HomeHeadlinePrabowo dan “Kebangkitan Majapahit”

Prabowo dan “Kebangkitan Majapahit”

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Narasi sejarah kejayaan Nusantara di masa lampau bukan tidak mungkin dapat menjadi landasan bagi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun kebanggaan nasional dan memperkuat posisi Indonesia di dunia.


PinterPolitik.com

“I am Daenerys Stormborn of House Targaryen, of the blood of Old Valyeria. I am the dragon’s daughter, and I swear to you that those who would harm you will die screaming.” – Daenerys Targaryen, Game of Thrones (2011-2019)

Pada masa-masa kejayaan kerajaan di Nusantara, Indonesia bagaikan lahan penuh cerita drama bangsawan, serupa dengan kisah dalam Game of Thrones. Masing-masing kerajaan memiliki kekuatan, pengaruh, dan gaya kepemimpinannya sendiri, menciptakan hubungan yang rumit antara mereka, baik melalui persekutuan maupun perselisihan yang berujung peperangan.

Kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram tumbuh sebagai simbol kekuatan Nusantara. Setiap kerajaan menampilkan kemegahan dalam bentuk arsitektur megah dan pakaian berhiaskan emas, memancarkan aura kejayaan yang tak tertandingi di mata kerajaan tetangga dan dunia luar.

Keluarga bangsawan di setiap wilayah hidup dalam intrik politik yang rumit, kadang saling membantu, kadang pula saling menghancurkan. Perkawinan antar kerajaan seringkali menjadi alat untuk memperkuat aliansi atau menyingkirkan musuh, menambah lapisan kompleks dalam dinamika kekuasaan yang begitu beragam.

Di istana-istana, para raja dan bangsawan bukan hanya dikenal karena kekayaan atau wilayah kekuasaan mereka, tetapi juga karena kecerdasan mereka dalam mengelola konflik. Mereka belajar dari pengalaman dan sejarah, memahami bahwa kejayaan bukanlah hal yang bisa dimiliki selamanya, namun harus dipertahankan dengan bijaksana.

Pada puncaknya, masa-masa kerajaan di Indonesia dipenuhi dengan simbol-simbol kejayaan dan kekuasaan yang berkilauan, tetapi juga penuh dengan peringatan bahwa kejayaan bisa runtuh kapan saja jika tidak dijaga dengan baik. 

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Maka, apa makna sebenarnya dari kejayaan masa lalu ini? Mengapa ini penting bagi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang baru Oktober kemarin dimulai?

Majapahit, Old Valyria versi Indonesia?

Daenerys Targaryen dalam serial Game of Thrones sering kali menyebut kejayaan Old Valyria sebagai sumber legitimasinya. Dengan menggambarkan dirinya sebagai keturunan terakhir dari peradaban besar yang telah musnah, Daenerys berharap memperoleh dukungan untuk merebut takhta Westeros.

Narasi sejarah memang memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi legitimasi kepemimpinan, sebagaimana dijelaskan dalam buku Narrative Power karya Linus Hagström dan Karl Gustafsson. Mereka menekankan bahwa seorang pemimpin dapat membentuk identitas bangsa melalui narasi kejayaan masa lalu, memperkuat rasa kebanggaan dan persatuan dalam masyarakatnya.

Contoh nyata lain terlihat dalam cara Presiden Xi Jinping menggunakan kisah Middle Kingdom sebagai simbol kebangkitan Tiongkok di era modern. Dengan menghidupkan kembali citra Tiongkok sebagai pusat peradaban dunia, Xi berhasil menanamkan visi “impian Tiongkok” yang menjadi landasan untuk kebijakan domestik dan luar negeri Tiongkok.

Penggunaan narasi ini penting karena menghubungkan masa lalu yang gemilang dengan masa kini, menciptakan alur sejarah yang memberi legitimasi pada kepemimpinan modern. Hal ini menciptakan pemahaman bahwa kebangkitan negara merupakan tugas mulia, bukan sekadar politik kekuasaan.

Bagi Prabowo Subianto, narasi kejayaan masa lalu juga bisa menjadi alat yang sangat berarti untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin bangsa. Lantas, apa artinya ini bagi Prabowo? Mengapa Prabowo juga bisa jadi membutuhkan kekuatan narasi juga?

Prabowo dan “Kebangkitan” Majapahit

Pada masa awal kemerdekaan, Soekarno dan Mohammad Yamin menggunakan narasi kejayaan Majapahit sebagai dasar identitas nasional Indonesia. Mereka menggambarkan Majapahit sebagai simbol persatuan dan kekuatan, yang menjadi tulang punggung bagi kebijakan anti-imperialisme ala Soekarno.

Baca juga :  Lapar yang Tidak Ikut Libur

Saat ini, Prabowo Subianto juga memanfaatkan kekuatan narasi sejarah dengan sering menyebutkan bahwa Nusantara adalah entitas besar di masa kejayaannya dulu. Dalam beberapa pidatonya, Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak seharusnya tunduk begitu saja kepada kepentingan asing, mengingat warisan kejayaan yang dimiliki bangsa.

Seperti yang dijelaskan Hagström dan Gustafsson dalam bukunya, narasi sejarah memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan legitimasi seorang pemimpin. Mereka menjelaskan bahwa narasi yang kuat dapat memperkuat rasa kebanggaan dan persatuan dalam masyarakat, sekaligus memberikan dasar yang kokoh untuk kebijakan dan tindakan politik.

Dengan mengadopsi pendekatan ini, Prabowo dapat membangun identitas nasional yang kuat berdasarkan kejayaan masa lalu Indonesia. Penggunaan narasi Majapahit tidak hanya menginspirasi rakyat, tetapi juga memberikan legitimasi pada kebijakan anti-imperialisme yang diusungnya, memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.

Selain itu, narasi ini dapat digunakan untuk memperkuat kebijakan dalam negeri yang berfokus pada kedaulatan dan pembangunan berkelanjutan. Dengan menyoroti masa lalu yang gemilang, Prabowo dapat mendorong masyarakat untuk bekerja bersama dalam mencapai visi kebangkitan nasional.

Kesimpulannya, Prabowo Subianto memiliki peluang besar untuk menggunakan kekuatan narasi sejarah guna mengembalikan “kejayaan” Majapahit ke Indonesia modern. Dengan memanfaatkan identitas dan kebanggaan masa lalu, Prabowo dapat memperkuat persatuan bangsa dan mendorong Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. Bukan begitu? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?