HomeNalar PolitikSentil Tumit “Pria Solo Itu”?

Sentil Tumit “Pria Solo Itu”?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.


PinterPolitik.com

Polemik ijazah yang kembali menyeret nama Joko Widodo bukan sekadar riak kecil dalam ruang publik. Ia telah menjelma menjadi semacam entry point bagi diskursus yang lebih dalam, tentang bagaimana seorang mantan presiden tetap menjadi pusat gravitasi politik nasional.

Bahkan, ketika nama Jusuf Kalla ikut terseret dalam pusaran perdebatan, kita menyaksikan bahwa isu ini bukan lagi soal verifikasi administratif, melainkan soal legitimasi, persepsi, dan daya tahan pengaruh.

Dalam politik modern, isu-isu simbolik sering kali lebih kuat daripada fakta material. Ijazah, dalam hal ini, bukan sekadar dokumen, melainkan metafora tentang asal-usul, keabsahan, dan narasi “orang biasa” yang selama ini menjadi fondasi populisme Jokowi.

Ketika fondasi simbolik ini digoyang, yang diuji bukan hanya kebenaran faktual, tetapi juga daya tahan konstruksi citra yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.

Namun, untuk memahami mengapa polemik ini terasa signifikan, kita perlu melangkah lebih jauh: melihat Jokowi bukan lagi sebagai individu, melainkan sebagai arsitektur kekuasaan pasca-jabatan.

Dalam kerangka Michel Foucault, kekuasaan tidak berhenti ketika jabatan berakhir, ia menyebar, meresap, dan beroperasi melalui jaringan relasi yang sering kali tak kasat mata. Jokowi, dengan demikian, bukan sekadar mantan presiden, tetapi simpul dalam jejaring kekuasaan yang melintasi partai, birokrasi, hingga entitas ekonomi.

Di sinilah polemik ijazah menemukan relevansinya: ia menjadi salah satu pintu untuk menguji apakah jaringan kekuasaan tersebut memiliki titik rapuh.

Dalam mitologi Yunani, Achilles, pahlawan yang nyaris tak terkalahkan, tetap memiliki satu titik lemah, yakni tumitnya. Analogi ini menjadi pisau analisis yang menarik. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jokowi kuat, melainkan, di mana letak tumit Achilles-nya?

Anatomi Kekuatan Jokowi?

Untuk memahami kemungkinan kelemahan, kita harus terlebih dahulu membedah sumber kekuatan. Jokowi adalah anomali dalam lanskap politik Indonesia, bukan berasal dari militer, bukan pula dari oligarki bisnis. Ia lahir dari populisme lokal, dibesarkan oleh partai, dan kemudian membangun kekuatannya sendiri melalui kekuasaan negara.

Baca juga :  Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Selama dua periode kepemimpinannya, ia tidak hanya memerintah, tetapi juga merajut jaringan. Dalam perspektif Mark Granovetter, kekuatan sosial tidak terletak pada individu, melainkan pada keterikatan relasional, embeddedness.

Jokowi tampaknya memahami ini dengan baik. Ia seolah tidak membangun dominasi ideologis yang kaku, melainkan fleksibilitas relasional, menjalin kedekatan dengan berbagai aktor, dari birokrat hingga pelaku bisnis.

Namun, di sinilah paradoks muncul. Jaringan yang luas adalah sumber kekuatan, tetapi juga potensi kerentanan. Loyalitas yang dibangun di atas akses terhadap sumber daya seperti proyek, jabatan, atau kedekatan kekuasaan cenderung bersifat transaksional. Ketika akses itu berkurang, loyalitas pun menjadi cair.

Di era pemerintahan Prabowo Subianto, dinamika ini menjadi semakin relevan. Jokowi tidak lagi memegang kendali langsung atas distribusi sumber daya negara.

Eks Wali Kota Solo itu mungkin masih memiliki pengaruh, tetapi pengaruh itu kini bergantung pada keselarasan dengan kekuasaan formal yang baru. Dalam kondisi seperti ini, jaringan yang sebelumnya solid dapat mengalami apa yang dalam teori jaringan disebut sebagai fragmentasi internal.

Lebih jauh, ekspansi pengaruh Jokowi ke berbagai sektor—politik, birokrasi, hingga keluarga melalui figur seperti Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep—menciptakan apa yang bisa disebut sebagai overextension.

Dalam sejarah kekuasaan, ekspansi yang terlalu luas sering kali diikuti oleh kesulitan dalam menjaga kohesi. Agen-agen dalam jaringan tidak selalu bergerak dalam satu arah, mereka memiliki kepentingan masing-masing, yang sewaktu-waktu dapat bertabrakan.

Di sisi lain, legitimasi publik yang selama ini menjadi kekuatan utama Jokowi juga tidak bersifat statis. Narasi “orang biasa” yang berhasil menembus puncak kekuasaan adalah aset simbolik yang kuat.

Namun, ketika narasi itu mulai dipertanyakan, baik melalui polemik ijazah maupun kritik terhadap dinasti politik, maka yang terancam bukan hanya citra, tetapi juga fondasi moral dari pengaruh tersebut.

Dengan kata lain, kekuatan Jokowi hari ini adalah kombinasi dari jaringan, loyalitas, dan legitimasi. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni mereka bergantung pada kondisi yang dapat berubah.

Baca juga :  Trust Game Intelijen Ompreng MBG?
paradoks jokowi lebih sejahtera era sby (2)

Menyentil Tumit Achilles?

Jika kekuasaan Jokowi bersifat jaringan, maka cara melemahkannya tidak bisa melalui konfrontasi langsung. Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan semacam ini tidak runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena mengalami erosi dari dalam.

Dalam konteks ini, konsep Achilles’ Heel menjadi relevan bukan sebagai titik lemah tunggal, melainkan sebagai kumpulan kerentanan struktural.

Pertama, ketergantungan pada insentif kekuasaan. Tanpa kontrol langsung atas sumber daya negara, kemampuan untuk mempertahankan loyalitas akan menurun.

Kedua, fragmentasi internal jaringan, di mana konflik antar-aktor dapat melemahkan kohesi. Ketiga, delegitimasi publik, yang secara perlahan mengikis kepercayaan dan dukungan.

Polemik ijazah, dalam hal ini, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk “sentilan” terhadap tumit tersebut. Ia mungkin tidak cukup kuat untuk meruntuhkan, tetapi mampu mengganggu stabilitas narasi.

Dan dalam politik, gangguan kecil yang berulang sering kali lebih efektif daripada serangan besar yang sesaat.

Lebih jauh, keberadaan rezim baru juga memainkan peran penting. Dalam banyak kasus global, mantan pemimpin yang tetap berpengaruh sering kali menghadapi batas ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan penguasa aktif.

Negara, dengan seluruh instrumennya, memiliki kapasitas untuk merestrukturisasi jaringan kekuasaan lama, baik secara halus maupun terbuka.

Namun, yang paling menentukan adalah waktu. Kekuasaan pascajabatan memiliki siklus, ia naik, menyebar, lalu perlahan menyusut. Bukan karena ia kalah, tetapi karena kondisi yang menopangnya berubah.

Dalam kerangka ini, Jokowi tidak harus “dikalahkan”, cukup dengan membiarkan dinamika politik berjalan, maka jaringan yang bergantung pada momentum dan akses akan menemukan batasnya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah jaringan yang dibangun, Jokowi mampu bertahan tanpa fondasi kekuasaan formal? Jika jawabannya tidak, maka erosi adalah keniscayaan.

Dan di situlah makna sesungguhnya dari menyentil tumit Achilles, bukan jatuh seketika, tetapi membuka jalan bagi proses peluruhan yang tak terelakkan.

Sebab dalam politik, seperti dalam mitologi, tidak ada yang benar-benar kebal, hanya ada yang belum menemukan titik lemahnya. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah? 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit? 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.

More Stories

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.

Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Lagu “Mas Bahlil Ganteng” kiranya menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks sosial-politik Indonesia. Kedahsyatannya yang dinyanyikan dewasa maupun Gen-Alpha, mendobrak algoritma untuk mengubah citra seketika saat seorang pejabat yang awalnya dinaungi nuansa skeptisisme.