HomeHeadlinePuan “Berdarah-darah” Demi Ganjar?

Puan “Berdarah-darah” Demi Ganjar?

Kecil Besar

Inisiasi safari politik Ketua DPP PDIP Puan Maharani ke PAN dan PPP agaknya akan berakhir dengan keputusan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) di 2024. Itu kiranya sekaligus berpeluang meleburkan PDIP ke Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari dua parpol tersebut plus Partai Golkar. Mengapa demikian?


PinterPolitik.com

Ketua DPP PDIP Puan Maharani menginisiasi safari politik lanjutannya ke PAN dan PPP. Menariknya, suara di akar rumput kedua partai politik (parpol) itu sebelumnya diketahui memiliki sentimen positif pada Ganjar Pranowo sebagai capres 2024.

Ketua Umum (Ketum) Zulkifli Hasan dan Pelaksana tugas (Plt.) Ketua Umum PPP M. Mardiono menjadi dua elite yang akan ditemui putri Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Meski mengaku pertemuan itu belum dijadwalkan kapan akan berlangsung, Puan secara personal menghendaki agar kedua parpol itu menjadi target sowan politiknya jelang kontestasi elektoral 2024 mendatang.

“Saya nantinya akan segera menjadwalkan untuk bertemu dengan Ketua Umum PPP dan Ketua Umum PAN,” begitu kata Puan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta kemarin lusa.

Sosok yang juga Ketua DPR RI itu menambahkan, komunikasi antarparpol akan terus berlangsung untuk sama-sama menyatukan pikiran dan hal-hal yang bisa dilakukan untuk membangun bangsa dan negara.

Sejauh ini, Puan diketahui telah menemui sejumlah ketum parpol, antara lain Ketum Partai NasDem Surya Paloh, Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

image 20

Safari politiknya sendiri merupakan mandat langsung dari sang Ibu sekaligus Ketum PDIP Megawati yang mana jamak dinilai sengaja diberikan demi rengkuhan pengalaman Puan.

Kembali, suara di akar rumput yang telah berkembang baik di level Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN maupun PPP, menghendaki nama Ganjar Pranowo sebagai capres.

Padahal, PAN dan PPP berada di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama dengan Golkar, yang mana sejauh ini masih bersikukuh mengusung Airlangga sebagai kandidat RI-1. Sementara itu, PDIP pun masih berkeinginan mengusung Puan sebagai capres.

Oleh karena itu, tampaknya terdapat benang merah yang tersembunyi di balik rencana safari politik Puan ke PAN dan PPP serta memantik pertanyaan menarik, yakni mengapa Puan menginisiasi pertemuan itu? Serta apa makna bagi Puan dan PDIP serta kemungkinan eksistensi benang merah dengan Ganjar dan KIB?

Minimal Puan Tampak “Berdarah”?

Selain melaksanakan mandat sang ibunda, Puan kiranya juga melakukan inisiasi safari politik jelang Pemilu 2024 karena menyadari dirinya membutuhkan impresi positif bagi internal PDIP.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Puan tampaknya mengimplementasikan salah satu perspektif dari teori permainan atau game theory di balik safari politiknya. Dalam konteks ini, dia kemungkinan memandang situasi dan posisi politiknya dari sudut pandang positive sum.

Hasil positif-sum terjadi dalam kasus bargain distributif di mana kepentingan yang berbeda dinegosiasikan sehingga kebutuhan setiap orang terpenuhi.

Puan yang mungkin sadar kalah elektabilitas dari Ganjar dalam menyongsong Pilpres 2024, mungkin mencoba memaksimalkan impresi maksimal demi PDIP. Tidak lain demi pertimbangan logis untuk paling tidak tampak berjuang bagi PDIP menuju 2024. Mengapa demikian?

image 19

Satu yang kiranya mendesak saat ini bagi PDIP adalah regenerasi kepemimpinan. Untuk meneruskan estafet dari Megawati, Puan boleh jadi membutuhkan legitimasi kepemimpinan di PDIP melalui perjuangan safari politiknya yang “berdarah-darah”.

Dikatakan “berdarah” karena moncernya karier politik Puan selama ini seolah tampak hanya disebabkan faktor privilege atau keistimewaan sebagai trah Soekarno maupun trah Megawati.

Oleh karena itu, pengorbanannya dengan turun langsung menyambangi parpol seperti PAN dan PPP bisa saja dilakukan bukan untuk kepentingan pencapresan, tetapi mungkin agar demi terlihat memberikan kontribusi politik konkret bagi PDIP. Sekali lagi, demi legitimasi politik andai nanti Megawati purna dari jabatan Ketum PDIP.

Puan, mau tidak mau memang di hadapkan pada situasi di mana dirinya harus berperan seperti Megawati.

William Liddle dan Saiful Mujani dalam Party Identity and Political Leaders menyebutkan pemimpin parpol di indonesia lekat dengan dua karakter, yakni identitas partai atau party identity dan sosialisasi politik atau political socialization.

Megawati sendiri menjadi salah satu aktor yang menyebabkan publikasi Liddle dan Mujani eksis. Kini, dengan telah terpenuhinya identitas partai karena merupakan trah Soekarno plus trah Megawati, praktis Puan tinggal memenuhi karakteristik aktif dalam sosialisasi politik.

Di sisi lain, jika Puan telah menganggap “tabungan” reputasi dan legitimasi sebagai Ketum PDIP lebih penting dibanding capres, Ganjar kiranya juga akan menang dalam sebuah positive sum game.

Dengan keunggulan elektabilitasnya, Puan bisa saja berpeluh keringat melakukan safari politik demi membuka jalan bagi sang Gubernur Jawa Tengah itu maju sebagai kandidat RI-1, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Inisiatif Puan dengan menyambangi PAN dan PPP kiranya juga memiliki benang merah dengan konteks kepentingan PDIP, Ganjar, dan KIB. Bagaiamana itu bisa terjadi?

image 18

PDIP-KIB Duet Maut?

Sebelumnya, akar rumput PAN dan PPP punya sentimen positif yang sama terhadap Ganjar – yang notabene kader PDIP – sebagai capres.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Tercatat ada duet DPW dua parpol itu, yakni di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang secara terbuka mendukung Ganjar. Sementara itu, gabungan kader dua parpol di wilayah lain seperti Medan, Lampung, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan juga memberikan support terbuka serupa.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga kemudian menganalisis tren dukungan itu dengan mengatakan telah terjadi penggalangan dari bawah di internal PAN dan PPP untuk menyokong Ganjar sebagai bakal capres.

Meskipun KIB yang dipimpin Partai Golkar masih bersikukuh mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres, pada kesempatan berbeda, Ketua DPP PAN Bima Arya menyebut koalisinya masih menimbang dengan sangat serius sosok Ganjar.

Bima pun tak menampik bahwa terdapat beberapa DPW dari PAN dan PPP yang sudah menyebut nama Ganjar secara resmi.

Saat diamati dengan saksama, KIB pun kiranya memang “perahu” yang tepat bagi Ganjar untuk maju sebagai capres. Mengenai hal ini, Jamiluddin selaras dengan dugaan selama ini bahwa KIB merupakan koalisi bentukan Istana dengan ciri khas utama yang selalu digaungkan, yaitu melanjutkan visi-misi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Oleh karena itu, eksistensi KIB beserta dinamikanya selama ini (termasuk ambisi mengusung Airlangga meski elektabilitas rendah) bisa jadi dibentuk sebagai drama manuver politik.

Tidak lain, salah satu probabilitas akhirnya adalah korelasi dengan finishing yang seolah diusahakan dengan susah payah oleh sosok Puan untuk menyatukan PDIP dan KIB, plus, impresi “berdarah” dan mengalah demi Ganjar dan kepentingan bersama.

Di titik ini, Puan kiranya dapat memerankan peran sebagai  limbuk pewayangan sebagaimana Megawati mendapat predikat itu oleh Shahla Haeri melalui buku berjudul Unforgettable Queens of Islam.

Dalam pustaka yang diterbitkan Cambridge University Press itu, Haeri membahas ketokohan Megawati dalam satu bab khusus mengenai progres kekuasaan dan posisi politiknya.

Limbuk digambarkan Haeri sebagai karakter yang ceplas-ceplos, berdaya nalar kurang, namun bisa menjadi jalan penghubung ke banyak pihak.

Seiring waktu, sosok limbuk, dalam hal ini Megawati, kemudian disebutnya bertransformasi menjadi seorang ratu yang begitu penting dalam menentukan arah perpolitikan di Indonesia.

Bukan tidak mungkin, Puan akan memainkan peran serupa mengingat gejala-gejala dan korelasi dengan dinamika politik kekinian cenderung mengarah pada hal tersebut.

Akan tetapi, kemungkinan apapun muara sesungguhnya dari safari politik Puan masih akan cukup menarik untuk dinantikan. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.