HomeNalar PolitikSetya Novanto, Klien yang Bangkrut?

Setya Novanto, Klien yang Bangkrut?

Kecil Besar

Setya Novanto akhirnya digiring ke KPK pada Minggu (19/11) malam. Banyak yang merasa kalau ini adalah akhir dari ‘kesaktian’ Setya.


PinterPolitik.com

Sebelumnya, hidung pengamat hingga publik telah mencium bahwa Setya Novanto adalah politisi yang dikunci oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). ‘Stalinisme’ yang digunakan Jokowi dengan kasus korupsi Setya membuatnya harus membawa Golkar setia kepada pemerintah.

Buktinya, Jokowi mencopot Sudirman Said dari jabatan Menteri ESDM setelah Sudirman melaporkan Setya karena meminta saham Freeport. Selentingan juga muncul dari praktisi politik yang pernah berkecimpung di Istana, hingga Fahri Hamzah, yang menyebut bahwa Setya dan Golkar memang digunakan sebagai tiket Pilpres 2019. (Baca juga: Setnov dan Stalinisme Ala Pemerintah)

Walaupun terus menerus ditimpa isu miring di tingkat nasional, namun fakta bahwa Jokowi tetap ‘melindungi’nya bahkan sampai saat Setya mengalami kecelakaan menunjukkan ada pertaruhan kekuasaan yang besar di sana.

Setya adalah ‘menteri’ dalam permainan catur: posisinya vital bagi ‘raja’ Jokowi. Diduga pula, ada kekuatan konglomerat besar yang mengamankan Setya hingga dijuluki ‘Penyihir Kebal Hukum’.

Karirnya yang penuh kasus sejak 1999 pun terus menerus selamat dari tuntutan hukum. Bisnisnya aman dan Golkar pun selalu dekat dengan pemerintah. Namun, menghadapi kasus e-KTP yang amat getol diusut KPK, sepertinya Setya mulai ambruk. Kekuatan politik dan bisnis yang menyokongnya perlahan-lahan mulai surut.

Bagaimana jatuh bangun bisnis politik Setya sejauh ini? Apakah e-KTP akan menjadi episode terakhir perjuangan karirnya?

Ekspansi Tahta, Ekspansi Harta

Corruption is just another form of tyranny

-Joe Biden-

Untuk sampai pada posisi sekarang ini, tentu ada modal bisnis dan politik yang besar dimiliki oleh Setya. Secara bisnis, dapat dipastikan Setya dilindungi oleh seorang/sekelompok political entrepreneur. Mereka bekerjasama dengan Setya terkait persoalan bisnis mereka yang perlu diamankan secara politik. Setya dipercaya karena dia adalah politisi yang hebat dalam lobi politik. Selain itu, posisinya sebagai petinggi legislatif yang juga pebisnis, dipercaya mampu melindungi bisnis-bisnis para konglomerat melalui regulasi di DPR.

Sementara itu, secara politik, Setya mampu meraih kepercayaan yang positif terus menerus dari internal Golkar maupun dari Dapilnya di NTT. Di Golkar, jabatannya terus merangkak naik dari kader Kosgoro pada 1993 hingga Ketua Umum partai pada 2016. Di NTT, Setya berturut-turut terpilih menjadi wakil di DPR sejak tahun 1999 hingga sekarang. (Baca juga: Papa Tak Akan Turun)

Apa yang terjadi pada Setya ini sesuai dengan konsep klientelisme dalam ilmu politik. Klientelisme (clientelism) adalah mekanisme kekuasaan yang umum terjadi dalam relasi antar elit politik dalam bentuk patron dan klien.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?

Konsep ini menjelaskan bahwa seorang politisi memulai karirnya dengan menjadi klien dari seorang patron. Klien yang adalah seorang politisi kemudian akan menggunakan kekuasaannya untuk memuluskan langkah bisnis seorang patron, dengan imbalan hasil profit yang diberikan kepada klien.

Sepanjang karir Setya yang dimulai dari bawah, ia perlahan-lahan naik ‘pangkat’ dengan bantuan patron-patron di sekitarnya. Pada situasi tersebut, Setya sebagai klien kelas bawah memberikan seluruh usaha dan pengabdiannya demi kepentingan patron. Kemudian, patron akan memberikan kepercayaan kepada Setya dan memberi ‘promosi pangkat’ kepadanya sebagai timbal balik.

Misalnya, Haryono Isman, seorang kawan lama dan juga bos Setya, adalah orang yang mendukung Setya pada awal karirnya di Kosgoro dan Golkar. Selain Haryono, sepanjang karirnya, Setya juga berkenalan dengan banyak tokoh penting, baik di Polri maupun TNI yang turut menyokong karirnya.

Insting bisnisnya pun, diakui orang begitu mumpuni. Ia adalah salah satu orang yang menyadari potensi pariwisata Batam di akhir tahun 1980-an. Namun, ketika itu rencana bisnisnya terhambat oleh kelompok konglomerasi besar yang sudah mulai ekspansi ke sana, antara lain milik Sudwikatmono, Ciputra, dan Liem Sioe Liong. Dari pengalaman itu, Setya kemudian berkenalan dengan Sudwikatmono, orang yang disebut-sebut sebagai mentor bisnisnya.

Setya juga disebut tak sungkan untuk menjadi ‘pembantu’ orang-orang besar, seperti menjadi ajudan pribadi, supir pribadi, pengawal bisnis konglomerat, hingga menikahi anak Wakapolda Jawa Barat, Brigadir Jenderal Pol. Sudarsono. Semua dilakukan dalam rangka menjadi klien yang baik dan dipromosikan ‘pangkatnya’.

Dengan semakin kuatnya kekuasaan politik Setya, dia kemudian dapat menjadi klien bagi pebisnis yang lebih besar lagi, tentu dengan bagi hasil yang juga lebih besar lagi. Kasus e-KTP ini adalah salah satu contohnya. Setya sebagai Ketua DPR menjadi jembatan negosiasi antara pebisnis peserta tender, politisi DPR, termasuk juga bisnis keluarganya sendiri.

Melalui klientelisme ini, tergambar perjalanan karir bisnis-politik Setya dari bawah sampai jabatannya sekarang ini.

Saat ini, Setya pasti telah disokong oleh patron-patron konglomeratnya yang sangat berpengaruh. Mengutip Nazaruddin, mereka adalah orang-orang yang selalu ada namun tak terlihat, termasuk di belakang setiap pembahasan APBN.

Konglomerat ini adalah orang-orang kuat yang berada di belakang Setya dan menyokongnya agar tak pernah jatuh. Mereka dapat dilihat dalam bukti-bukti dan kesaksian di beberapa kasus yang sempat menjegal Setya.

Bahkan, Jokowi sendiri dapat disebut sebagai patron Setya di pemerintahan. Dengan setia dan ‘mengabdi’ kepada Jokowi, maka Setya mendapatkan reward berupa perlindungan dari kasus e-KTP maupun kekuasaan Golkar yang lebih besar lagi di pemerintahan.

Baca juga :  Cahaya Harapan MK untuk Keterwakilan Perempuan

Makin Keropos ‘Rumah’ Setya di NTT?

Kegeraman publik atas korupsi besar-besaran yang diduga dilakukan oleh Setya sepertinya tidak terlalu mewakili sikap masyarakat NTT, daerah pemilihannya. Mengapa demikian?

Kepercayaan seperti ini, dapat timbul karena adanya political trust kepada Setya yang mengakar di masyarakat NTT. Modal politik maupun bisnis yang digelontorkan Setya di NTT, terbukti berhasil membendung isu-isu negatifnya di pusat. Dukungan masyarakat NTT kepada Setya relatif kuat.


Dari kaca mata pengusaha, Setya memiliki bisnis yang menggurita di NTT. Mulai dari hotel, pusat rekreasi, hingga PLTU. Masyarakat NTT pasti merasakan sumbangsih Setya yang besar bagi daerah. Setya juga memiliki pusat tenun kain besar, yang menyerap cukup banyak tenaga kerja di NTT.

Awal karir bisnisnya hingga dukungan ‘orang-orang kuat’ di belakangnya, terutama dalam bisnisnya di NTT, kemudian membuat Setya menang Pileg DPR RI mewakili NTT sejak percobaan pertama hingga terakhir. Ada distribusi kekuatan politik dari orang di belakang Setya, kepada Setya, kemudian kepada masyarakat NTT, yang membuat Setya terus mewakili NTT di DPR selama hampir 19 tahun.

Berkaitan dengan hal tersebut, klientelisme juga terjadi dengan bentuk representasi politik di NTT ini. Setya mampu ‘membeli’ suara penduduk NTT melalui kegiatan-kegiatan bisnisnya. Setya yang bukan asli dari NTT, mendapatkan kepercayaan yang cukup kuat. Bahkan beberapa pihak menyebut kekuatan politik Setya di NTT sangat sulit digoyahkan.

Namun, apabila melihat tren dalam Pemilu, suara Setya sedikit demi sedikit menurun. Mungkinkah kasus e-KTP yang dramatis ini akan menghancurkan kepercayaan masyarakat NTT sepenuhnya, bila Setya terus selamat sampai 2019 nanti?

Mungkinkah Papa Lari Lagi?

Saat ini Setya Novanto terlihat sedang dalam posisi terendahnya. Belum pernah sepanjang kontroversi kasus-kasusnya yang lain, Setya sampai mengenakan rompi oranye KPK.

Sebagian orang dapat memprediksi ini sebagai akhir dari karir Setya. Sebagian yang lain juga mungkin memprediksi Setya masih berusaha dipertahankan oleh pemerintah.

Namun yang pasti, jalan Setya untuk kabur ke luar negeri hampir pasti tak menjadi opsi. Berbeda dengan kawannya Djoko Tjandra yang kabur dan mengganti kewarganegaraan menjadi Papua Nugini, Setya tidak dapat kabur dengan mudah karena dia memiliki modal politik dan bisnis yang besar di Indonesia.

Kasus korupsi Setya menyita perhatian masyarakat, disebabkan dirinya adalah pejabat publik. Ia menjadi begitu disorot karena tak hanya korupsinya yang besar, karirnya pun mencengangkan. Kini, apakah gilirannya kita melihat ‘pembusukan’ karir Setya? Ataukah ada drama lanjutan dari lihainya Setya menghindari hukum dan terus mengamankan kekuatan politik-bisnisnya? (R17)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Mengejar Industri 4.0

Revolusi industri keempat sudah ada di depan mata. Seberapa siapkah Indonesia? PinterPolitik.com “Perubahan terjadi dengan sangat mendasar dalam sejarah manusia. Tidak pernah ada masa penuh dengan...

Jokowi dan Nestapa Orangutan

Praktik semena-mena kepada orangutan mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), praktik-praktik itu terus...

Indonesia, Jembatan Dua Korea

Korea Utara dikabarkan telah berkomitmen melakukan denuklirisasi untuk meredam ketegangan di Semenanjung Korea. Melihat sejarah kedekatan, apakah ada peran Indonesia? PinterPolitik.com Konflik di Semenanjung Korea antara...