun keadaannya, bubar atau tidaknya NATO bergantung pada keputusan AS. 

Tapi kalau kita lihat perkembangannya sekarang, sepertinya AS belum menginginkan Eropa menjadi pemain kuat. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing