HomeNalar PolitikPrabowo Berharap Gatot Merapat?

Prabowo Berharap Gatot Merapat?

Kecil Besar

Menyoal pencatutan foto purnawirawan TNI Gatot Nurmantyo di baliho kampanye, wajar bagi kubu Prabowo masih mengharapkan dukungan sang jenderal. Bisa jadi, Gatot adalah harapan terakhir konsolidasi militer di kubu Prabowo


PinterPolitik.com

[dropcap]K[/dropcap]eseriusan kubu oposisi menghadapi Pilpres 2019 nampaknya makin terlihat. Setelah berencana menggoyang kandang banteng dengan cara memindahkan posko pemenangan di wilayah Solo, Jawa Tengah, kini kejutan lain muncul di kota asal presiden Jokowi tersebut.

Dua hari ini, pemberitaan media dihebohkan dengan penolakan pencatutan foto Gatot Nurmantyo di alat peraga kampanye (APK) milik pasangan calon nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno. Baliho berukuran besar tersebut dipasang di sekitaran posko pemenangan Prabowo-Sandiaga di kota Solo.

Dengan insiden tersebut, sang jenderal menolak dengan tegas bahwa  foto dirinya  diikutsertakan dalam baliho tersebut.

Dengan berdalih tidak tahu menahu soal hal tersebut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga menanggapi hal tersebut wajar dan menyebut banyak relawan Prabowo-Sandi yang mengidolakan sosok mantan Panglima TNI tersebut.

Sebenarnya memang bukan pertama kali sosok sang jenderal diklaim memberikan dukungan ke kubu oposisi. Meskipun begitu, menarik melihat sepak terjang sang jenderal menjelang Pilpres 2019.

Lalu mungkinkah ada makna secara khusus dari pencatutan foto Gatot Nurmantyo? Mungkinkah hal tersebut berkorelasi dengan upaya tim BPN menggoyang kandang banteng?

Gatot Nurmantyo (masih) Menjadi Kunci?

Menjelang 3 bulan Pilpres 2019 berlangsung, nampaknya pesona Gatot Nurmantyo masih menjadi rebutan bagi para politisi yang akan bertarung merebutkan kursi RI satu.

Dalam konteks ini,  jejaring Gatot sebagai jenderal militer disebut paling kuat, utamanya di Angkatan Darat (AD). Jejaring sang jenderal di TNI AD inilah yang akan menjadi counter-attack yang cukup baik untuk melawan jejaring militer yang telah dikuasai oleh kubu petahana jika berhasil dimanfaatkan oleh Prabowo.

Strategi Prabowo-Sandi tersebut secara teoritis selaras dengan pendapat Steve Corbet dan Michael J. Davidson dalam sebuah tulisannya yang menyebutkan bahwa pensiunan militer punya posisi politik yang masih kuat, termasuk mendukung keterpilihan tokoh tertentu dalam Pemilu.

Secara spesifik, bargaining politik sosok Gatot memang tak bisa dianggap remeh. Selain jejaringnya di militer, ia juga memiliki modal sosial yang unggul di kalangan kelompok-kelompok Islam, utamanya dari golongan Islam konservatif.

Tak hanya memiliki jejaring di dalam militer dan kelompok Islam, ia juga memiliki jejaring dengan dunia usaha. Dalam wawancara dengan majalah Tempo misalnya, ia mengakui bahwa ia dekat dengan pengusaha Tomy Winata.

Berdasarkan realitas tersebut, wajar jika ada pendukung Prabowo-Sandi yang berharap mantan Pangkostrad tersebut untuk mendukung pihaknya menjelang Pilpres 2019. Sehingga, mengambil keuntungan dari sosok sang jenderal dengan mencatut namanya di baliho Prabowo-Sandi di Solo merupakan hal yang sangat wajar.

Namun hal yang menjadi menarik adalah mengapa foto Gatot dicatut di kandang banteng? Mungkinkah ada kait kelindan antara tuah Gatot dengan pemenangan suara Prabowo-Sandi di Jawa Tengah?

Merebut Jawa Tengah

Mengapa Solo? Pertanyaan tersebut mungkin yang patut keluar dari banyak pihak terkait pencatutan foto sang jenderal.

Sebagai basis suara PDIP dan Jokowi, dinamika politik di Solo bisa saja menjadi titik balik suara Prabowo-Sandi di Jawa Tengah. Terlebih, baliho yang memampang foto Gatot berkaitan dengan peresmian markas pemenangan Prabowo-Sandi di kota tersebut.

Paling tidak, sosok Gatot bisa saja menjadi kekuatan pengimbang di wilayah Jawa Tengah bagi Prabowo Sandi mengingat bahwa Jawa Tengah juga merupakan lumbung suara terbesar ketiga di pulau Jawa. Bukan tidak mungkin sosok sang jenderal juga sebagai harapan terakhir yang dimiliki Prabowo-Sandi untuk membantunya menggoyang kandang banteng.

Gatot sendiri memang tergolong familiar dengan wilayah Jawa Tengah. Sang jenderal berasal dari Jawa Tengah di mana ia terlahir di Tegal. Selain itu, ayahnya adalah seorang pejuang kemerdekaan asal Solo dan ibunya berasal dari Cilacap.

Memang, selama berkarier di militer, ia tidak pernah menjabat sebagai Pangdam Diponegoro, komando teritorial yang melingkupi wilayah Jateng. Meski demikian, ia pernah menjadi Gubernur Akmil yang berkedudukan di Magelang sehingga ia sempat mengalami karier ketentaraan di provinsi Jawa Tengah.

Di luar itu, secara survei elektabilitas yang diselenggarakan oleh Charta Politika beberapa waktu menjelang pemilihan kandidat Cawapres, nama Gatot melambung bersaing dengan sosok Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

Ia memperoleh popularitas paling tinggi di provinsi yang ber ibukota di Semarang tersebut yakni sebesar 7,2% mengalahkan nama Mahfud MD dan Anies Baswedan jika dipasangkan dengan Jokowi.  Sementara itu, ia memperoleh popularitas 3,5% jika berpasangan dengan Prabowo, mengalahkan popularitas AHY yang hanya 1,9%.

Pengaruh Gatot di Jawa Tengah juga sempat diutarakan oleh Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN), yang notabene merupakan relawan pendukung Gatot, di mana penah menargetkan Jawa Tengah sebagai wilayah yang akan dimenangkan suaranya jika sang jenderal maju sebagai kandidat Capres.

Saking kuatnya sosok sang jenderal, Partai Demokrat bahkan pernah berniat mencalonkan sosok Gatot dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah 2018. Demokrat kala itu menjalin komunikasi dengan Golkar dan PPP.

Dari latar belakang tersebut, bukan hal mustahil jika memang pengaruh Gatot signifikan di Jawa Tengah.

Lalu bagaimana sebenarnya peluang koalisi Prabowo-Sandi untuk memenangkan dukungan Gatot Nurmantyo?

Jika melihat relasi Gatot dengan mantan perwira di kubu Prabowo-Sandiaga, juga komunikasi politik yang selama ini intens dilakukan kubu Prabowo terhadap sang jenderal,  nampaknya peluang tersebut akan lebih besar dibandingkan dengan pendekatan kubu petahana.  Mengingat bahwa rekam jejak hubungan Gatot dengan sang presiden petahan juga sempat diwarnai ketegangan.

Sebut saja hubungan Gatot dengan Demokrat yang telah berlangsung lama dan intens. Saat menjadi Presiden, Gatot adalah salah satu orang kepercayaan SBY di mana ia sempat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Bisa saja yang diharapkan oleh pihak oposisi dalam mengejar suara di Jawa Tengah adalah kolaborasi antara Demokrat dan Gatot Nurmantyo.

Kini, boleh jadi kekuatan utama kubu oposisi sesungguhnya berada di tangan Partai Demokrat. Partai berlambang mercy tersebut disebut menjadi pemain kunci dalam Pilkada Jateng 2018 ketika berkoalisi memenangkan Ganjar Pranowo menjadi Gubernur Jawa Tengah.

Meskipun Jawa Tengah menjadi basis suara PDIP, namun meningkatnya angka keterpilihan Sudirman Said di akhir-akhir menjelang hari pemilihan menunjukkan bahwa kerja koalisi pendukungnya tidak bisa dianggap remeh.

Jika pada waktu itu Demokrat memilih untuk mendukung  Sudirman Said, mungkin hasil yang berbeda akan terjadi, mengingat partai berlambang merci tersebut punya hampir 10 persen suara di Jateng.

Jika melihat faktor historis hubungan Gatot dan SBY, bisa jadi kunci dukungan Gatot dapat dimainkan oleh SBY sebagai sosok yang pernah memberikan peluang karier bagi Gatot di militer.

Mengingat bahwa ambisi Prabowo-Sandi cukup besar untuk memenangkan Jawa Tengah, mungkinkah segala cara akan dilakukan untuk memperoleh dukungan Gatot Nurmantyo? Mungkinkah Gatot akan segera mengungkapkan pilihan politiknya? (M39)

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ahmad Dhani, Paradoks Politisi Selebritis?

Prediksi tentang lolosnya beberapa artis ke Senayan memunculkan kembali skeptisme tentang kualifikasi yang mereka tawarkan sebagai representasi rakyat. Layakkah mereka menjadi anggota dewan? PinterPolitik.com Popularitas mungkin...

Prahara Prabowo dan Ijtima Ulama

Kedatangan Prabowo di forum Ijtima Ulama III sehari yang lalu menyisakan sejuta tanya tentang masa depan hubungan antara mantan Danjen Kopassus ini dengan kelompok...

Vietnam, Ilusi Poros Maritim Jokowi

Insiden penabrakan kapal Vietnam ke kapal TNI AL di perairan Natuna Utara menghidupkan kembali perdebatan tentang doktrin poros maritim yang selama ini menjadi kebijakan...