HomeHeadlinePrabowo-Ganjar dan Politik Mimikri Jokowi

Prabowo-Ganjar dan Politik Mimikri Jokowi

Kecil Besar

Belakangan ini bacapres Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo semakin diidentikkan dengan citra Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mengapa hal ini bisa terjadi?


PinterPolitik.com

Dalam dunia anime Naruto, beberapa ninja diketahui memiliki bakat langka yang tidak dimiliki oleh banyak ninja lainnya. Salah satu bakat yang sangat jarang dimiliki adalah kemampuan untuk mengaktifkan Sharingan, suatu jutsu mata (dojutsu) khusus yang bisa membuat penggunanya meniru jurus yang dilihatnya dengan kemiripan yang nyaris sempurna.

Sayangnya, Sharingan hanya dapat diaktifkan oleh ninja yang merupakan keturunan dari klan Uchiha, sebuah klan yang memiliki sejarah panjang dalam semesta Naruto. 

Akan tetapi, ternyata hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi ninja lain untuk mendapatkan kekuatan Sharingan, karena dengan melakukan transplantasi mata milik orang keturunan Uchiha, ninja yang bukan bagian dari klan Uchiha pun bisa mengaktifkan Sharingan, meski memang memerlukan usaha yang lebih keras. Salah satu karakter paling terkenal yang melakukan ini adalah Kakashi Hatake, guru Naruto sendiri.

Namun, sepertinya kemampuan untuk meniru โ€œjurusโ€ seseorang melalui kekuatan ala Sharingan tidak hanya berlaku di dunia Naruto saja. Dalam perpolitikan dunia nyata, tampaknya bakal calon presiden (bacapres) dari PDIP, Ganjar Pranowo, dan bacapres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto pun tengah melakukan hal yang serupa terhadap gaya politik Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pertama adalah Prabowo. Ketika Pemilihan Presiden 2019 (Pilpres 2019) lalu, Prabowo dikenal sebagai orang yang berapi-api, akan tetapi Prabowo sekarang terlihat seperti sosok yang jauh lebih santai dan humoris. Banyak orang kemudian melihat hal ini sebagai indikasi bahwa Prabowo mungkin sedang menyerupai gaya komunikasi publik Jokowi yang memang dikenal sangat santai dan tidak menggebu-gebu.

Hal selanjutnya dari Prabowo yang perlu kita jadikan sebagai catatan penting adalah penamaan koalisi pendukungnya yang diberi nama Koalisi Indonesia Maju, nama yang juga digunakan koalisi Jokowi ketika Pilpres 2019. Menarik, bukan?

Pengkopian ala Sharingan pun tampaknya mulai dilakukan Ganjar. Pada Juni lalu misalnya Ganjar secara terang-terangan mengaku gaya komunikasinya dengan publik meniru komunikasi Jokowi yang luwes dan nyaman dengan rakyat. Tidak hanya itu, gaya blusukan Ganjar ke pasar-pasar seluruh Indonesia pun kerap diartikan sebagai upayanya dalam melakukan โ€œjurusโ€ yang sama seperti yang pernah dilakukan Jokowi pada Pilpres-Pilpres silam.

Menarik untuk kemudian kita pertanyakan, mengapa Ganjar dan Prabowo tampak semakin mengikuti dan bahkan menyerupai gaya politik Jokowi?

image

Politik dan Isomorfisme Mimetik

Ketika sedang berjalan-jalan keliling kota, pernahkan kalian menyadari bahwa dalam beberapa tahun terakhir jumlah kafe-kafe di kota kalian semakin banyak? Well, kalau menurut survei pada tahun 2019 yang pernah dilakukan TOFFIN -sebuah perusahaan penyedia solusi bisnis- dalam jangka waktu tiga tahun saja jumlah kafe di Indonesia memang bertambah setidaknya sebanyak 2.000 toko.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Fenomena ini sesungguhnya merupakan manifestasi dari sebuah teori dalam dunia ekonomi dan bisnis yang disebut isomorfisme mimetik. Teori ini menjelaskan kecenderungan suatu perusahaan untuk meniru struktur perusahaan lain yang telah terbukti sukses karena yakin bahwa struktur organisasi tersebut bisa memberikan keuntungan yang sama jika diterapkannya. 

Secara sederhana, jika kita melihat bagaimana kafe-kafe semakin banyak muncul di Indonesia, konsep isomorfisme mimetik dapat menjelaskan bahwa di balik lonjakan kafe tersebut, para pebisnis sepertinya berpandangan bahwa bisnis kafe modern yang juga nyaman untuk bercengkrama adalah apa yang diminati orang-orang saat ini. Karena ide ini terlihat berhasil, banyak orang kemudian mencoba menirunya dengan membuka kafe mereka sendiri.

Namun, teori itu tampaknya tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis saja. Kalau kita membawa pandangan ini kepada fenomena Ganjar dan Prabowo yang belakangan tampak semakin mengikuti gaya politik Jokowi, bisa jadi kedua bacapres tersebut pun tengah melakukan strategi isomorfisme mimetik. Karena Jokowi terbukti bisa memenangkan dua pemilu dengan gaya politiknya yang khas, tidak heran sepertinya bila Ganjar dan Prabowo pun berharap formula yang sama bisa memberikan mereka kemenangan ketika Pilpres 2024 nanti.

Hal ini bisa sangat mungkin terjadi karena hal-hal fundamental dalam branding politik sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pemasaran sebuah produk. Jika publik memang sudah nyaman dengan model produk tertentu, maka mereka secara otomatis akan mudah dipersuasi untuk mencintai produk yang berbeda, tetapi memiliki fitur yang sama dengan produk yang selama ini mereka cintai. 

Menariknya, kalau kita kembali mengacu pada teori isomorfisme mimetik dari perspektif bisnis, bisa jadi dorongan untuk meniru gaya politik Jokowi sebetulnya bukanlah pilihan, tetapi keharusan untuk mengikuti tren preferensi โ€œpasar politikโ€ Indonesia. Sederhananya, Prabowo dan Ganjar sesungguhnya bisa saja menerapkan gaya politiknya sendiri dalam Pilpres 2024, tetapi untuk meminimalisir ketidakpastian, cara paling aman bagi mereka adalah untuk mengikuti gaya Jokowi.

Kalau memang benar demikian, maka di sisi lain kita bisa mengatakan bacapres Pilpres 2024 yang lainnya, yakni Anies Bawedan, sesungguhnya telah mengambil taruhan yang berisiko sangat besar dengan mengambil citra sebagai antitesa Jokowi. Kalau mayoritas publik selama ini ternyata tidak suka dengan Jokowi, hal yang dilakukan Anies bisa saja tepat, tapi kalau sebaliknya, well, mimikri yang dilakukan Ganjar dan Prabowo adalah hal yang paling rasional.

Baca juga :  Politik Lucky Number Prabowo

Namun, gaya komunikasi publik Jokowi sepertinya bukan satu-satunya proses mimikri yang tampaknya tengah dilakukan Ganjar dan Prabowo. Lantas, apakah itu?

image 1

Afiliasi Jokowi = Kemenangan?

Satu hal lain yang bisa sangat menarik perhatian konsumen terhadap suatu produk adalah afiliasi. Sebagai contoh, kita bisa tengok brand fesyen Erigo. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa brand yang jadi kebanggaan Indonesia ini sebetulnya bermulai pada tahun 2013. Akan tetapi, Erigo baru viral dalam beberapa tahun terakhir karena terafiliasi beberapa entitas besar, salah satunya adalah girl group JKT48.

Logika endorsement yang demikian jelas sangat teraplikasi dalam dunia politik. Afiliasi tidak hanya membuat seorang politisi tampak lebih populer, tetapi juga mampu memberikan efek โ€œtransmigrasi pendukungโ€ bila politisi tersebut mampu memastikan kolaboratornya sangat mempercayai dirinya.

Dan jujur saja, hal ini tampaknya pun sedang dikejar oleh Ganjar dan Prabowo. Contohnya, kedua bacapres tersebut belakangan ini diketahui memiliki kedekatan dengan Gibran Rakabuming Putra, anak sulung Jokowi. 

Meskipun kerap disebut sebagai silaturahmi biasa, kedekatan Ganjar dan Prabowo terhadap Gibran mampu memberikan sinyal yang cukup kuat pada para pendukung Jokowi bahwa anak dari politisi favorit mulai berafiliasi pada salah satu bacapres. Tentunya, hal ini bisa digodok menjadi narasi yang menyebutkan bahwa Jokowi, melalui Gibran, akan memberikan dukungan pada Prabowo atau Ganjar.

Terkhusus Prabowo, hal terbaru yang membuat kita bisa berasumsi bahwa dirinya tengah berusaha mengambil citra ke-Jokowi-an melalui afiliasi โ€œbrand politikโ€ adalah dengan pemilihan nama Koalisi Indonesia Maju. Walaupun hingga saat ini tidak bisa dipastikan bahwa koalisi ini memiliki ruh yang serupa dengan koalisi Jokowi pada Pilpres 2019 silam, hanya dengan kesamaan nama saja para pendukung Jokowi bisa saja akan merasa adanya penguatan citra Jokowi dalam diri Prabowo.

Pada akhirnya, upaya mimikri dan kapitalisasi afiliasi tersebut semakin membuktikan bahwa hingga saat ini para elite politik masih melihat sosok Jokowi sebagai orang yang sangat penting untuk didekati, dan bahkan ditiru.

Kalau memang Ganjar dan Prabowo benar melakukan dugaan-dugaan di atas, well, keputusan akhirnya akan ditentukan pada seberapa kuat kedua tokoh tersebut melakukan jurus Sharingannya. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing