HomeHeadlineRian d'Masiv-Anies “di Antara Kalian”?

Rian d’Masiv-Anies “di Antara Kalian”?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Di tengah derasnya hijrah musisi terjun ke politik, duet Rian d’Masiv dan Anies Baswedan di atas panggung jadi simbol sunyi, tentang pilihan dan “takdir”, tentang jeda, hingga perlawanan simbolik. Mengapa demikian?


PinterPolitik.com

Di tengah dentuman panggung konser dan riuh dukungan elektoral, satu lanskap yang semakin sering beririsan, musisi dan politisi, tampak kian berkorelasi. Di Indonesia sendiri, perpindahan lintas ranah antara industri musik dan arena politik juga tampak kian lumrah.

Kemarin, Yovie Widianto, maestro musik Indonesia, diumumkan sebagai Komisaris PT Pupuk Indonesia setelah sebelumnya menjabat sebagai Staf Khusus Presiden di bidang Ekonomi Kreatif.

Penunjukan ini jamak dinilai bukan semata karena popularitas, apalagi korelasi teknis, tetapi juga karena keterlibatannya yang konsisten di ranah politik elektoral. Diketahui, Yovie telah aktif dalam mendukung Presiden Joko Widodo sejak Pilpres 2014.

Menariknya, Yovie menjadi simbol dari musisi yang bukan hanya kreatif secara musikal, tetapi juga strategis dalam membaca arah kekuasaan dan pembangunan budaya sosial-politik.

Di sisi lain, dalam panggung yang serupa tapi sama, konser d’Masiv di Taman Ismail Marzuki pada 15 Juni 2025, menyajikan duet mengejutkan, yakni Rian d’Masiv dan Anies Baswedan.

Satu adalah penyanyi dengan lirik penuh makna sosial, cinta, dan eksistensial, satunya lagi adalah eks Gubernur DKI Jakarta dan eks Capres 2024 yang kini memilih sedikit menepi.

Sebuah penampilan yang saat disandingkan dengan “nasib” Yovie, seolah mengundang tafsir dan tanda tanya. Lalu, mengapa ini menjadi penting?

Kalian dan Jalan Ketiga?

Melalui konsep celebrity politics, pergeseran peran sejumlah musisi ke dalam institusi politik-pemerintahan secara kasat mata tampak sebagai bagian dari regenerasi dan kooptasi elite.

Dalam daftar para musisi yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI, pejabat BUMN, hingga pejabat negara, kiranya dapat dipahami bahwa politik Indonesia saat ini telah sangat terbuka dengan simbiosis elektoral dan kursi kekuasaan yang dapat terbaca.

Giring “Nidji”, Pasha “Ungu”, Ifan “Seventeen”, Once Mekel, dan Ahmad Dhani adalah representasi dari elite baru yang direkrut bukan semata karena ketokohan politik, tetapi karena kapital sosial dan simbolik yang mereka miliki sebagai musisi.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Dalam kasus Giring, misalnya, ia telah membangun jejak politik sejak lama sebagai Ketua Umum PSI, kemudian diakomodasi dalam struktur pemerintahan sebagai Wamenbud dan Komisaris Garuda Maintenance.

Pasha, Dhani, dan Once krianya memiliki basis massa yang jelas serta afiliasi politik formal. Sementara Ifan dan Yovie tampak dicitrakan memiliki kemampuan menavigasi peran teknokratik dan manajerial di institusi negara.

Maka, transisi ini bukan hanya pergeseran karier, tetapi afirmasi atas diterimanya soft power budaya dalam struktur hard power politik.

Namun, Rian d’Masiv dan Anies Baswedan tampak berada di luar gelombang itu. Rian, meski populer dan dikenal melalui lagu-lagu penuh pesan seperti Jangan Menyerah atau Di Antara Kalian, belum menunjukkan tanda-tanda akan menapaki panggung politik formal.

Sementara Anies, setelah kekalahan di Pilpres 2024, tampak “dijeda” dari orbit utama kekuasaan, meski kapital politiknya belum luntur.

Duet mereka di TIM memang bukanlah aksi politik eksplisit, tetapi dapat diinterpretasi secara menarik seperti simbol, pertemuan dua sosok yang berada di luar orbit “kalian”, para elite baru musik-politik.

Mungkin, menjadi sebuah bentuk silent statement yang menolak kooptasi sistem, atau mungkin, dalam istilah Antonio Gramsci, sebuah ekspresi dari war of position, yakni strategi membangun pengaruh dan legitimasi dari luar institusi resmi.

menanti kombo once ahmad dhani di dpr 2

Ketika Narasi Tak Harus Berkuasa?

Di tengah dominasi musisi-politisi dan eksistensi Anies yang mulai terpinggirkan pasca Pilpres 2024, muncul pertanyaan besar, apakah kemunculan duet Rian-Anies adalah bentuk resistensi simbolik terhadap kooptasi sistemik? Ataukah ini hanya sekadar momen artistik yang dalam artikel interpretasi dibaca terlalu politis, namun begitu menarik?

Anies sendiri, dalam konteks politik kontemporer, berada dalam fase reflektif yang jarang ditempuh oleh politisi Indonesia. Di saat rekan-rekannya seperti Muhaimin Iskandar (yang kini Menko PM) dan Agus Harimurti Yudhoyono (yang menjabat Menko Infrastruktur) tengah menyatu dalam kekuasaan, Anies memilih diam secara kreatif.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Menariknya, Cak Imin dan AHY memiliki kisah yang dinilai cukup dramatis dalam konteks cawapres Anies.

Anies pun seolah memposisikan diri tidak berada di orbit “kalian”, juga tidak membangun front oposisi keras. Ia mungkin seperti third figure, bukan insider, bukan juga outsider sepenuhnya.

Duetnya dengan Rian, yang juga pernah terjadi secara publik di Pasar Santa sebelumnya, bisa saja dibaca dan mempertegas posisi itu, yaitu sebagai dua tokoh yang relevan tetapi tak ikut berkuasa.

Mereka adalah figur publik dengan kapital simbolik, tetapi tidak sedang melakukan mobilisasi elektoral. Dalam pendekatan Pierre Bourdieu, mereka bukan sedang bersaing dalam field politik dengan modal ekonomi dan kekuasaan, tetapi tetap memainkan permainan melalui modal budaya.

Lebih jauh, lagu “Di Antara Kalian” d’Masiv ciptaan Rian justru memberi tafsir baru. Lagu itu bukan lagi tentang cinta segitiga, tetapi tentang seorang figur yang berdiri di antara dua situasi yang berbeda, elite dan mereka yang memilih jalan berbeda.

Fenomena duet Rian d’Masiv dan Anies Baswedan kiranya memang menarik dilihat bukan sekadar trivia panggung konser. Mungkin saja, pertanda dari dinamika yang lebih dalam dalam politik Indonesia kontemporer mengenai pertarungan narasi, kooptasi budaya, dan resistensi simbolik terhadap dominasi kekuasaan.

Ketika musisi dan politisi makin sering bertukar peran, maka penting untuk membaca siapa yang ikut dalam “kalian”, siapa yang memilih berada di luar, dan siapa yang masih menimbang jalannya sendiri.

Dalam konteks itu, duet ini adalah politik diam, politik yang berbicara tanpa perlu berorasi. Karena mungkin, pada akhirnya, kekuasaan tak harus selalu diraih melalui jabatan, tetapi bisa juga melalui lirik, harmoni, dan jeda.

Rian d’Masiv dan Anies Baswedan, mungkin kini sedang di antara kalian, dan mungkin juga sedang membaca ulang peran dan tempat mereka di babak sejarah yang baru. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?