HomeHeadlineSiasat Mustahil Anies-Imin untuk Palestina

Siasat Mustahil Anies-Imin untuk Palestina

Kecil Besar

Di tengah ramainya isu pertempuran Israel dan Palestina akhir-akhir ini, pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin), berjanji akan menyelamatkan Palestina bila menang di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.


PinterPolitik.com

“He is my first friend” – Gaara, Naruto: Shippūden (2007-2017)

Saat itu, Gaara muda yang telah menjadi kazekage harus mengalami kenyataan pahit. Duo Akatsuki – Deidara dan Sasori – berhasil menangkapnnya dan membawanya ke markas Akatsuki – sebuah organisasi terlarang yang berisikan ninja-ninja berkemampuan tinggi.

Akibatnya, Sunagakure harus kehilangan pemimpinnya. Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan Deidara dan Sasori, Gaara akhirnya harus kehilangan bijuu-nya, Shukaku.

Keadaan yang terjadi di Sunagakure tidak membuat Naruto Uzumaki diam saja. Mereka akhirnya menjalankan sebuah misi untuk menyelamatkan Gaara.

Kurang lebih, begitu jalan cerita yang terjadi di anime Naruto: Shippūden (2007-2017). Naruto dan Gaara sendiri merupakan dua orang sahabat yang tidak pernah berhenti menginspirasi satu sama lain.

Mungkin, kekuatan persahabatan antara Konohagakure dan Sunagakure ini mirip dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Hingga kini, sebagai sebuah negara yang berdaulat, Indonesia tidak pernah berhenti untuk mendukung kemerdekaan Palestina,

Boleh jadi, inilah mengapa para pejabat dan politisi Indonesia kerap menyebutkan nama Palestina di banyak kesempatan. Mereka selalu menonjolkan niat dan tekad mereka untuk berjuang untuk negara yang berkonflik Israel itu.

Bagaikan Naruto yang tidak ingin meninggalkan Gaara, Anies Baswedan dan Muhaimain Iskandar (Cak Imin) yang merupakan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Bagaimana tidak? Anies dan Cak Imin berjanji bahwa mereka akan menyelamatkan Palestina bila memenangkan Pilpres 2024. Janji ini memang menarik – mengingat pertempuran kini tengah membara di Jalur Gaza.

Namun, persoalan Israel dan Palestina bukanlah masalah yang tiba-tiba muncul karena serangan Hamas. Akar konflik ini bahkan sudah muncul sejak berabad-abad lalu – menjadi bukan hal yang sederhana untuk diselesaikan. 

Lantas, bila masalah Israel dan Palestina bukanlah hal sederhana, mengapa Anies dan Cak Imin yakin bahwa mereka bisa menyelamatkan Palestina – layaknya Naruto menyelamatkan Gaara? Mungkinkah Israel tunduk pada Anies dan Cak Imin?

Mengapa Palestina Penting untuk Anies-Imin?

Dalam anime Naruto dan Naruto: Shippūden, terdapat beberapa desa ninja yang mana memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Meski begitu, mereka selalu mengadakan pertemuan antar-kage guna membahas persoalan-persoalan di dunia ninja.

Apa tujuan dari pertemuan rutin antar-kage tersebut? Jawabannya adalah agar mereka bisa siap bila menghadapi ancaman bersama. Selain itu, mereka juga bisa menyamakan pandangan bila sesuatu terjadi.

Mungkin, mereka yang berkuliah Ilmu Hubungan Internasional (HI) menyadari bahwa, layaknya politik internasional di dunia nyata, desa-desa ninja dalam dunia Naruto juga menjalankan identitas dan peran mereka masing-masing dalam berdiplomasi – seperti yang dijelaskan dalam perspektif konstruktivisme.

Ini juga berlaku dalam jalannya interaksi antar-negara dalam politik dunia di dunia nyata. Bukan tidak mungkin, akibat interaksi yang selama ini dilakukan Indonesia dengan berbagai negara, Indonesia akhirnya memposisikan diri sebagai pendukung kemerdekaan Palestina.

Selain itu, konstruksi identitas ini juga bisa berasal dari lingkup domestik. Pasalnya, seperti yang dijelaskan oleh Robert D. Putnam dalam tulisannya berjudul Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games, politik domestik dan politik internasional adalah dua permainan yang harus dimainkan bersama.

Bisa jadi, dorongan publik di lingkup domestik – khususnya mengenai isu Palestina – juga turut memengaruhi keputusan-keputusan politik yang diambil oleh aktor-aktor politik dan pengambil kebijakan. Inilah mengapa identitas Indonesia sebagai pendukung Palestina juga terbangun di lingkup internasional.

Berdasarkan penjelasan ini, menjadi wajar apabila Anies-Imin membawa isu Palestina dalam janji-janji kampanye mereka. Apalagi, bila terpilih menjadi presiden dan wakil presiden (wapres) pada 2024 nanti, isu ini juga yang nantinya perlu dimainkan dalam dua tingkat permainan politik tadi. 

Namun, apakah mungkin Anies-Imin berhasil menyelamatkan Palestina sepenuhnya – katakanlah bila terpilih nantinya? Mungkinkah isu Palestina hanya akan menjadi janji belaka? 

Mengapa Palestina “Penting” untuk Anies-Imin?

Dari penjelasan di atas, isu Palestina memang penting bagi masyarakat Indonesia – berdasarkan konstruksi identitas Indonesia dalam interaksinya di lingkup internasional. Namun, faktor kampanye membuat janji Anies-Imin bisa saja hanya menjadi janji yang sulit untuk diwujudkan.

Bila diingat-ingat kembali, isu Palestina dalam janji-janji kampanye sudah berkali-kali diungkapkan. Tidak hanya Anies-Imin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sempat berjanji akan mendorong Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menjadikan Palestina sebagai negara anggota sepenuhnya pada Pilpres 2014 silam.

Meski janji-janji ini terdengar indah di telinga masyarakat Indonesia, dinamika politik internasional pada kenyataannya tidaklah seindah itu. Politik antar-negara bukanlah dunia yang diatur secara rigid melalui aturan atau prinsip yang tetap.

Mengacu ke penjelasan Jonathan Havercroft dan Alex Prichard dalam tulisan mereka yang berjudul Anarchy and International Relations Theory: A Reconsideration, banyak teori fundamental HI menilai bahwa politik internasional adalah sebuah anarki.

Artinya, tidak ada satu entitas yang paling kuat yang bisa menerapkan aturan dan norma internasional sepenuhnya. Maka dari itu, perebutan kepentingan dalam politik internasional lebih didasarkan pada siapa yang paling kuat.

Dinamika persoalan Israel dan Palestina sendiri sebenarnya sudah mendapatkan solusi yang memungkinkan berdasarkan Resolusi PBB pada tahun 1974, yakni solusi dua negara – yang mana di dalamnya Israel dan Palestina dapat eksis bersama.

Indonesia – sebagai negara yang berstatus middlepower – tidaklah memiliki pengaruh besar dalam sepenuhnya mewujudkan pengakuan negara-negara lain terhadap Palestina. Apalagi, Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara adidaya memiliki kepentingan dan pengaruh yang besar dalam isu Israel dan Palestina.

Sementara, negara yang digadang-gadang menjadi rival AS, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), tidak memiliki pengaruh seluas AS di kawasan Timur Tengah. Meski dalam sejumlah pernyataan kerap mengkritik Israel, Tiongkok tetap memosisikan diri sebagai negara netral – menjaga otoritas strategis yang dimilikinya di Timur Tengah.

Dengan dinamika internasional demikian, menjadi sulit bagi Indonesia untuk memberikan solusi jangka panjang bagi Palestina – mengingat pengaruh negara-negara lain juga lebih besar. Alhasil, siapapun presiden dan wapres yang menjabat di Indonesia, bukan perkara mudah untuk menyelamatkan Palestina sepenuhnya.

Alhasil, meski apabila nanti Anies-Imin terpilih, faktor-faktor demikian juga akan membuat mereka sulit memenuhi janji mereka. Mungkin, janji kampanye ini akhirnya hanya menjadi janji kampanye. 

Layaknya Naruto yang ingin menolong Gaara, situasi sulit justru menghambatnya – karena keberadaan anggota-anggota Akatsuki yang begitu kuat. Boleh jadi, Anies-Imin pun akan berakhir sama layaknya Gaara yang harus menghadapi AS dan sejumlah negara lain yang jauh lebih berpengaruh. (A43)


Baca juga :  Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih
spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?