HomeHeadlinePrabowo, ‘Erdoğan’ Versi Asia?

Prabowo, ‘Erdoğan’ Versi Asia?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Calon presiden (capres) nomor urut dua, Prabowo Subianto, mengatakan ingin membawa Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang memimpin negara-negara Selatan di panggung dunia. Mungkinkah Prabowo ingin menjadi “Erdoğan” versi Asia?


PinterPolitik.com

“Because I believe if a leader hides behind a rock, then the people will hide behind a mountain” – Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki

Ada sebuah video menarik yang tersebar di platform-platform media sosial (medsos), khususnya TikTok. Video ini diunggah oleh akun bernama @patamorghana. 

Video yang diunggah pada tahun 2021 silam itu kini telah disukai oleh sekitar 27,1K orang. Video itu juga mendapatkan banyak komentar positif terhadap sosok yang ada di dalamnya.

Sosok itu adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Dalam video itu, sosok Erdoğan disebut sebagai pemimpin Islam seluruh dunia.

Sebenarnya, bukan dalam video ini saja sosok Erdoğan disebut-sebut sebagai pemimpin yang mewakili umat Islam. Dalam banyak video, meme, cuitan, hingga unggahan di Facebook, Erdoğan selalu dinilai positif – yakni sebagai sosok yang pemberani – di masyarakat Indonesia. 

Boleh jadi, ini karena sejumlah sikap dan pidato yang ditunjukkan oleh Erdoğan terhadap negara-negara Barat. Soal konflik Gaza yang sekarang tengah membara, misalnya, Erdoğan menuding Barat hanya diam saja terhadap kekekrasan yang dilakukan oleh Israel.

Tidak hanya soal Israel, Erdoğan pada tahun 2022 silam juga mengkritik negara-negara Barat soal konflik Ukraina-Rusia. Menurutnya, negara-negara Barat justru membuat situasi konflik memburuk.

Sikap berani Erdoğan terhadap negara-negara Barat ini membuat sebagian besar publik Indonesia terkesima. Hal inipun pernah diulas dalam salah satu video PinterPolitik.com yang berjudul Kenapa Erdogan Begitu “Bad Boy”?.

Menariknya, narasi bernada “menantang” terhadap negara-negara asing seperti ini juga turut dilontarkan oleh calon presiden (capres) nomor urut dua, Prabowo Subianto. Dalam wawancaranya dengan Newsweek, misalnya, Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia perlu menjadi negara pemimpin bagi negara-negara Selatan – atau juga disebut sebagai Global South.

Lantas, mengapa Prabowo menilai bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin bagi Global South? Mungkinkah Prabowo ingin menjadi ‘Erdoğan’ versi Asia?

Belajar dari Erdoğan dan Turki

Apa yang divisikan oleh Prabowo sebenarnya bukan tanpa alasan. Dalam politik internasional, Indonesia sendiri kerap dikategorikan pada kategori middle power (kekuatan tengah) dalam struktur politik internasional.

Meski dulu merupakan reruntuhan Kekaisaran Utsmani – atau Ottoman, Republik Turki ini kembali bangkit sebagai kekuatan tengah. Posisi sebagai kekuatan tengah inilah yang dijadikan landasan oleh Turki dalam politik luar negerinya. 

Mengacu ke tulisan Buğra Süsler dalam tulisannya yang berjudul Turkey: An Emerging Middle Power in a Changing World?, politik luar negeri Turki tengah menunjukkan ciri-ciri dari sebuah negara kekuatan tengah.

Salah satunya dapat dilihat dari bagaimana negara tersebut berkeinginan besar untuk berpartisipasi di panggung dunia – setidaknya untuk memiliki peran utama di kawasan. Kerap kali, kekuatan tengah adalah negara-negara yang berstatus kekuatan kawasan (regional power).

Ini terlihat dari kebijakan luar negeri di bawah pemerintahan Erdoğan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Turki semakin terlibat dalam politik kawasan Timur Tengah – di mana Turki memosisikan diri sebagai negara yang memiliki sejarah dan budaya yang erat dengan kawasan tersebut.

Tidak hanya itu, Turki juga mencitrakan dirinya sebagai negara mediator. Dalam banyak kesempatan, Turki mengambil peran dalam inisiatif-inisiatif mediasi dengan negara-negara yang sedang bersengketa atau berkonflik.

Bahkan, tidak hanya di kawasan sendiri, Turki juga menjalin hubungan antar-kawasan dengan sejumlah negara lain. Salah satunya adalah melalui inisiatid MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia).

Kesadaran yang mirip sebenarnya juga ada pada Indonesia. Negara kepulauan Asia Tenggara ini juga memiliki keinginan untuk berpartisipasi lebih besar dalam menentukan politik kawasan.

Indonesia sebagai negara yang besar di kawasan Asia Tenggara sebenarnya juga tengah memainkan peran besar – seperti melalui organisasi kawasan Association of South-East Asian Nations (ASEAN). Sejumlah inisiatif Indonesia juga tengah dilakukan di kawasan ini.

Bila benar Indonesia – seperti Turki – juga merupakan kekuatan tengah, visi apa yang tengah disiapkan oleh Prabowo untuk politik luar negeri Indonesia? Mengapa Prabowo bisa saja dijuluki ‘Erdoğan’ versi Asia?

Prabowo, the Asian ‘Erdoğan’?

Apa yang dilakukan Turki sebenarnya adalah dengan berupaya menjadi kekuatan regional. Dengan menjadi negara dominan di kawasannya, Turki bisa memaksimalkan sphere of influence (lingkup pengaruh) mereka. 

Ini sejalan dengan penjelasan John J. Mearsheimer dalam bukunya yang berjudul The Tragedy of Great Power Politics. Mearsheimer menjelaskan bahwa setiap negara merasa tidak aman dalam anarki internasional – ketiadaan kekuatan otoritas yang menjamin keamanan – sehingga mereka akan berusaha untuk menjadi hegemon, setidaknya di kawasannya sendiri.

Inilah mengapa Indonesia menjalankan peran yang lebih asertif dalam politik kawasan – khususnya ASEAN. Krisis politik di Myanmar, misalnya, membuat Indonesia mengambil peran kunci untuk menjalankan sejumlah inisiatif bersama negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Namun, itu saja tidak cukup. Prabowo memiliki visi yang lebih luas.

Dalam wawancaranya bersama Newsweek, Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar dengan sumber-sumber kekuatan yang dimilikinya. Beberapa di antaranya adalah dengan menjadi salah satu pemimpin (champion) bagi negara-negara Selatan yang selama ini terpinggirkan dalam pengambilan keputusan-keputusan dunia.

Tidak hanya itu, Prabowo juga ingin Indonesia bisa menjadi jembatan antara negara-negara Selatan dan negara-negara Utara. Salah satu fokusnya adalah membawa isu reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) yang didominasi oleh negara-negara tertentu saja.

Bukan tidak mungkin, bila Prabowo berhasil memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 nanti, politik luar negeri Indonesia akan menjadi lebih asertif. Ini bisa jadi akan membuat Indonesia lebih otonomi strategis – keleluasaan dalam menentukan kebijakan luar negeri – sekaligus memiliki “lawan” yang memiliki kepentingan berbeda.

Lantas, mungkinkah Prabowo akan menjalankan politik luar negeri layaknya Erdoğan di Turki? Well, itu kembali lagi pada siapa saja yang akan memberikan nasihat kebijakan luar negeri pada Prabowo – dan juga bergantung pada siapa nantinya yang akan menang di Pilpres 2024. (A43)


Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot
spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?